Chapter 19

1149 Kata
Ibu Dinda yang mengatakan semua murid itu istimewa, semua murid pun lalu terdiam. Dan setelah beberapa saat Diki pun tersenyum dan semua murid pun lalu menyoraki Ibu Dinda. Pak Asep yang sedang terburu-buru lalu masuk ke kantor guru dan mendekati Pak Bambang. "Mengapa aku di keluarkan dari komite kedisiplinan?" tanya Pak Asep. "Aku Kepala Guru jika aku di kecualikan." Ucap Pak Asep yang belum selesai berbicara. "Itu karena kau punya hubungan khusus dengan Diki." Ucap Pak Bambang. "Aku akan mengajukan keluhan resmi kepada kepala sekolah." Ucap Pak Asep. "Astaga, kau sudah terlalu banyak membuat keluhan." Ucap Pak Bambang. "Kepala Sekolah membuat keputusan sendiri, jadi lakukan semaumu." Ucap Pak Bambang. Pak Asep lalu pergi dari kantor. "Mereka tidak bisa melakukan ini kepada Diki." Ucap Pak Asep saat akan menuju kantor dewan. Sesampainya di depan pintu kantor ketua dewan, Pak Asep langsung masuk tanpa mengetuk pintu. "Permisi." Ucap Pak Asep sambil membuka pintu. Pak Asep kaget karena di sana ada Ibu Ketua. "Kepala Sekolah, kenapa aku di keluarkan dari komite kedisiplinan?" tanya Pak Asep. "Pak Asep anda tidak boleh mengganggu di sini, cepat keluar." Ucap Pak Ucok. "Jangan abaikan anak-anak hanya karena mereka masih muda, mereka semua tahu apa yang sedang mereka lakukan." Ucap Pak Asep. "Sekolah telah mengunci Raihan di sana dan itu adalah karena sistem sekolah." Ucap Pak Asep. "Dan Diki yang sudah merusak sistem itu, kami tidak ingin sistem itu hancur." Ucap Pak Ucok. "Berkat kembalinya Diki pandangan publik yang marah menjadi berbeda, pendidikan seharusnya memberikan kesempatan." Ucap Pak Asep yang marah. "Kesempatan, bagaimana ya? Kami sudah tidak akan memberikannya lagi kesempatan." Ucap Bu Sinta atau Ibu Ketua. "Tunggu apalagi cepat pergi." Ucap Pak Ucok. "Pak Asep anda tidak perlu meninggikan suara anda di sini." Ucap Pak Ucok yang mencoba mengusir Pak Asep. "Dia sudah susah payah untuk kembali ke sini, sekolah seharusnya tidak melakukan ini kepadanya." Ucap Pak Asep yang tangannya di pegang dan di paksa untuk pergi oleh Pak Ucok dan Pak Heri. Dan akhirnya Pak Asep pun berhasil di dorong keluar oleh Pak Ucok dan Pak Heri. "Dia belum berubah." Ucap Fauzi. Diki yang dipanggil oleh para guru ia pun lalu datang ke sebuah gudung besar di sekolah. Di sana juga ada para orang tua murid yang berperan sebagai Komite Organisasi Kekerasan Sekolah, tapi di sana tidak ada Fauzi, Ibunya dan juga kepala sekolah. Dinda sebagai Wali Kelas Diki ia juga ada di sana dan duduk di samping Pak Bambang. Saat Diki tiba di depan para guru dan para komite sekolah ia pun lalu memberikan hormat. "Diki di mana orang tuamu?" tanya Pak Heri. "Anda tidak tahu berapa umurku? Aku ini sudah dewasa jadi aku sendiri yang menjadi walinya." Ucap Diki. "Kau pikir ini lelucon?" tanya Pak Heri. "Tidak, aku tidak bermaksud untuk seperti itu." Ucap Diki dan langsung datanglah seseorang yang membuka pintu. "Wali Diki ada di sini." Ucap Intan yaitu Kakanya Diki sambil menutupkan pintu. Diki yang melihat ke belakang kaget karena Kakanya datang. "Intan?" Ucap Diki. "Hei, walimu sudah datang." Ucap Intan kepada Diki. "Bagaimana kau." Ucap Diki yang belum selesai. "Maaf atas keterlambatannya." Ucap Intan kepada para guru. "Ibunya Diki anda sudah datang." Ucap Bu Wiwin. "Aku Kakanya, bagaimana bisa anda bilang aku Ibunya." Ucap Intan sambil mengusap wajahnya. "Kenapa Ibunya tidak datang?" tanya Pak Heri. "Ibuku belum mengetahuinya, dan aku tidak bisa membuatnya datang ke sini untuk yang ke dua kalinya." Ucap Intan. "Ini tidak bisa di jadikan alasan, para orang tua harus tahu apa yang anak-anak mereka lakukan." Ucap Bu Farah yaitu ketua KOKS atu Ibu dari El. "Aku dengar, Diki menghancurkan fasilitas sekolah dan tentu saja itu salah. Tapi aku juga mendengar kalau dia menyelamatkan seorang siswa di dalam sana." Ucap Intan sambil tersenyum. "Menyelamatkan seorang siswa? Kau pikir dia dikurung di sana?" tanya Bu Farah. "Diki memang harus dihukum karena kesalahannya, tapi niatnya sudah baik. Tolong percayalah kepadanya." Ucap Intan. "Diki memang tidak pernah berkata apa-apa saat akan pergi ke sekolah, tapi dia sangat senang saat akan pergi ke sekolah." Ucap Intan. "Aku awalnya heran, kenapa di usianya yang sekarang ini dia mau kembali ke sekolah. Tapi setelah melihat seragam dan tas yang ia gunakan ternyata ia masih cocok, dan aku berpikir Diki masih pantas untuk kembali ke sekolah." Ucap Intan. "Aku berpikir, hukum saja dia karena kesalahannya. Tapi sekolah adalah tempat di mana seorang murid untuk belajar dan juga untuk memperbaiki kesalahan mereka." Ucap Intan. "Tolong berikan Diki yang malang ini satu kesempatan lagi." Ucap Intan sambil mengusap punggung Diki. "Aku mohon kepada anda." Ucap Intan. "Sekolah ini bukan tempat penitipan anak, kau bisa memeluknya di rumah." Ucap Bu Farah. "Kau juga seorang orang tua kan? Kau seharusnya tidak mengatakan hal seperti itu. Anakmu nanti juga akan belajar darimu." Ucap Intan yang kesal dan di tenangkan oleh Diki. "Aku minta maaf." Ucap Diki yang menundukan kepalanya. "Dia sangat pandai meminta maaf jika untuk kesalahan seperti ini." Ucap Intan sambil memegang punggung Diki. "Dia sudah meminta maaf." Ucap Intan. "Aku akan mengurusnya, jadi kau pulanglah terlebih dahulu." Ucap Diki yang menundukan kepalanya dari tadi. Intan yang mendengar perkataan Diki ia pun langsung menginjak kaki Diki. "Permisi Nyonya, maksudku walinya Diki kau harus menunggu di luar." Ucap Pak Heri. "Semoga berhasil." Ucap Intan kepada Diki. "Tolong jaga Diki dengan baik." Ucap Intan kepada para petinggi dan langsung keluar dari gedung itu. "Diki untung saja kau mengakui apa kesalahanmu." Ucap Pak Heri. "Maaf karena aku menghancurkan fasilitas sekolah." Ucap Diki sambil duduk di kursi yang ada di belakangnya. "Tapi aku merasa tidak berbuat salah." Ucap Diki. "Kau mau mengatakan lelucon apa lagi?" tanya Pak Heri sambil menghela napas. "Aku melakukan hal yang benar dan Raihan saja tersenyum. Dia mungkin tidak pernah tersenyum seperti itu." Ucap Diki. "Diki!" teriak Pak Heri yang langsung beranjak dari kursinya setelah mendengar perkataan Diki. "Ada kewajiban yang harus diikuti dan ada aturan yang harus ditaati di sekolah, kau harusnya sudah cukup dewasa untuk tahu." Ucap Pak Heri. "Ya, aku tahu." Ucap Diki yang beranjak dari kursinya. "Sistem sekolah yang menekankan pendidikan khusus adalah aturanya, manfaat dan deskriminasi yang ada juga merupakan aturan, tapi Tobirama Senju pernah mengatakan. Ada banyak sekali variabel dalam aturan." Ucap Diki. "Tobirama Senju? Siapa Tobirama Senju?" tanya Pak Bambang yang berbisik kepada Pak Heri. "Banyaknya variabel aturan di sekolah ini akan berada padaku." Ucap Diki. "Dia sudah gila, kau mencoba menggurui kami? Arogan sekali." Ucap salah satu pihak komite sambil tertawa. "Paksa dia untuk pindah ke sekolah lain." Teriak Ibu Farah yang beranjak dari kursinya. "Usir dia, dia harus di usir." Ucap Ibu Farah kepada para guru. "Nyonya tolong tenang, kami belum mendengar perkataan dari gurunya." Ucap Pak Heri sambil tersenyum. "Ibu Dinda bagaimana menurutmu?" tanya Pak Heri. Dinda yang di tanya oleh Pak Heri ia sedikit melamun dan mengingat ucapan-ucapan Diki kepadanya. "Diki adalah, murid paling berbahaya yang pernah ada di sekolah ini." Teriak Bu Dinda yang beranjak dari kursinya. Diki yang mendengar langsung menatap tajam mata Bu Dinda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN