Enam jam sebelumnya… Ada rasa sesak dan mendesak ingin bertemu ketika Dito mendengar suara Fania melalu sambungan telepon−yang terdengar gemas terhadap dirinya karena menghindar hampir semingguan penuh. Mendengar suara Fania, mendadak timbul begitu banyak hal yang ia ingin lakukan dengan Fania. Memeluknya, menciumnya, melakukan hal-hal yang menyenangkan di atas tempat tidur, atau sesederhana duduk berdempetan di atas sofa sambil menonton series Netflix bersama di akhir pekan, tanpa banyak bicara, hanya fokus menatap layar datar televisi di depan mereka. Namun, sejak minggu lalu, semua menjadi terasa juah dan mustahil. Untuk berhadapan langsung dengan Fania saja Dito merasa tidak sanggup melakukannya, apalagi berdekatan nyaris tanpa jarak, itu adalah hal yang Dito pikir tidak akan pern

