1-BUKAN SEBUAH AKHIR
10 Januari 2024
"Apakah Saudari Cherie Novebelia sudah yakin ingin bercerai dengan Saudara Hanzel Prawirudinta?"
Wanita yang mengenakan kacamata bulat dengan bingkai berwarna gold itu menunduk. Dadanya terasa sesak saat diberi pertanyaan seperti itu. Padahal sebelumnya, dia begitu mantap ingin bercerai dari suaminya, Hanzel.
"Saudari Cherie?"
Suara berat itu membuat Cherie mengangkat wajah. Dia melirik ke kursi yang berjarak beberapa meter darinya. Dia bisa melihat lelaki yang duduk bersandar sambil mengenakan jas hitam tanpa dasi itu. Rahangnya mengeras dan tatapannya tajam, ciri khasnya.
"Saudari Cherie tolong jawab pertanyaan saya!"
Cherie sontak menoleh ke lelaki yang duduk di tengah bagaian depan itu. "Ya."
"Che!" Beberapa seruan di belakang membuat Cherie merinding.
Cherie mengenal suara-suara itu. Mamanya, mama mertuanya serta kakaknya. Dia menunduk, menahan rasa sesak yang kian menghimpit. Belum lagi sensasi panas di pipi yang menjalar hingga ke mata. Lantas, air matanya menetes.
"Anda yakin dengan keputusan Anda?"
Bahu Cherie bergetar. "Ya... Ya!" jawabnya setengah berteriak. Tubuh Cherie tiba-tiba merinding merasakan tatapan tajam dari arah kiri. Dia segera menutup sisi wajahnya, enggan menatap suaminya.
"Saudara Hanzel...."
".. saya belum siap memutuskan!" Hanzel yang sejak tadi diam, tiba-tiba memotong pembicaraan. "Saya butuh bicara dengan istri saya."
Cherie sontak menoleh. Untuk apa lelaki itu meminta bicara? Selama setahun, lelaki itu jarang memperhatikannya. "Buat apa?"
"Istirahat sepuluh menit."
"Pak!" Cherie sontak berdiri dan menggeleng tidak terima. "Ini sudah ketiga kalinya sidang perceraian nggak berjalan lancar."
"Bisa ngomong sebentar?"
Tubuh Cherie meremang mendengar suara dingin dari arah samping. Dia memberanikan diri menoleh, melihat mata Hanzel yang agak memerah. Tunggu, dia hampir nangis?
"Ayo!" Hanzel tiba-tiba menarik tangan Cherie dan menariknya keluar.
"Bicara lagi! Jangan sampai nyesel!" Terdengar suara Mama Hanzel yang menyemangati.
Hanzel tidak mengindahkan kalimat itu dan terus menarik Cherie hingga sampai halaman samping pengadilan. Dia menunduk, melihat tangan kurus Cherie yang berada di genggaman. Barulah secara perlahan dia melepaskan genggaman itu.
"Kamu ngggak bosen ke persidangan terus?" tanya Cherie sambil bersedekap. "Aku harus mulai menata hidup, bukan terus ke pengadilan."
"Kamu nggak mau tanya sesuatu?"
"Kabarmu?" Cherie memperhatikan rambut Hanzel yang panjangnya sudah melebihi krah. Padahal, lelaki itu paling suka dengan model rambut yang agak tipis. "Ah, pasti kamu masih sibuk kerja. Nggak kaget."
Hanzel perlahan berbalik dan memperhatikan Cherie. Wajahnya tampak pucat dengan kantung mata yang menghitam. "Bilang, sebenernya kamu nggak mau cerai."
Napas Cherie tercekat. "Udah saatnya kita cerai."
"Kita bisa perbarui kontrak!"
"Ssst!" Cherie melotot mendengar kalimat itu. Dia melirik ke kanan kiri, khawatir ada yang mendengarkan. "Kita sepakat nikah kontrak selama setahun."
"Kita perpanjang lagi setahun?"
Cherie menggeleng. "Aku nggak butuh duitmu," geramnya. "Udah cukup aku pertaruhkan hidupku demi uang sepuluh miliar dulu. Aku jauh lebih sayang nyawaku daripada duit."
"Tapi, aku butuh kamu, Cherie!"
"Cari wanita lain yang bisa kamu bayar sepuluh miliar. Banyak yang bakal ngantre," jawab Cherie tajam. "Aku harap ini persidangan terakhir dan kita bener-bener cerai."
"Aku beneran butuh kamu."
"Butuh apa? Semua hal yang kamu pengen pasti terwujud. Kamu nggak salah minta bantuan ke cewek bodoh kayak aku?"
"Ada satu hal yang belum bisa aku wujudin." Hanzel menjawab dengan ragu. Dia membuang muka, tiba-tiba tenggorokannya tercekat. "Ya, kamu tahu nggak semua...."
"... kamu bisa dapet semuanya, Zel!" jawab Cherie. "Cari cewek cantik dan paling pintarpun kamu mampu. Tahun lalu kamu cuma terdesak keadaan aja, mungkin apesnya aku yang waktu itu ketemu kamu. Atau kamu yang apes ketemunya sama aku."
Hanzel kembali menatap Cherie. "Kamu beneran nggak mau tanya sesuatu ke aku?" tanyanya. "Selain tanya kabar."
"Aku takut sakit hati kalau tanya hal lain."
"Belum tentu jawabannya bikin sakit hati."
"Selama ini, itu yang aku dapet!" jawab Cherie sambil menahan pedih. Terbayang hidupnya selama setahun bersama Hanzel yang penuh luka.
"Che!"
"Aku cuma istri hitam di atas putih. Aku cuma cinta sepuluh miliarmu. Nggak lebih!" Cherie mendorong pundak Hanzel kemudian berbalik. Air matanya menetes setiap melangkah menjauh dari lelaki itu. Namun, keputusannya sudah bulat.
Tahun lalu, Cherie memulai hidup dengan cara yang salah. Kini, dia tidak ingin terus menjalani kehidupan seperti itu. Istri hitam di atas putih. Cinta karena uang sepuluh miliar dibayar di muka. Sekaligus, cinta seorang diri.
"Cherie! Pikirkan sekali lagi."
Langkah Cherie seketika terhenti. Dia berbalik, menatap Hanzel yang kini memakai kacamatanya. Bibirnya bergetar menyadari Hanzel dengan mudah memintanya berpikir ulang. Bibirnya yang seksi, wajahnya yang tampan, tubuhnya yang.... Cherie menggeleng tegas.
Cherie berbalik dan berjalan kembali ke ruang persidangan. Dia tidak mau sakit hati lagi. Dia ingin hidup bebas, tanpa tanggung jawab setelah mendapat uang sepuluh miliar.
"Persidangan dimulai satu menit lagi."
"Huh...." Cherie segera duduk begitu mendengar informasi. Dia melepas kacamatanya dan mengusap sudut mata. Rasanya berat menjalani persidangan. Fisik dan mentalnya terasa lelah. Namun, dia yakin sebentar lagi dia akan bebas.
"Che!"
Tak....
Tubuh Cherie ditarik begitu cepat, hingga kacamatanya terjatuh. Dia mendongak, melihat Hanzel yang menatapnya tajam. Dia hendak memberontak, tapi Hanzel menciumnya. Mata Cherie terbelalak, belum lagi seruan di belakang yang membuatnya sadar harus segera mendorong Hanzel, suami di atas materainya. Sayangnya, mata Cherie tertutup dan kedua tangannya melingkar ke lengan Hanzel.
Apa aku sudah jatuh ke pesona Hanzel? Apa aku akan memperbarui kontrak dan membuat hidupku tersiksa? Apa aku akan mempertaruhkan hidupku demi uang sepuluh miliar? Atau, memang aku yang sudah jatuh cinta ke Hanzel?
Memang seharusnya aku tidak menandatangani kontrak dengan Hanzel, lelaki tampan yang pintar menggoda, tapi hanya mempermainkan hatiku. Hanzel yang membuat malam-malamku indah, tapi begitu gelap saat pagi menjelang.
Cintaku, dimulai dari kontrak sepuluh miliar. Cinta sepuluh miliar.