2-LELAKI DARI DIMENSI LAIN?

1119 Kata
1 Januari 2023 Tahun baru, selalu menjadi momen spesial bagi semua orang. Harapan baru. Rencana baru. Status baru. Orang baru. Semua hal yang baik-baik selalu diperbarui. Namun, tentu saja tidak semua orang bisa mendapatkan hal baru. "Aaaaa!" Duk.... Wanita yang mengenakan jaket kulit hitam dengan celana jeans berwarna senada itu menatap toko kue dengan tulisan Ma Cherie yang telah dicopot. Meja kursi yang sebelumnya berada di dalam, kini bertumpuk di depan. Etalase tempat memamerkan roti dengan aroma harum yang menggoda, kini tidak lagi di tempatnya. Cherie jatuh terduduk setelah memperhatikan toko roti terakhirnya ikut bangkrut. Dia memeluk lutut sambil menatap barang-barang yang berjejer di depan, menunggu pick up datang. Sayang, bukan untuk diantar ke cabang baru, melainkan di calon pemilik baru. Ma Cherie, didirikan lima tahun lalu saat Cherie masih duduk di bangku kuliah. Hobinya yang membuat kue, membuatnya sering mendapat order-an dari teman-temannya. Akhirnya, Cherie memberanikan diri membuka toko kue kecil-kecilan tidak jauh dari kampus. Letaknya yang strategis, pengaruh sosial media yang berkembang pesat dan rasa kue yang enak, membuat toko itu berkembang pesat. Toko kue yang sebelumnya berada di ruko, kini berada di bangunan yang lebih luas dan aesthetic. Total ada empat toko yang selama lima tahun ini dia coba kembangkan. Hingga, kehancuran melandanya. Papa Cherie enam bulan lalu meninggal dan meninggalkan banyak utang, yang sebelumnya tidak diketahui anggota keluarga. Aset keluarga Cherie mulai dijual. Namun, belum bisa menutupi utang sang papa yang berjumlah dua belas miliar. Tin... Tin.... Tubuh Cherie berjingkat. Dia perlahan berdiri sambil membenarkan rambut panjangnya yang dicat pirang. Dia menoleh, melihat sebuah mobil pickup berhenti. Lantas tangannya bergerak ke meja dan kursi yang hendak diangkut. "Bilang ke pemilik baru, jaga meja dan kursi ini seolah jaga pasangan." "Ya, Bu!" Dua lelaki mulai mengangkut meja-meja itu. Cherie terbayang saat membeli furniture itu. Dia begitu bahagia saat memilih, sayang dia tidak bisa mempertahankan benda itu lebih lama. "Bye...." Dia melambaikan tangan. Pandangan Cherie teralih ke toko, tempatnya menjalani hidup. Sebenarnya, toko itu paling strategis daripada toko miliknya yang lain. Berada di kawasan perkantoran dan cukup dekat dengan kampus. Saat pagi dan sore, pasti lebih ramai. Cherie mengacak rambut kemudian berjalan menjauh. "Terus, gue harus nyari duit ke mana lagi?" Di saat seperti ini, manusia menjadi jahat karena akan menagih perbuatan baiknya ke orang lain. Cherie mulai mengingat, siapa saja yang pernah dibantu ketika usahanya sedang naik. Hingga muncul satu nama. "Bener! Azri! Hahaha...." Cherie begitu senang saat mengingat nama itu. "Mantan b******k yang minjem duit yang katanya buat invest. Haha, lo bahkan janji balikin dua kali lipat dalam setahun." *** 3 Januari 2023 Pukul lima sore, Cherie mendatangi gedung perkantoran tempat Azri bekerja. Lelaki itu bekerja di kantor furniture dan mencoba investasi di beberapa perusahaan uang digital. Azri sangat giat bekerja, terlebih jika tujuannya uang. Yah, bisa dibilang mata duitan. Tiga tahun lalu, Azri meminjam uang ke Cherie untuk membeli koin digital. Saat itu tabungan Cheire juga mulai banyak. Dia yang juga bucin, meminjamkan uang ke Azri. Dia terbayang, kelak dengan uang itu mereka bisa memulai hidup baru. Ternyata tahun lalu, mereka putus. Lelaki itu semakin hari semakin cuek dan tidak bisa dihubungi. Sekaligus, dia menemukan bukti perselingkuhan Azri dengan rekan kerjanya, yang langsung dibantah mentah-mentah. Pada saat itu Cherie terlanjur patah hati dan lupa dengan uangnya. Karena saat itu kondisi keuangan Cherie naik pesat. "Ngapain lo dateng ke sini?" Cherie duduk di lobi gedung dan menikmati kopi yang diberikan resepsionis saat seruan itu terdengar. Dia menoleh, melihat lelaki berkemeja putih dengan celana biru lengkap dengan tanda pengenal yang menggantung. "Balikin duit gue!" Mata Azri seketika membulat. "Bisa ngomong pelan?" Cherie meletakkan kopinya dan menepuk sofa sebelahnya. "Kalau gitu kita bisik-bisik." Azri duduk di samping Cherie. "Apa niat lo?" "Balikin duit dua miliar gue!" "Lo tahu, kan, duitnya berbentuk...." "... nggak peduli bentuknya yang penting balikin!" Cherie menjawab cepat. "Lo janji bakal balikin setahun setelah pinjem." Azri mengacak rambut. "Mata uangnya sekarang turun." "Gue nggak peduli." "Che!" Azri mencoba pengertian. "Bakal gue balikin, tapi kasih waktu." "Tiga hari." "Lo gila?" Cherie mengangguk. "Gue emang gila sekarang," jawabnya. "Kalau dipikir-pikir, gara-gara minjemin lo, gue jadi bangkrut." "Lo aja yang nggak pinter itung-itungan." Cherie seketika melotot. Dia heran mengapa dulu begitu cinta dengan Azri, padahal begitu menyebalkan. "Tiga tahun berlalu. Jadi, lo harus balikin enam miliar. Ah, karena belum genap tiga tahun, lima miliar aja nggak apa-apa." Wajah Azri seketika memucat. "Lo sekarang mata duitan?" "Didikan lo!" "Gue balikin dua miliar, sama yang kayak gue pinjem." "No... No...." Jari telunjuk Cherie bergerak ke kiri dan ke kanan. "Lo janji bakal balikin dua kali lipat. Lupa siapa yang menggebu-gebu invest dan yakin banget dapet untung banyak? Perlu gue ingetiin? CCTV toko aktif terus." Azi berdiri. "Nanti gue hubungin lagi!" Kemudian dia menjauh. Cherie sontak berdiri. "Woy! Balikin lima miliar gue!" teriaknya tidak peduli sekitar. "Sial, itu lima miliar nggak kecil woy! Balikin!" Tidak ada respons. Azri masuk lift dengan kartu aksesnya lantas menghadap Cherie. Dia tersenyum penuh kemenangan, yakin wanita itu tidak akan bisa mengikutinya sampai dalam. "Sini nggak lo?" Cherie berteriak sambil mendekat. Dia mencoba menekan tombol tapi benda itu tidak berfungsi. Dia menepuk dengan kedua tangan, tapi angkanya tidak muncul. "Azri, balikin duit gue!" jerit Cherie frustrasi. "Duit itu harapan terakhir gue!" geramnya kemudian menyandarkan kening di depan pintu lift. "Saya bisa kasih kamu dua kali lipat." Tubuh Cherie menegang mendengar suara yang terdengar dalam itu. Dia berbalik, mendapati seorang lelaki berdiri dengan setelan hitam lengkap dengan dasi dan sepatu yang mengkilat. Dia mengedarkan pandang, tapi tidak ada orang lain. "Ngomong sama saya?" "Menurutmu?" "Hahaha...." Cherie terbahak. "Jangan bercanda, saya lagi frustrasi." "Apa saya kelihatan bercanda?" Senyum Cherie seketika pudar. Dia menatap lelaki tampan berkulit putih dengan garis rahang yang terlihat maskulin itu. Matanya sekarang menatap tajam. Tubuh Cherie seketika bergetar. "Bapak mau beli ginjal saya? Tidak, saya nggak jual organ tubuh." Lelaki itu melangkah mendekat dan Cherie bergerak mundur. Sayangnya, punggungnya telah membentur pintu lift. "Bapak mau bunuh saya? Jangan!" Lelaki itu tetap mendekati Cherie. Dia menyentuh tombol lift dan muncul nomor yang tadi dicari wanita itu. Pintu lift perlahan terbuka dan membuat Cherie kehilangan keseimbangan. Namun, lelaki itu dengan cepat menarik pinggangnya. Cherie mengerjab. Jantungnya berdegup lebih cepat memandang lelaki yang menurutnya berasal dari dimensi lain, karena begitu tampan. "Jangan...." "Ssstt...." Lelaki itu menggeleng dan maju selangkah. Cherie terpaksa mundur. Keringat sebiji jagung mulai membasahi pelipis. Tenggorokannya terasa kering dan tubuhnya panas dingin. Dia mengedarkan pandang, menyadari berada di lift bersama lelaki menyeramkan itu. "Saya beri sepuluh miliar, asal kamu ikuti kemauan saya." "Saya harus bunuh orang?" tebak Cherie. Ayolah, mana ada orang tidak dikenal yang mau memberi uang sebanyak itu? "Atau Bapak mau tubuh saya?" Seketika dia menyilangkan kedua tangan ke depan tubuh. "Menikah dengan saya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN