Setelah Bu Dinda mengatakan pendapatnya terhadap Diki, Pak Heri pun lalu kembali duduk di kursinya.
"Karena wali kelasnya sudah memutuskan." Ucap Pak Heri yang belum selesai berbicara namun di potong oleh Bu Dinda.
"Kesalahannya adalah merusak fasilitas sekolah, dan hukuman yang bisa diberikan adalah menjadi sukarelawan dan tidak harus dikeluarkan dari sekolah." Ucap Bu Dinda.
"Cuma jadi sukarelawan? Dia itu bukan murid biasa, tadi kau sudah mengakuinya sendiri bahwa dia adalah siswa paling berbahaya di sekolah ini." Ucap Ibu Farah.
"Ya benar dia memang berbahaya, tapi dia adalah siswa di sekolah ini. Jika anda mengeluarkan murid dari sekolah hanya karena satu kali kesalahan, berapa banyak murid yang akan dikeluarkan dari sekolah ini jika mereka semua membuat kesalahan?" tanya Bu Dinda.
"Dia sudah berumur 28 tahun dan dia juga bukan murid." Ucap Ibu Farah.
"Dia sedang sekolah di sekolah ini, otomatis dia adalah seorang murid." Ucap Bu Dinda.
"Apa murid yang berbahaya juga layak dilindungi?" tanya Ibu Farah.
"Sekolah akan melindungi semua murid yang berbudi luhur dan memberikan lingkungan bagus untuk mereka supaya berkonsentrasi dalam belajar, tapi tidak dengan murid seperti Diki." Ucap Ibu Farah.
"Kami pun akan memberikan sanksi kepadanya jika ia menjadi ancaman untuk murid lainnya." Ucap Bu Dinda.
"Siapa yang akan memberikan sanksi? Apakah kau?" tanya Ibu Farah.
"Kau belum lama diangkat menjadi guru tetap, kurasa ini bukan waktunya untukmu bertindak seenaknya." Ucap Ibu Farah.
"Aku yang akan bertanggung jawab." Ucap Bu Dinda.
"Apa kau bilang? tanya Ibu Farah.
"Permasalahan Diki biar aku yang bertanggung jawab." Ucap Bu Dinda yang membuat semua guru di sana melihat kepadanya.
"Bagaimana? Bagaimana kau akan bertanggung jawab?" tanya Ibu Farah.
"Euh.." Ucap Bu Dinda yang sedang berpikir dan langsung dipotong oleh Ibu Farah.
"Jika Diki berbuat masalah lagi, bagaimana jika kau melepaskan posisimu sebagai guru tetap untuk bertanggung jawab?" tanya Ibu Farah.
"Jika kau tidak bisa, maka kami akan melanjutkan proses hukumannya." Ucap Ibu Farah.
"Baiklah, aku akan bertanggung jawab dan akan mempertaruhkan pekerjaanku jika perlu." Ucap Bu Dinda.
"Kau sadar apa yang barusan kau katakan?" tanya Ibu Farah.
"Tentu, aku mungkin hanya seorang guru yang tidak tahu banyak hal, tapi aku masih tahu bahwa diriku harus melindungi murid-muridku." Ucap Bu Dinda.
"Dan siswa yang berbahaya juga berhak dilindungi oleh sekolah ini." Ucap Bu Dinda sambil melihat ke arah Diki.
"Dengarkan aku Ibu Dinda, kau tahu siapa aku?" tanya Ibu Farah.
"Ya tentu saja, anda adalah Ibu dari El." Ucap Bu Dinda.
"Tapi bagiku El dan juga Diki sama-sama siswa yang harus kulindungi." Ucap Bu Dinda.
"Perlu diingat bahwa semua orang di sini telah mendengar gagasanmu dan kami akan menyempaikan gagasanmu kepada Ketua Dewan atas nama komite." Ucap Bu Farah.
"Kau menggunakan kata tanggung jawab tanpa berpikir panjang dan kau harus bertanggung jawab karena sudah mengatakan hal seperti itu." Ucap Bu Farah yang membuat sidang hukuman Diki selesai.
Setelah para pihak komite pergi lalu para guru pun berdiri.
Saat Pak Heri menahan tangannya ke meja, tanganya tiba-tiba lemas dan membuat Pak Heri hampir terjatuh, namun akhirnya Pak Heri berhasil ditahan oleh Bu Wiwin.
"Ibu Dinda." Teriak Pak Heri yang hampir terjatuh.
"Kau tidak tahu berapa banyak wewenang yang Bu Farah miliki?" tanya Pak Heri.
"Kenapa kau harus mengatakan hal seperti itu? Sebaiknya kau urus semua itu." Teriak Pak Heri yang marah dan pergi dari sana.
"Kenapa kau melakukan itu Bu Dinda?" tanya Bu Wiwin dan langsung pergi.
Setelah semua orang pergi, di gedung itu pun tinggal hanya Dinda dan Diki saja berdua.
Dinda yang lemas ia pun lalu duduk di kursinya.
Setelah lama mereka duduk namun tidak ada pembicaraan akhirnya Dinda pun pergi dari sana.
"Dinda." Ucap Diki yang beranjak dari kursinya lalu menghadapkan badannya ke arah Dinda.
Dinda yang dipanggil oleh Diki ia pun berhenti berjalan.
"Kau gila?" tanya Diki yang membuat Dinda membalikan badannya menghadap ke Diki.
"Kenapa kau terlibat? Dan kenapa pekerjaanmu kau pertaruhkan?" tanya Diki.
"Aku ini wali kelasmu, lalu siapa lagi yang akan mendukungmu." Ucap Dinda.
"Hei, kau bahkan menyogok 70 juta untuk." Ucap Diki yang dipotong oleh Dinda.
"Itu bukan urusanmu." Ucap Dinda.
"Kalau kau mau berterima kasih, maka berterima kasihlah kepadaku." Ucap Dinda.
"Hei, aku tidak pernah memintamu untuk melakukan ini." Ucap Diki.
"Aku sama sekali tidak akan berterima kasih kepadamu dan aku tidak suka kau ikut campur dengan urusanku." Ucap Diki.
"Harusnya kau tidak usah menjadi muridku." Ucap Dinda.
"Aku tidak melakukan ini untukmu, aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang guru." Ucap Dinda.
"Jika kau tidak mau terlibat denganku lagi, lebih baik kau jangan berbuat masalah lagi." Ucap Dinda sambil mendekati Diki dan langsung pergi keluar.
Di ruangannya Dinda didatangi oleh Fauzi.
"Kenapa apanya?" tanya Dinda.
"Aku adalah wali kelas Mawar." Ucap Dinda.
"Meskipun begitu, tapi kenapa kau bertindak sejauh ini?" tanya Fauzi.
"Ketua komite memegang banyak kekuasaan atas sekolah ini dan beberapa Ibu dari para murid juga bergabung dalam kelompok ini." Ucap Fauzi.
"Jika mereka mulai berbicara negetif tentangmu." Ucap Fauzi yang dipotong oleh Dinda.
"Diki itu muridku." Ucap Dinda.
"Benar Diki adalah muridmu dan kita sekarang sedang membicarakan Diki di sini." Ucap Fauzi.
"Kenapa kau membuat keputusan seperti itu?" tanya Fauzi.
"Kenapa kau begitu penasaran?" tanya Dinda yang membuat Fauzi terdiam.
"Bel sekolah akan segera berbunyi. Aku harus ke kelas." Ucap Dinda.
"Aku duluan Ketua Dewan." Ucap Dinda dan langsung pergi.
"Dia benar, kenapa aku sangat penasaran?" ucap Fauzi di dalam hati.
Di toilet Dinda sedang menjambak dan memberantakan rambutnya.
"Ahhhhh ahhhh aku sudah gila, aku pasti sudah gila." Teriak Dinda.
"Aku belum lama ini diangkat sebagai guru tetap, tapi kenapa aku harus membuat pekerjaanku berisiko karena dia." Ucap Dinda.
"Tidak, aku bukan anak kecil yang membalas dendam kepada musuhku." Ucap Dinda.
"Kau lihat itu Diki?" Ucap Dinda sambil menepuk dadanya.
"Aku ini gurumu." Ucap Dinda sambil tersenyum dan tiba-tiba langsung berteriak dan memberantakan rambutnya lagi.
Setelah merasa stresnya hilang setelah berbicara sendiri di toilet, Dinda pun lalu merapihkan rambutnya dan merapihkan buku-buku yang ia bawa dan langsung pergi dari sana.
Di wartegnya Intan sedang memberikan vitamin kepada anaknya yaitu Rafan.
"Minum semuanya, bagus." Ucap Intan.
"Aghhh rasanya sangat pahit." Ucap Rafan.
"Tidak apa-apa itu akan membuatmu menjadi pintar." Ucap Intan.
"Kau memang sudah pintar, dan Ibu khawatir kau akan menjadi lebih pintar." Ucap Intan sambil memeluk Rafan.
Melihat Diki yang baru saja pulang sekolah, Intan pun lalu melepaskan pelukannya dari Rafan dan berbalik badan untuk menyembunyikan kotak vitamin yang tadi Rafan minum.
"Aku tak mau Intan, kau sangatlah murah hati." Ucap Diki yang melihat Intan menyembunyikan kotak vitamin.
"Ini sangatlah bagus untuk stamina." Ucap Intan sambil menyimpan lagi kotak vitaminnya di meja.
"Kau sudah memiliki banyak stamina yang sangat penuh, sampai-sampai membuatmu menyebabkan banyak masalah di usia muda. Jadi tidak ada gunanya untukmu meminum vitamin ini." Ucap Intan.
Intan pun lalu pergi dan membawa kotak vitaminnya.
"Euhhh." Ucap Diki yang kesal saat Intan berjalan di sebelahnya.
"Lihat? Aku sudah bilang ini pasti akan terjadi." Ucap Rafan sambil mendekati Diki.
"Jika kau mendapatkan masalah bicara saja kepadaku, aku akan memberitahumu bagaimana cara mengatasinya." Ucap Rafan.
"Berhenti berakting." Ucap Diki yang kesal.
"Hei." Teriak Intan sambil mendekati Diki lalu mencubit tangannya.
"Apa?" tanya Diki yang kaget.
"Jangan mengganggu anakku." Ucap Intan sambil memasukan beberapa vitamin ke kantung jas Diki.
Diki pun lalu mengambil vitamin itu di jasnya, saat Diki melihat vitaminnya ia pun langsung tertawa dengan pelan.
"Oh ya, soal tadi terimakasih." Ucap Diki.
"Jangan menyebabkan masalah, dan cepatlah lulus." Ucap Intan.
"Aku akan mencari uang dan membelikanmu vitamin untuk membantu belajarmu." Ucap Intan.
"Ya." Ucap Diki.
"Anakku, ayo masuk ke dalam, Ibu akan memberikanmu pijat kepala yang sangat enak." Ucap Intan.