“Loh, Mas sudah sembuh?” Tanya Maisha ketika melihat suaminya turun dari lantai atas degan pakaian kantor yang sudah rapi. “Udah.” Jawabnya singkat. Maisha hanya menghelas napas pelan, ia memang sudah mulai terbiasa dengan sifat cuek dan dingin suaminya itu. ia pun tak terlalu memikirkan hal tersebut. “Tunggu sebentar Mas, sarapanya sebentar lagi jadi.” Ucap Maisha sambil mempercepat gerakannya memotong sayuran yang ada di depannya. “Ga usah buru-buru nanti Lo kena pis...” Belum selesai Aldwin menyelesaiakan ucapannya hal itupun telah terjadi terlebih dahulu. Maisha mengaduh kesakitan ketika tajamnya pisau membelai kulitnya itu. darah pun mengucur dari jari telunjuknya. Dengan cepat Maisha menjauhkan tangannya dari sana. Ia pun mencuci tangannya di wastafel. Tak lama Aldwin berdir

