Dito terlebih dulu sampai di gedung apartemen Puspa. Setelah memarkirkan mobilnya di parkiran khusus pengunjung, Dito pun menunggu di lopbi, sambil mengobrol dengan satpam yang berjaga malam itu. Hampir jam setengah satu pagi saat taksi yang mengantarkan Fania dan Puspa tiba di depan lobi apartemen. Mengutip kata Puspa di telepon tadi, Fania tidak sadarkan diri. Benar-benar sudah sangat teler. Entah seberapa banyak alkohol yang masuk ke dalam tubuhnya. Dito dengan sigap menegambil alih memegangi Fania yang langsung jatuh ke dalam pelukannya dan matanya bersirobok dengan mata Puspa yang memandangnya dengan sengit. “Puas lo bikin Fania jadi kayak gini?” Puspa melontarka pertanyaan dengan sinis. Tak peduli Dito masih agak kerepotan karena harus menahan beban tubuh Fania dalam pelukan. “Sela

