9-RAHASIA YANG AKAN AKU SIMPAN SENDIRI

1213 Kata
Siapa yang tidak kaget, setelah kehilangan orang yang begitu dicintai kemudian masalah datang bertubi-tubi. Rahasia yang sebelumnya dibawa hingga mati, kini menyeruak mengingkari. Tubuh yang mulai renta, mulai tidak bisa menopang beban hidup yang begitu berat. Kondisi psikologis yang hancur, semakin menambah beban hingga tidak kuat lagi menahan. Mama Cherie dilarikan ke rumah sakit setelah jatuh dari kamar mandi dan sempat tidak sadarkan diri. "Ma...." Cherie memegang tangan mamanya yang terasa dingin. Dia mengusap punggung tangan yang mulai keriput itu lalu setetes air matanya turun. Hal itu membuat Cherie langsung menangis tersedu-sedu. "Nggak seharusnya mama ngalamin ini." Cherie mendekatkan tangan dingin itu ke pipi. Namun, jemari itu bergerak mengusap pipinya. Seketika dia mengangkat wajah dan mendapati mamanya yang terbangun dari tidurnya. "Mama." Satu tangannya yang bebas mengusap sudut mata lalu dia tersenyum. Tidak ingin sang mama melihat kesedihannya. "Bakal gimana ini, Che?" Mama Cherie seketika menangis. Cherie mencium punggung tangan mamanya dan kembali tersenyum. "Aku janji bakal lunasi, Ma. Aku udah dapet pinjaman." "Maafin papamu, ya!" "Pinjaman dari mana?" Cherie menoleh, mendapati seorang wanita yang berjalan masuk dan menginterupsi pembicaraan. Seketika Cherie berdiri dan melepas pegangannya. Dia memilih berdiri di samping ranjang, lalu menatap kakaknya yang membawa kantung berisi roti. "Temen baikku." "Siapa? Gue nggak pernah tahu." "Gue bisa lunasin kok." Cherie menatap Asna dan mamanya bergantian. Dia akan menemui penagih hutang itu secepat mungkin, agar berhenti meneror ke rumah dan membuat hidup mamanya jauh lebih tenang. "Permisi...." Tiga orang itu mengalihkan pandang dan pembicaraan langsung terhenti. Seorang suster berjalan masuk sambil tersenyum sopan. Asna seketika menarik tangan Cherie dan mengajaknya keluar. "Bentar, Ma," pamit Cherie lalu mengikuti sang kakak, sementara mamanya diperiksa. "Apa, sih?" tanyanya begitu sampai luar. "Lo dapet duit dari siapa?" Asna bertolak pinggang menatap mama sang adik yang memerah. Namun, perhatiannya teralih saat menyadari Cherie memakai riasan cukup tebal, tidak seperti penampilannya sehari-hari. Cherie menatap Asna yang terlihat penasaran. Kakaknya itu tidak mudah percaya. Dia harus merangkai sebuah cerita yang masuk akal agar tidak dicurigai. "Azri punya utang. Tadi udah dibayar." "Enam miliar?" Asna menatap penuh selidik. Adiknya sempat bercerita tentang investasi Azri. "Dua miliar. Sisanya dapet pinjaman dari temen." Cherie memaksakan senyuman. "Gue nggak nyari duit cara aneh-aneh kok." Dia memegang pundak Asna dan menepuknya pelan. Asna tahu, Cherie lebih sukses darinya. Adiknya itu pekerja keras, bahkan saat masih di bangku sekolah. Adiknya itu memiliki kafe sendiri sementara dia bekerja sebagai koki di sebuah restoran hotel. Namun, dia merasa tabungan adiknya tidak sebanyak itu. "Nggak ada yang lo sembunyiin, kan?" Asna tidak bisa membendung rasa curiganya. Gue mau nikah kontrak, jawab Cherie dalam hati. "Enggak kok." Dia lalu tersenyum agak sendu. *** Ting.... Suara ujung botol yang mengenai ujung gelas terdengar merdu di telinga Hanzel. Dia menyukai suara sejenis itu. Terutama saat suara air yang keluar dari botol, Hanzel sangat menyukainya. Baginya, suara itu membuatnya relaks. Tidak ada yang salah, kan, dengan itu? Hanzel menjauhkan botol lalu menegak minumannya. Dia tersenyum merasakan aroma pahit dan sedikit asam menjalar di lidahnya lalu turun ke tenggorokan. Setelah itu pandangannya terarah keluar. Tempat tinggal Hanzel tentu berada di apartemen mewah dan berada di lantai teratas. Dari posisinya dia bisa melihat keindahan kota, terutama saat malam. Lampu-lampu gedung begitu memanjakan mata. Dari tempatnya pula, Hanzel selalu merasa apapun yang diinginkan pasti terwujud, karena dia memiliki kuasa. Glek.... Hanzel menegak minumannya lantas beranjak. Dia berjalan menuju jendela dan menutup gorden berwarna cokelat s**u. Kini, ruang tengah itu sedikit remang-remang karena hanya lampu tempel yang menyala. Hanzel membuka kemeja putih yang masih dikenakan kemudian meletakkan dengan asal. Setelah itu dia berjalan menuju kamar dengan gorden yang masih terbuka lebar. Dia membiarkan hal itu kemudian menuju kamar mandi. Dia mengisi bathtub dengan air dingin lantas membuka sisa pakaian yang dikenakan. Tubuh lelah Hanzel kini bertemu dengan air hangat yang membuatnya relaks. Dia menatap kaca, melihat pemandangan di luar. Dia tidak perlu khawatir dengan tindakannya, karena tentu saja dari luar tidak akan terlihat. Kemudian, dia terbayang wajah cantik dengan bola mata bulat yang menggemaskan. Mata Hanzel terpejam lalu dengan sendirinya dia terbayang sosok Cherie. Senyum di bibirnya terbit kala mengingat mamanya begitu menyambut wanita itu. Dia yakin tidak salah pilih, karena pendapat mamanya begitu penting. Tentu saja agar wanita itu tidak curiga. Selebihnya, dia tidak perlu memikirkan hal lain. "Seminggu lagi gue nikah," gumam Hanzel sambil membuka mata. Sorot matanya tampak tajam, tapi perlahan berubah sendu. "Ya, gue bakal nikah." Dia lantas beranjak dan membasuh tubuhnya di shower. Hanzel tidak mau memikirkan apa yang nantinya akan terjadi. Dia hanya butuh Cherie untuk menemaninya. Masalah setelah kontrak itu berakhir, dia membiarkan hal itu menjadi misteri. Meski, dia berharap setelah kontrak itu berakhir akan ada perubahan besar di hidupnya dan hidup seseorang. Tidak ada ketertarikan yang mendasari Hanzel. Di matanya Cherie tidak menarik, meski dia mengakui wanita itu cantik. Dia yakin tidak akan merasakan sesuatu yang berlebih selama menjalin pernikahan kontrak. Semuanya, akan berakhir sesuai rencananya. *** Hari ini, mama Cherie diizinkan pulang. Asna yang menjemput karena Cherie harus menemui si penagih utang. Sekarang, dia sedang menghitung ulang uang yang akan dibayarkan. Tidak ingin ada uang berlebih dan membuat si penagih kesenangan. "Huh. Lunas!" Cherie memasukkan uang ke koper dan menutupnya. Dia menatap arloji putih yang telah menunjukkan pukul sepuluh tepat. Sengaja dia terlambat tiga puluh menit dari waktu janjian yang telah ditentukan. Cherie beranjak, menggeret koper pink-nya keluar. Dia memakai sandal teplek dan berjalan dengan kepala tertunduk. Seiring langkahnya terasa begitu berat. Melihat uang sebanyak itu, rasanya sayang sekali jika digunakan untuk membayar utang. Namun, tidak ada pilihan lain. "Tapi apa boleh buat. Ini demi mama." Cherie menarik napas panjang kemudian berjalan lebih mantap. Beberapa menit kemudian, Cherie sudah berada di dalam mobil. Di bangku depan, ada seorang lelaki berkepala plontos yang duduk menyerong menatapnya. Seketika dia membuka koper dan menunjukkan uang yang telah dibawa. "Saya lunasi semuanya," jawab Cherie. "Kamu punya banyak uang ternyata." Cherie mendengus. Dia menutup koper itu dan meletakkan di kursi penumpang. Setelah itu dia membuka pintu mobil. "Tolong jangan pernah datang ke rumah lagi. Apalagi, menggangu keluarga saya." "Bisa diatur!" Teman Papa Cherie turun dari mobil dan menuju ke pintu belakang. Dia berpindah ke kursi belakang dan membuka koper pink yang dibawa Cherie, alih-alih koper khusus untuk uang. Lelaki itu tersenyum melihat deretan uang yang berjajar rapi. Setelah itu dia menatap Cherie yang berjalan dengan kepala tertunduk. Ada rasa kasihan karena gadis itu harus membayarkan utang papanya. Bahkan, baru tahu papanya memiliki utang saat sudah tiada. "Aaaa!" Cherie berteriak setelah sampai trotoar. Dia sangat lega karena satu beban telah menyingkir dari pundaknya. Tinggal satu beban lagi yang akan berakhir satu tahun kemudian. "Semangat! Lo pasti bisa, Che!" Dia mengepalkan tangan dan mencoba tidak memikirkan beban itu dan membuatnya stres sendiri. Napasnya tiba-tiba terasa naik turun. Matanya terasa panas lalu berair. Cherie mendongak, mencoba sebisa mungkin untuk tidak bersedih atas pilihan yang sudah dia ambil. Kemudian, dia mencoba tersenyum. Sayangnya, saat terbayang wajah Hanzel tangisan itu seketika tumpah. "Dia bakal perlakuin aku dengan baik, kan?" Drrrtt.... Samar-samar Cherie merasakan getar ponsel di tas kecilnya. Dia segera mengambil, menebak jika itu sang kakak yang akan mengabari mamanya. Namun, saat melihat deretan nomor yang muncul, tubuh Cherie langsung menegang. Air matanya seketika menggenang di pelupuk mata. Barulah dia mengangkat panggilan itu. "Kamu di mana sekarang?" Suara itu terdengar begitu berkuasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN