Berhari-hari telah berlalu, Clarisa masih merasakan hal yang sama, sedih? Tentu. Tapi ia tak bisa merombak takdir, garis hidup yang dilukis Tuhan semestinya memang harus bisa ia terima dengan lapang d**a. Menolak pun percuma, sebab we can no longer do anything, everything will feel in vain. Contohnya hari ini, lagi-lagi Clarisa harus menghadapi suatu hal yang bahkan tak pernah ia sangka akan terjadi. Mengurus perusahaan? Oh my God, ia sama sekali tak bisa membayangkannya. Otak Clarisa itu pas-pasan, melihat berbagai macam dokumen membuat kepalanya berdenyut nyeri, rasanya sampai mau muntah. Sepeninggal ayah, semua tanggung jawab seharusnya pindah ke bunda. Tapi keadaan bunda saat ini tak mendukung, makanya semua dialihkan ke putri sulung. Ayolah, Clarisa bahkan belum tamat SMA, ia su

