Setelah mengatur napas untuk yang kesekian kalinya dan mencoba untuk menenangkan debaran jantung yang menggila−Fania telah berkali-kali merutuki Dito dalam hati karena membuat dirinya merasa seperti ini−Fania perlahan melangkahkan kaki, melewati lorong-lorong rumah sakit yang cukup ramai, sempat berpapasan dengan keluarag para pasien, perawat yang lalu lalang, dan kemudian ia menghentikan langkah kakinya saat ia sampai di bagian resepsionis. “Selamat sore, Ibu. Ada yang bisa kami bantu?” sapa salah satu petugas yang duduk di balik meja resepsionis dengan nada dan senyum ramah. “Sore, Bu.” Fania balas tersenyum. Ia turut menggunakan panggilan ‘Ibu’ menyesuaikan panggilan yang disematkan untuknya. “Maaf, kalau boleh tahu, Dokter Dito masih di rumah sakit atau sudah pulang ya, Bu?” Petugas

