part 23. hampir saja

1105 Kata

Kesunyian di rumah mewah ini ternyata jauh lebih mencekam daripada kebisingan di kantor pusat Snow. Setelah keberangkatan Snow yang penuh ketegangan pagi tadi, aku menghabiskan waktu di ruang perpustakaan yang dindingnya dilapisi kayu ek gelap. Aku mencoba memfokuskan pikiranku pada buku-buku hukum yang tebal, namun setiap detak jam dinding kuno di ruangan itu seolah menghitung mundur sesuatu yang buruk. Snow membiarkanku tetap di rumah, ya. Tapi dia meninggalkanku dengan puluhan pengawal di gerbang depan. Aku merasa seperti burung nuri yang bulunya baru saja dicabut, lalu dikurung di sangkar emas agar tidak ada yang melihat betapa buruk rupa diriku tanpa hiasan. Sore itu, salju turun lebih lebat. Aku memutuskan untuk turun ke dapur, hendak menyeduh teh untuk menghangatkan tubuh. Nam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN