Rajendra membuka pintu, “ Kodenya tanggal lahir kita.” Agastya tersenyum, mengedarkan pandangan ke unit apartemen yang lebih dari dua kali ukuran apartemen studio miliknya. Simple dan sangat maskulin dengan d******i warna hitam dan kayu pucat, “ Kamu gak tinggal disini? “ “ Biasanya gak, aku lebih sering tinggal dirumah mama. “ Rajendra menutup pintu lalu mengikuti Agastya menuju jendela lebar yang menyuguhkan pemandangan kota, “ Tapi selama kamu pergi aku lebih sering tinggal disini. “ “ Kenapa? “ Rajendra memeluk tubuh Agastya dari belakang, “ Mood ku jelek banget selama kamu pergi. Dan disini lebih dekat ke kantormu, siapa tahu kamu tiba tiba datang.” Agastya menghela nafas, bersandar sambil mempermainkan jemari Rajendra yang bertaut di perutnya, “ Maaf. “ “ Aku mengerti. “diciumn

