Pagi itu, Zurich seolah membeku di bawah otoritas yang baru. Langit kelabu yang menggantung di atas gedung pencakar langit pusat keuangan Swiss seolah memberi isyarat bahwa badai besar akan segera datang, bukan badai salju, melainkan badai kekuasaan. Aku berdiri di depan cermin besar suite hotel, menatap bayanganku yang terbungkus dalam gaun wol hitam yang memeluk tubuh dengan sempurna. Di leherku, kalung berlian pemberian Snow melingkar dengan dingin, sebuah simbol bahwa aku bukan lagi Jelita si pelayan bar, melainkan Nyonya Snow. Wajahku bersih dari noda, berkat perawatan ekstrem kemarin, namun hatiku tetap berdebar kencang. Aku juga terus bertanya kepada diriku sendiri, apakah aku pantas mengenakan pakaian mewah dengan perhiasan ini? Snow berdiri di belakangku. Ia mengenakan setela

