Setelah badai pengambilalihan kekuasaan di ruang rapat yang dingin itu, Snow harus segera menghadiri pertemuan darurat dengan para pemegang saham minoritas untuk meredam kepanikan pasar. Ia meninggalkanku di kantor barunya yang luas, sebuah ruangan dengan dinding kaca setinggi langit-langit yang memperlihatkan keindahan Zurich yang beku. "Tunggu di sini, Jelita. Jangan keluar tanpa pengawal," bisiknya sebelum mengecup keningku di depan sekretaris barunya yang kini menunduk hormat. Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Baru sepuluh menit Snow pergi, pintu kantor terbuka tanpa ketukan. Erika, bibi Snow yang baru saja dipecat, masuk dengan langkah yang masih menyiratkan keangkuhan seorang bangsawan, meskipun matanya merah karena amarah dan riasannya sedikit berantakan. Ia menutup pi

