Saat Fania membuka mata dan mulai menyadari di mana ia berada, rasa gerah dan bau menyergap tubuh. Ia membaui tubuhnya yang berbau menjijikkan. Campuran antara alkohol yang menguar dan bekas muntahan menyelimuti tubuhnya yang berbalut pakaian tidur. Pakaian yang berbeda dengan yang terakhir kali ia ingat pernah ia pakai. Fania berada di kamar. Sendirian. Namun, semangkuk sup ayam dan secangkir teh chamomile yang masih mengeluarkan uap yang tersaji di atas nakas a menyorotkan sinar matahari dari luar yang membuat ruang kamar Fania tampak cerah dan anehnya tidak terasa menyesakkan seperti beberapa hari terakhir. Hal-hal tersebut menandakan bahwa ia sempat tidak sendirian di kamar ini. "s**t, kepala gue," erang Fania sesaat setelah menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dan berusaha untuk

