11-OMONGAN MANIS

1136 Kata
Tidak susah bagi Hanzel untuk menyelidiki seseorang. Usai tanda tangan kontrak dengan Cherie, dia meminta anak buahnya untuk mencari lebih lanjut tentang keluarga wanita itu. Bahkan setelah Cherie keluar dari towernya sore itu, sebenarnya sudah ada anak buahnya yang membuntuti. Sama halnya dengan hari ini. Anak buahnya memberitahukan jika Cherie datang ke rumah orangtuanya. Niat awal, Hanzel akan mengajak Cherie sarapan bersama, tapi tidak dia ungkapkan saat menelepon wanita itu. Tidak disangka, wanita itu lebih dulu pergi. Hanzel berpikiran jika Cherie akan memberi tahu keluarganya tentang rencana menikah enam hari lagi. Ternyata, itu semua terbukti. Sekarang, Hanzel duduk di sofa panjang dengan Cherie di sampingnya. Di depannya, ada wanita tua yang menatap sambil menahan isak tangis. Di sampingnya, ada wanita yang mirip dengan Cherie dengan rambut hitam pendek sebahu yang menatapnya penuh selidik. Hanzel yang sudah berpengalaman berbicara dengan banyak orang, terlihat bisa mengendalikan diri. "Lo pasti udah hamilin adik gue, kan?" "Kak!" Cherie menggeram tertahan. Dia menatap Hanzel yang tersenyum sopan, tidak terpancing sama sekali. Seketika dia duduk tegak dan mencoba biasa saja. "Tolong jangan bikin gue malu." Hanzel menatap Asna. "Itu tidak benar," jawabnya pelan. "Saya dan Cherie sudah saling mengenal sejak enam bulan lalu. Sejak saat itu, saya menyimpan hati." Cherie menahan tawa. Omongan Hanzel manis juga ternyata. Sayang itu racun. "Terus, kenapa harus nikah cepet?" selidik Asna yang langsung diangguki oleh mamanya. "Apa yang kalian sembunyiin?" "Karena saya ada perjalanan bisnis. Saya tidak mau jauhan dengan Cherie," jawab Hanzel sambil menatap Cherie seolah memiliki banyak cinta di hatinya. Cherie tersenyum samar lalu mendekat ke Hanzel. "Gue juga nggak mau jauh dari dia, Kak," bohongnya. "Mama percaya, kan?" "Dek, tapi nikah itu nggak gampang, loh!" ingat Mama Istin. "Harusnya sekali seumur hidup. Kamu udah yakin?" Akhir-akhir ini dia mendapat kejutan yang membuatnya kelimpungan. Pagi ini, kejutan itu dari anak terakhirnya. Bersyukur dia tidak terkena serangan jantung. Perlahan Cherie menarik tangan Hanzel lalu mengangguk pelan. "Sudah yakin, Ma." "Tapi, apa nggak bisa tunangan dulu?" Mama Istin menatap lelaki tampan di depannya. Dari wajahnya terlihat bukan lelaki yang banyak macam. Namun, itu semua bisa menipu, kan? "Kalau tunangan saya nggak bisa ajak Cherie ikut," jelas Hanzel. "Emang lo mau pergi ke mana?" "Australi." Hanzel menatap Cherie yang tersentak kaget. Tangannya terangkat lalu mengusap puncak kepala Cherie. "Saya mau hidup sama dia." Asna membuang muka, muak melihat romantisme semacam itu. "Emang harus nikah secepet itu? Nanti orang lain bakal mikir adik gue hamil." "Tenang aja, pernikahan kami tertutup," jawab Hanzel. "Tetep aja bakal ada omongan lain." Hanzel menurunkan tangannya dari kepala Cherie dan menatap dua orang di depannya. "Untuk pesta pernikahan bisa nanti-nanti saja, kan? Setelah perjalanan bisnis saya selesai." Mama Istin menutup mulut. Sungguh dia tidak menyangka Cherie akan dipersunting. Bahkan secepat itu. "Selama Cherie yakin, mama cuma bisa dukung." Mata Cherie seketika berkaca-kaca. Dia yakin mamanya nanti akan terluka. Namun, dia sudah memutuskan. Dia bahkan sudah menyiapkan diri untuk memberi tahu mamanya. Setidaknya nanti sebelum kontrak berakhir. "Ikut gue sekarang!" Asna seketika berdiri dan menggerakkan tangan. Cherie berdiri, tapi pandangan kakaknya masih tertuju ke Hanzel. "Dia juga?" "Iya, kalian!" "Mau ngapain, Na?" tanya Mama Istin curiga. Asna menggeleng. "Tolong buatin minum, ya, Ma. Ada yang pengen aku bicarain." Setelah mengucapkan itu dia berjalan menuju luar. Cherie menatap Hanzel yang perlahan berdiri. "Bentar, ya, Ma." Dia menarik tangan lelaki itu dan menyeretnya keluar. "Buktiin kalau kalian saling mencintai!" pinta Asna dengan kedua tangan bertolak pinggang. "Gue nggak bisa percaya gitu aja." Sebagai seorang kakak, dia tidak ingin adiknya itu menderita. Sudah cukup mereka menderita karena ulah sang papa. "Mau bukti apa?" Cherie mencengkeram tangan Hanzel karena terkesan menantang. Asna tidak bisa ditantang. Dia saja tidak berani membuat kakaknya itu marah. Yah, Asna tipikal kakak yang paling berkuasa. "Jangan aneh-aneh lo!" Sudut bibir Asna tertarik ke atas. "Bisa ciuman depan gue?" "Lo gila!" Cherie seketika melepas pegangannya di tangan Hanzel. "Eh, ciuman itu privasi, ya. Waktu lo pacaran gue nggak pernah lihat lo ciuman." "Masalahnya beda, bentar lagi kalian mau nikah." "Ya tetep aja itu gila!" Cherie bertolak pinggang. Mana mungkin dia berciuman dengan lelaki asing? Di depan kakaknya pula. Selama berpacaran dengan Azri, dia paling anti menunjukkan kemesraan di depan anggota keluarganya. "Gue harus lihat pakai mata gue sendiri," ujar Asna serius. "Oke!" Hanzel menarik tangan Cherie hingga menghadapnya. Dia mengedipkan mata mendapati wanita itu melotot. Lantas dia mendekat dan mencium Cherie. Cherie melotot mendapat ciuman itu. Kedua tangannya terkepal erat, menurutnya Hanzel cari mati dengan menerima tantangan Asna. Namun, sepertinya tidak ada pilihan lagi. Matanya perlahan terpejam lalu kedua tangannya memegang pundak Hanzel dan mencoba relaks. Dia harus menunjukkan bahwa dia mencintai Hanzel demi rahasianya aman. Hanzel menarik pinggang Cherie dan memperdalam ciuman. Dia tidak menyangka, jika Cherie membalas ciumannya dan tampaknya wanita itu cukup lihai. Bulu kuduk Hanzel meremang dan telinganya tidak mampu mendengar suara apapun selain decapan dari bibirnya dan Cherie. "Stop!" Asna buru-buru menutup muka. Cherie hendak mendorong, tapi lelaki itu masih menciumnya. Tangannya lantas mencubit leher Hanzel, hingga ciuman itu terlepas. Dia menatap Hanzel yang mengedipkan mata, seolah puas. Sedangkan Cherie segera menarik kausnya hingga menutupi mulut. "Udah, kan?" tanya Hanzel santai. Asna menurunkan tangan dari wajahnya. "Ck! Ternyata kalian nekat ciuman depan gue." "Lo yang nyuruh!" jerit Cherie. Hanzel melingkarkan tangan ke pinggang Cherie. "Mau bukti apa lagi?" tanyanya. "Saya punya banyak cara untuk membuktikan jika mencintai Cherie." Cherie menyenggol perut Hanzel. Menurutnya lelaki itu cari mati. Namun, sepertinya Hanzel tidak mau dicurigai. Jari telunjuk Asna mengarah ke Hanzel. "Kalau sampai lo nyakitin adik gue, besoknya lo tinggal nama." Setelah mengucapkan itu Asna kembali masuk. Cherie masih menutup mulut dengan kaus. Setelah melihat kakaknya menjauh, barulah dia bergeser menjauh. "Kamu nekat!" geramnya masih dengan kaus yang menutup bibir. Hanzel mengusap bibirnya dengan punggung tangan. "Lumayan." "Maksudmu?" Cherie melotot. "Siapa yang ngajarin?" "Aku tendang, ya!" Kaki Cherie terangkat ke arah Hanzel. "Cukup pertama dan terakhir ciuman sama orang asing." Hanzel mendekat dan menarik kaus Cherie. Dia tersenyum melihat lipstick merah itu sekarang berantakan. Dia membungkuk, tapi Cherie segera mundur. "Saya harus temui mama kamu lagi atau gimana?" "Che, ajak Hanzel masuk!" Cherie menghela napas berat mendengar suara mamanya dari dalam. "Temui mama bentar, setelah itu boleh pulang." "Terus, kamu?" "Di rumahlah." "Memang yakin bisa jawab pertanyaan mama sama kakakmu?" Hanzel berdiri tegak lantas memutuskan masuk. Kaki Cherie terasa lemas. Dia berjongkok sambil menutup mulut. Kakaknya memang gila. Bagaimana mungkin memintanya berciuman? Hanzel lebih gila karena menuruti bahkan menggodanya juga. Dia yakin kakaknya pasti akan meminta bukti lain. Sebelum itu terjadi dia harus mempersiapkan diri. "Che!" "Iya, Ma!" Cherie buru-buru berdiri dan memutuskan masuk. Dia mendapati Hanzel yang menyeduh teh dengan senyum samar. Dia mendengus melihat senyuman itu. "Ma, setelah ini aku pergi sama Hanzel." Hanzel menahan tawa. Sesuai tebakan, Cherie pasti memilih pergi bersamanya daripada mendapat interogasi. "Good, Baby," bisiknya membuat Cherie menoleh dan melotot tak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN