"Kamu di mana sekarang?"
Cherie menghentikan langkah lalu mengedarkan pandang melihat kendaraan yang berlalu-lalang. Dia butuh taksi menuju rumah mamanya. "Ada di suatu tempat yang sangat suram," jawabnya lalu memejamkan mata. "Kenapa?"
"Ingat, kamu harus urus bantu pernikahan kita."
Bahu Cherie seketika merosot. Dia membuka mata lalu menjawab.. "Inget...." Dia lalu menggaruk kepala. "Popi udah ngasih jadwalnya kok."
"Bagus."
Hening.
Cherie mengusap pipi saat air matanya menetes. Saat berbincang dengan Hanzel, penyesalan itu kembali muncul. Berkali-kali dia ingin mundur, tapi uangnya sudah terlanjur dibayarkan. Terlebih, dia sudah menandatangani kontrak. Bahkan, dia dibuat tidak bisa tidur nyenyak karena hal itu.
"Kamu menyesal?"
Tubuh Cherie menegang, Hanzel seolah bisa menebak kondisinya sekarang. "Pasti penyesalan itu ada."
"Kamu nggak bisa mundur gitu aja."
"Tenang aja. Nggak akan mundur," jawab Cherie cepat. "Makasih bantuannya." Entahlah, dia merasa harus mengatakan ini. Baginya, Hanzel datang di saat yang tepat. Andai tidak bertemu lelaki itu, pasti sekarang masih kebingunan membayar utang. Meski, ada hal besar yang harus dia korbankan.
"Beri tahu Popi, keperluan apa saja buat keluargamu. Dia yang bakal urus," ujar Hanzel. "Kamu juga boleh...."
"... aku cuma undang keluarga dekat aja," potong Cherie meski tidak tahu Hanzel sebenarnya ingin mengatakan apa.
"Bagus."
"Bagus?"
"Orang-orang akan kaget kalau kamu buru-buru menikah," jawab Hanzel. "Keluarga inti yang lebih penting."
"Oh...." Cherie sempat berpikiran buruk. "Saya akan hubungi Popi jika membutuhkan sesuatu." Setelah itu dia memutuskan sambungan tidak peduli apakah Hanzel masih ingin berbicara lagi atau tidak.
Di tempat lain, Hanzel masih duduk di ruang makan apartemennya. Dia menyesap kopinya sambil menatap ponsel yang telah mati. Setelah itu dia mengambil benda itu dan membuka pesan masuk dari anak buahnya.
Mata Hanzel berubah tajam melihat salah satu pesan. Seketika dia meletakkan cangkirnya lalu beranjak keluar.
***
Satu hal yang tidak kalah penting dari membayar tunggakan adalah menemui sang mama. Cherie sepanjang malam terus memikirkan reaksi mamanya jika tahu enam hari lagi dia akan menikah. Sudah pasti wanita itu akan menginterogasinya. Namun, Cherie harus cepat-cepat memberi tahu, meski mamanya belum sepenuhnya pulih. Lebih baik segera jujur daripada mamanya tahu dari orang lain.
"Harusnya istirahat dulu di apartemen."
Cherie menatap Mamanya yang mengenakan terusan berwarna pink tua dengan rambut yang telah sepenuhnya memutih. Dia melangkah masuk dan melihat ruang tamunya yang terasa kosong tanpa perabotan. Dulu ada beberapa guci yang dibeli mamanya, tapi dijual untuk bayar utang. "Mama kenapa nggak istirahat aja?"
"Nggak bisa dikasih tahu!"
Cherie tersentak. Dia menoleh, melihat kakaknya baru keluar dari kamar dengan rambut dicepol. "Lo nggak kerja?" tanyanya sambil mendekat. "Biar mama sama gue aja."
Asna duduk di kursi makan dan mengambil apel. "Gue udah terlanjur izin."
"Sayang banget!" Cherie menatap kakaknya heran. Dia menuju ruang makan, mendapati mamanya yang duduk bersandar. Di atas meja terdapat secangkir teh, roti dan obat. Kemudian dia duduk di depan mamanya.
"Kok tumben nggak ada yang ke rumah?" Asna heran karena tidak ada yang datang untuk menagih hutang. Biasanya saat pagi ada yang mengetuk pintu dan memanggil dengan nada mengancam. Dia sampai takut jika mendengar ketukan pintu.
Cherie seketika menyenggol sang kakak. Dia menggerakkan dagu ke mamanya yang menunduk. Setelah itu dia mengambil obat yang tergeletak di depannya. "Mama udah minum obat, kan?"
"Sudah...." Mama Istin mengangkat wajah, menatap kedua anaknya yang tampak khawatir. "Maafin mama, ya!"
"Udahlah, Ma." Cherie menggeleng tegas.
Asna terlihat bersalah karena membahas hal itu lagi. "Mama jangan banyak mikir dulu, ya!"
Sebagai seorang ibu, Mama Istin tidak bisa seperti itu. Dia melihat anaknya kesusahan membayar utang. Sampai usaha anaknya hampir hancur. "Andai papa masih hidup, sudah pasti mama gebukin."
"Udah pasti punggungnya merah berkas tangan mama," canda Cherie. Dia mengambil roti di depannya dan mengambilnya sedikit. Dia lalu menatap Asna yang sedang menyeduh cokelat hangat. Muncul keinginan untuk memberi tahu pernikahannya ke kedua orangtua itu, tapi dia belum siap.
"Bentar lagi gue tidur bentar, ya. Lo jaga mama."
Raut kebingungan Cherie seketika hilang. Dia memaksakan senyuman dan mencoba biasa saja. Dia lalu menatap mamanya yang menguap. Sepertinya efek obat yang diminum. "Emm, Ma. Aku pengen ngomong sesuatu."
Mama Istin dan Asna sontak menatap Cherie. Hal itu membuat Cherie menjadi gugup. Dia menelan ludah. Entah ini keputusanya tepat untuk berbicara atau tidak.
"Ngomong apa?" Asna meletakkan cangkirnya lalu menatap Cherie sepenuhnya.
Mama Istin melihat anaknya yang kesulitan mengungkapkan. "Apa?" tanyanya. "Jangan ada yang ditutup-tutupi."
Cherie memegang sisi bawah kausnya dan memelintirnya beberapa kali. "Ma, aku mau nikah."
"Uhuk...." Asna seketika tersedak apel yang kembali dimakan. "Lo ngomong apa?"
Mama Istin terdiam dengan bibir sedikit terbuka. Dia menatap pipi Cherie yang memerah malu. Ada rasa penasaran yang muncul, tapi ujungnya dia tersenyum merasa itulah yang harus dia lakukan. "Sama Azri?"
"Bukan." Cherie menggeleng pelan. Dia menggaruk tengkuk, bingung harus memulai dari mana karena semuanya terasa tidak nyata. "Namanya Hanzel. Aku baru kenal sama dia, tapi udah ngerasa cocok."
Hening.
Cherie menatap Asna dan mamanya bergantian. Dia mengambil cokelat hangat milik kakaknya dan menyeruputnya pelan untuk menutupi rasa gugup. Setelah itu dia menatap dua orang itu lagi.
"Kenapa buru-buru?" Mama Istin memajukan tubuh. "Terus, kapan mau kamu kenalin ke mama?"
"Lo nggak isi duluan, kan?" Asna seketika menatap perut Cherie. Kemudian memberi tatapan tajam ke adiknya itu.
Cherie menatap kakaknya yang terlihat mencurigai. Dia lebih memilih menatap mamanya karena reaksinya lebih positif. "Nanti aku hubungi dia biar ke sini," ujarnya ragu. "Enam hari lagi aku nikah."
"Lo!" Asna seketika berdiri dan menujuk Cherie dengan tangan agak bergetar.
Kini, Mama Istin mulai curiga. Dia mendekat dan menarik anaknya hingga berdiri. Lantas dia memperhatikan penampilan Cherie. Tubuh anaknya itu lebih kurus dari sebelumnya. "Kamu nggak hamil, kan, Che?"
"Pasti lo hamil, kan?" tuduh Asna.
"Enggak! Gue cuma pengen nikah aja." Cherie berharap dua orang itu mengerti. "Aku udah cukup umur, kan? Kalau udah ketemu yang cocok dan mau diajak serius, mau nunggu apa lagi? Iya, kan?" Dia berharap dua orang itu tidak mencurigainya.
"Nggak mungkin secepet itu!" Mama Istin menggeleng tegas. Dia menatap Cherie, takut anaknya itu dijebak atau semacamnya. "Bilang ke mama, apa yang sebenarnya terjadi? Jangan sembunyiin apapun."
Cherie kembali duduk dan mengacak rambut. Dari semalam dia sudah menyiapkan kalimat pembelaan, tapi sekarang lupa begitu saja. "Intinya aku cuma mau nikah, Ma."
"Tapi, nggak semudah itu nikah!" jawab Mama Istin.
"Pergaulan lo selama ini terlalu bebas, ya? Sejak tinggal di apartemen tingkah lo pasti...."
"... enggak!" potong Cherie cepat. "Gue cinta banget sama dia. Pas dia ngelamar, ya udah gue iyain."
"Terus. kenapa nggak dikenalin ke mama?" Mama Istin mulai menitikan air mata.
"Permisi. Maaf tiba-tiba masuk." Tiba-tiba ada yang menginterupsi.
Tiga wanita yang berdebat di dapur itu seketika menoleh. Mereka sama-sama kaget mendapati lelaki dengan setelan kantoran dan rambut yang disisir ke belakang berdiri di pintu penghubung. Cherie mengerjab lalu menatap lelaki itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Setelah sadar, dia segera berdiri dan menatap Hanzel yang tiba-tiba datang. Atau, lelaki itu sempat menghubungi tapi dia tidak tahu? Entahlah.
"Saya Hanzel, calon suami Cherie," ujar Hanzel setelah berdiri di samping Cherie. Dia melingkarkan tangan ke pinggang Cherie lantas menunduk. "Mohon maaf kalau mengagetkan."