"Menikah dengan saya."
"Ha?" Cherie tidak mampu menahan keterkejutannya. Bibirnya terbuka dan matanya terbelalak. Aliran darahnya seolah mengalir begitu cepat, tapi terasa berhenti di otak dan membuatnya tiba-tiba pusing. Cherie seketika berpegangan di kaca lift yang terasa dingin sambil berusaha mencerna apa yang telah terjadi. "Bapak mau jadikan saya selir?"
Lelaki dengan senyum segaris itu menarik pundak Cherie. Wanita di depannya jelas ketakutan, terlihat dari bibirnya yang mendadak pucat. Dia mengedipkan mata agak cepat saat menatap mata bundar yang seperti boneka itu. "Menikah hitam di atas putih," pintanya dengan suara agak serak. "Saya bayar sepuluh miliar di muka."
Kawin kontrak? batin Cherie. Dia mengerjab, apakah sekarang dia berhadapan dengan aktor dan sekarang sedang syuting? Tidak, tadi lelaki itu datang sendiri tanpa kru yang bertugas. Cherie mencoba berpikir jernih, tapi terasa susah. Tetapi, jika tidak syuting untuk apa lelaki itu mengajaknya menikah? "Haha...." Dia menahan tawa, yakin sekarang tengah di-prank.
"Kamu butuh uang cepet, kan? Saya kasih solusi yang tepat buat kamu." Lelaki itu menjauhkan tangan dari pundak Cherie lalu mengeluarkan kartu nama dari saku dalam jas. "Hubungi saya. Penawaran ini nggak berlaku lama."
Cherie menerima kartu nama itu dengan bergetar. Dia hendak membaca, tapi tubuhnya seolah melayang. "Hei...." Dia baru bisa bersuara saat sudah berada di luar lift. Serta baru menyadari jika lelaki itu menggendongnya. "Aduh...." Tubuh Cherie hampir limbung kala kakinya mendadak lemas.
Pandangan Cherie terarah ke depan, melihat pintu lift yang perlahan tertutup. Di sana ada lelaki yang memasukkan tangannya ke saku celana dan menatapnya tajam tanpa senyum sedikitpun. Bulu kuduk Cherie lantas meremang. Setelah itu tubuhnya terasa panas dingin.
Barusan gue di dimensi mana?
Cherie masih berdiam diri meski pintu di depannya telah tertutup rapat. Dia memegang tengkuk dan memijitnya pelan. Setelah itu dia melangkah mundur dan berbalik. Bulu kuduknya meremang kala telah membelakangi pintu lift. Lantas dia berbalik, berharap lelaki itu muncul kembali sambil membawa kamera dan memberitahunya jika telah dikerjai. Sayang, pintu di depannya masih tertutup rapat.
"Jadi, ini beneran?" Cherie menepuk pipinya pelan. "Tiba-tiba gue dilamar?"
***
Sreek... Sreek....
Seorang wanita berjalan di lorong apartemen sambil menyeret kaki. Di tangan kirinya membawa heels yang terasa menyiksa. Sedangkan tangan kanannya membawa kartu nama dari seseorang yang tidak tahu berasal dari dimensi mana.
Cherie masih berpikiran, pertemuannya dengan lelaki tadi tidak nyata. Tidak mungkin dia diajak menikah meski dengan kontrak. "Gue emang nggak jelek-jelek banget, sih!" Dia menunduk, menatap penampilannya. "Tapi, gue nggak secantik itu buat diajak nikah cowok ganteng."
Duk.... Heels Cherie terlepas dari pegangan.
Sontak Cherie menunduk, menatap tubuhnya yang cukup berisi. Apa mungkin lelaki itu hanya mengincar tubuhnya? "Enggak!" Dia menatap kartu nama itu dan membaca namanya.
Hanzel Prawirudinta.
"Aaaaa!" Cherie berlari menuju pintu tanpa mengambil heels-nya. Dia membuka pintu apartemen lalu mengempaskan tubuh di sofa. Tangannya terangkat, menatap kartu nama berwarna hitam dengan tulisan berwarna emas itu. "Hanzel."
Tok... Tok....
Cherie bangkit mendengar suara ketukan. "Nggak mungkin dia ngikutin gue, kan?" gumamnya panik. "Jangan-jangan, dia ngincer gue?" Dia menggeleng atas pemikiran itu.
"Nona Cherie!"
Tubuh Cherie bergetar. Dia mencoba mengingat suara itu. Bukan, suara barusan tidak dalam seperti yang diucapan lelaki tadi. Lantas dia menuju pintu dan membukanya.
"Saya sudah kirim pesan, tapi paketnya belum juga Anda ambil."
"Oh, maaf...." Cherie melihat petugas apartemen yang menyerahkan beberapa amplop cokelat. Dia menerima benda itu kemudian menunduk. "Terima kasih." Lantas dia menutup pintu dan melihat surat-surat itu.
Cherie menghela napas berat, mendapati itu surat jatuh tempo tagihan kartu kredit. Tanpa membuka, dia membuangnya dan berganti membuka surat lain. Hingga, dia mendapati surat pemberitahuan untuk pelunasan apartemen.
"Aaaaa!" Cherie menjerit sambil membuang surat yang masih dipegang. Dia berjalan menuju meja, mengambil kartu nama yang sejak tadi dipegang. Napasnya memburu, bingung harus melakukan apa.
Drttt....
Sepertinya Cherie tidak diperbolehkan tenang. Ponsel di dalamnya terdengar bergetar. Dia mengambil benda itu lalu tangannya refleks mengusap wajah. "Ehm...." Dia sengaja berdeham lalu mengangkat panggilan. "Halo."
"Cherie!" Suara Mama Cherie bergetar.
Jantung Cherie berdegup lebih cepat. Firasatnya mengatakan, akan ada hal buruk lagi. "Iya, Ma. Kenapa?"
"Barusan ada orang yang nagih lagi."
Firasat Cherie langsung terjawab. "Kali ini berapa, Ma?"
"Dua ratus juta," jawab Mama Cherie. "Minggu depan harus dibayar."
Satu tangan Cherie yang bebas seketika mengacak rambut. Rasanya dia ingin marah ke papanya yang justru meninggalkan utang, bukannya warisan. "Iya, Ma. Nanti malem aku dapet transferan dari jual alat-alat toko."
"Tapi masih kurang setengah, Che. Bakal dapet duit dari mana?"
Kepala Cherie tertunduk. Rasanya dia ingin menyerah, tapi tidak mungkin setega itu. Mamanya sudah tua dan sejak dulu tidak memiliki pekerjaan. Sementara kakaknya, bekerja sebagai koki di salah satu hotel. Kakaknya juga ikut membantu membayar utang, bahkan meminjam ke atasannya.
"Cherie!"
"Ya, Ma!" Cherie mengangkat kepala dan mencoba teresenyum.
"Apa kita jual aja rumahnya?"
"Jangan!" jawab Cherie cepat. "Mama lupa, dulu kakek ikut ngasih duit buat bangun rumah? Mama lupa sudah banyak momen yang terjadi di sana?"
"Terus gimana?"
Pandangan Cherie tertuju ke kartu nama yang tergeletak di samping kakinya. Mungkinkah lelaki tadi memang ditakdirkan untuk membantunya? "Nanti aku kabari, ya, Ma. Mama tenang aja pokoknya." Setelah itu dia mematikan sambungan.
Tangan kiri Cherie mengambil kartu itu dan menatapnya penuh pertimbangan. Ada dorongan kuat untuk menerima tawaran itu karena kondisinya benar-benar kepepet. Namun, ada sebagian hatinya yang memintanya untuk menolak saja.
"Kayaknya tanya-tanya doang nggak apa-apa." Cherie lantas memencet deretan nomor yang tertera.
"Halo...." Pada deringan kedua, suara berat itu muncul.
Mata Cherie terpejam, memantapkan hatinya. "Emm, boleh tahu lebih lanjut soal menikah kontrak itu?"
Hening.
Cherie menjauhkan ponsel, merasa jika dia salah memencet nomor. "Emm, sorry."
"Apa yang mau kamu tanyakan?" Suara lelaki itu kembali muncul.
Jantung Cherie berdegup lebih cepat, artinya dia tidak salah menelepon. "Semuanya," jawabnya sambil beranjak menuju jendela apartemen. Satu tangannya yang masih memegang kartu nama terkepal, membuat kertas itu seketika kusut.
"Bisa kita sekarang ketemu?"
"Eh, nggak gitu!" Cherie kaget dengan ajak itu. "Saya masih pengen tanya-tanya dulu."
"Kalau mau, dua hari lagi temui saya di Restoran Italia nggak jauh dari tempat tadi," jawab lelaki itu. "Anggap, saya kasih kamu waktu buat berpikir ulang."
Cherie menunduk. Dia tidak puas dengan jawaban itu. Namun, di satu sisi dia juga takut jika permintaan lelaki itu aneh-aneh.
"Saya tunggu. Semoga kamu mau menikah dengan saya." Lalu sambungan terputus.