Brian berdecak keras, pemuda itu kembali melangkahkan kakinya dengan sedikit cepat menuju kelas. Koridor sekolah sudah sepi karena bel masuk sudah berbunyi, makanya ia bisa dengan leluasa berjalan tanpa harus berdesakan. Sesekali Brian melirik jendela kelas, ada seseorang yang terus mengikuti langkah kakinya. Pemuda itu mengetatkan rahang sebelum mempercepat langkahnya. Pemuda berseragam khas anak Makmur Sanjaya itu mengikuti Brian di belakang dengan langkah pelan agar tak dicurigai oleh cowok itu. Saat Brian menoleh ke belakang dia sempat bersembunyi di balik pilar. Sesaat ia menghela napas panjang sebelum kembali melanjutkan langkah kakinya. Kedua matanya melotot saat Brian sudah tak berada lagi di depan. Ia celingak-celinguk ke arah mana pun mencari keberadaan cowok itu, beberapa

