Dodi lalu mengajak Dinda untuk duduk dan meneraktirnya sosis dan juga s**u kotak.
"Aku ingin menjadi guru yang baik, maksudku guru yang sangat baik." Ucap Dinda.
"Aku tidak mau menjadi guru yang menjadikan muridnya merasa tercekik dan ingin bunuh diri." Ucap Dinda.
"Menurutmu, seperti apa guru yang baik itu?" tanya Dodi.
"Guru yang membantu para siswa untuk mendapatkan mimpi mereka." Ucap Dinda.
"Apa impianmu?" tanya Dodi.
Dinda yang mendengar perkataan Dodi ia pun lalu teringat masa lalunya saat bersama Diki.
"Apa impianmu?" tanya Diki di masa lalu.
"Aku belum punya impian." Ucap Dinda.
"Bagaimana kalau menjadi seorang guru?" tanya Diki.
"Guru?" Ucap Dinda lalu mengingat saat Diki menasehati Raihan sebelum memecahkan pintu kaca di sekolah.
Kembali berbicara dengan Dodi.
"Impianku yaitu menjadi seorang guru yang tidak pernah menghiraukan muridnya hanya karena mereka sibuk dengan urusannya sendiri." Ucap Dinda.
Di sekolah, Fauzi sedang berjalan menuju madding.
"Sejak kemarin, aku hanya menonton video Diki yang memecahkan pintu kaca, Diki bisa saja di anggap biang keroknya, tapi video itu sungguh membuat stresku hilang." Ucap murid perempuan di sekolah yang terdengar oleh Fauzi.
Fauzi yang sedang melihat madding ia lalu di datangi oleh Diki.
"Waah, apa ini?" tanya Diki yang melihat madding.
"Peraturan untuk disiplin!" ucap Diki yang membaca madding.
"Aku selalu penasan, tentang mengapa orang-orang sangat menyukaimu." Ucap Fauzi.
"Jangan bicara, suaramu cukup membuatku gelisah." Ucap Diki.
"Aku sudah bilang, bersikap tidak baik kepadaku akan membuatmu rugi ketimbang bersikap baik." Ucap Fauzi.
"Kau harus gunakan otakmu." Ucap Fauzi sambil tersenyum dan melihat ke arah Diki.
"Kau menyiksa muridmu, karena kau ingin memanfaatkan mereka?" tanya Diki sambil melihat ke Fauzi.
"Kau memandang mereka sesuai dengan nilai mereka dan kau takut kalo nilai mereka anjlok, kau sebut ini sekolah?" tanya Diki.
"Kau ingat, kau pernah memberitahuku kalau kau tidak suka kepada Ibumu, tapi kau tidak berbeda dari Ibumu." Ucap Diki sambil tersenyum.
"Tidak, aku berbeda dari Ibuku, aku tidak pernah mengabaikan murid yang tertinggal." Ucap Fauzi dengan muka serius dan melihat ke Diki.
"Aku membuat kelas Mawar, supaya aku bisa mengurus mereka." Ucap Fauzi yang mulai kesal.
"Hei, hentikan omong kosongmu dan lihat sekelilingmu, murid-murid mengeluh karena mereka belajar giat dan mereka bahkan belajar di dalam ruangan kaca yang aneh." Ucap Diki.
"Kau tinggal lihat saja, semuanya akan berubah." Ucap Fauzi.
"Kau akan tahu seberapa dangkalnya,,,, pikiranmu itu." Ucap Fauzi yang mendekati Diki dan merapihkan jas Diki, Fauzi lalu tersenyum dan langsung pergi.
Di kantor, Pak Mas sedang mendapatkan telepon dari orang tua murid.
"Ya nyonya, kami berencana untuk menghukumnya, jangan khawatir ya sampai jumpa." Ucap Pak Mas.
"Pertama Raihan dan sekarang di tambah lagi oleh Diki." Ucap Bu Wiwin.
"Bu Dinda, anda harus meneraktir kami makan." Ucap Bu Wiwin.
"Aku bahkan tidak tahu harus bagaimana, semalam aku menerima banyak sms keluhan dari orang tua murid, kau juga harus meneraktir kami minum." Ucap Bu Eva kepada Bu Dinda.
"Apa yang mereka katakan?" tanya Bu Dinda.
"Menurutmu apa? Mereka meminta kita untuk mengusir Diki." Ucap Bu Eva.
"Aku takut preman itu akan berdampak buruk pada anakku. Bukankah seharusnya itu di anggap sebagai kekerasan di sekolah?" Ucap Bu Eva yang memberitahu pesan dari orang tua murid kepada Bu Dinda.
"Itu bukan kekerasan di sekolah, dia pasti punya alasan.." Ucap Bu Dinda yang belum selesai karena Pak Heri masuk ke kantor dan memanggil Bu Dinda.
"Bu Dinda, pergi ke kantor dewan sekarang." Ucap Pak Heri yang masuk ke kantor dan langsung pergi setelah memberitahu Bu Dinda.
Bu Sinta yang datang ke kantor ketua dewan ia di sambut oleh Pak Bambang, Kepada Sekolah dan juga Wakilnya.
"Aku senang kalian semua ada di sini, kenapa kalian tidak melaporkan kepadaku tentang kejadian kemarin?" tanya Bu Sinta.
"Tentu saja kami akan melaporkannya kepada anda, kami hanya berpikir akan lebih baik jika memberitahukannya begitu semuanya sudah selesai." Ucap Pak Heri.
Bu Sinta lalu mendekati Fauzi.
"Apa yang membawa Ibu kemari? Ibu tidak menelepon sebelumnya." Ucap Fauzi dengan khas bicaranya yaitu sambil tersenyum terpaksa.
"Haruskah memberitahumu dulu sebelum Ibu berkunjung ke sekolah Ibu sendiri?" tanya Bu Dinda.
Fauzi lalu berdiri sambil tersenyum dan mempersilahkan Ibunya untuk duduk di kursi yang sudah ia duduki.
Tak lama setelah itu Dinda pun datang ke kantor ketua dewan.
"Bu Dinda, silahkan masuk." Ucap Fauzi.
"Dia Wali Kelasnya Diki jadi kami memintanya untuk datang." Ucap Fauzi kepada Ibunya.
"Jawablah dengan singkat dan sederhana, apa yang kau rencanakan?" tanya Bu Sinta.
"Setelah menerapkan peringatan kedisiplinan..." Ucap Fauzi yang belum selesai nanun dipotong oleh Ibunya.
"Usir dia." Ucap Bu Sinta.
"Diki mungkin tidak merusak apa pun kecuali pintu kaca sekarang ini, tapi itu bisa saja menyebabkan pelanggaran filosofi pendidikan sekolah kita. Kita bekerja keras untuk membuat sistem yang berbeda, tapi begitu para murid-murid menyadari bahwa itu bisa di pecahkan dengan mudah, semuanya akan menjadi sangat berbahaya. Kita harus singkirkan dia sebelum semuanya menjadi lebih buruk." Ucap Bu Sinta.
"Ya anda ada benarnya juga, Bu Ketua anda benar-benar mendapatkan solusi yang bagus." Ucap Pak Heri sambil tersenyum.
"Ya, dan katanya kekerasan itu seperti penyakit menular." Ucap Pak Ucok.
"Tapi ketika sekolah mengusir seorang murid, ada prosedur tertentu yang harus di lakukan, dan media masih pokus kepada Diki sekarang." Ucap Pak Bambang.
"Bagaimana menurutmu Bu Dinda?" tanya Fauzi.
"Ya?" tanya Dinda yang sedang melamun.
"Sebagai wali kelasnya apa pendapatmu tentang Diki?" tanya Fauzi.
Seketika Dinda langsung terbayang saat Diki memecahkan pintu kaca.
"Ibu Dinda, apakah Anda tidur?" tanya Pak Heri.
Dinda yang sudah berpikir lama akhirnya terpaksa mengatakan.
"Saya setuju dengan pendapat Ibu Ketua. Apapun alasannya, merusak fasilitas sekolah itu merupakan tindakan pembangkangan, jadi kurasa dia harus di tindak lanjuti secara objectif." Ucap Dinda dengan terpaksa.
Diki yang masuk ke kelas ia langsung diberikan tepuk tangan oleh semua murid dan juga dipuji-puji dengan gayanya memecahkan pintu kaca.
Bu Dinda lalu masuk ke kelas Mawar dan menyuruh para murid untuk berhenti bermain-mainnya.
"Cukup cukup." Ucap Bu Dinda sambil mengetuk-ngetuk bukunya ke meja.
"Seorang murid harusnya tidak akan melakukan hal yang begitu berbahaya, karena bisa saja membuat murid yang lain ikut terluka." Ucap Bu Dinda.
"Bu, apakah Paman... euh apakah yang akan terjadi pada Diki?" tanya Rafan.
"Tidak bisakah kami yang mengganti rugi pada pintu kaca yang pecah itu?" tanya Kanaya.
"Aku akan menyumbang seratus ribu." Ucap Kanaya sambil mengacungkan tangannya.
"Seratus ribu? dua ribu saja kau pinjam kepadaku." Ucap Saipul yang membuat semua murid tertawa.
"Dia mungkin akan dikeluarkan." Ucap Jagan.
"Dikeluarkan? kerena dia hanya merusak pintu, aku rasa dia akan melakukan pekerjaan sukarela." Ucap Saipul.
"Memecahkan pintu biasa tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan memecahkan pintu kaca yang begitu besar." Ucap Jagan.
"Pintu kaca adalah simbol sistem tertinggi di sekolah kita dan dia telah memecahkannya. Benar bagitu Bu?" tanya Jagan.
"Menurut Ibu, apa aku akan di keluarkan?" tanya Diki.
"Ibu juga berpikir bahwa apa yang aku lakukan salah?" tanya Diki.
"Apa kau pikir memecahkan pintu kaca yang sedang ada orang di dalamnya itu benar?" tanya Dinda.
"Haruskah aku abaikan saja? Saat dia sudah sangat menderita?" tanya Diki.
"Raihan berteriak meminta tolong saat dia berada dalam kesengsaraan. Haruskan ku biarkan begitu saja." Ucap Diki.
"Meskipun kau tidak membantunya, Ibu Bukan, para guru lainnya akan membantunya." Ucap Bu Dinda.
"Kau tidak akan menghancurkan pintu kaca itu sedikit pun?" tanya Diki.
"Dikiii." Ucap Dinda yang kesal.
"Hal-hal seperti itu memang perlu di hancurkan, kami semua ini murid yang sama, bukan begitu?" Ucap Diki.
Saipul langsung mengacungkan jempol kepada Diki.
"Dia benar, aku suka." Ucap Kanaya.
"Kenapa kau suka?" tanya Bu Dinda.
"Itu karena murid di kelas Mewah sangat terlihat istimewa, seolah-olah ada garis yang memisahkan kami di sekolah ini. Saat aku melihatnya hancur sebenarnya aku merasa sangat lega." Ucap Kanaya.
"Ya, benar." Ucap beberapa murid.
"Kalian gila?" tanya Jagan.
"Kelas Mewah masih memandang kita rendah." Ucap Jagan.
"Apa maksudmu? Semua murid semua sama, tidak ada yang istimewa." Ucap Bu Dinda.
"Maksudku semuanya istimewa." Ucap Bu Dinda.