Clarisa memilin ujung seragamnya yang sudah tak rapi lagi seperti tadi pagi. Dalam kondisi sedang ditatap galak sama guru petak itu Clarisa bukan merasa takut, tapi lapar. Sungguh, ia benar-benar lapar, mau makan tapi lagi sibuk disidang. Sesekali Clarisa mendongak hanya untuk sekedar melihat wajah pak Dodi yang berusaha menahan amarahnya. Pria paruh baya itu duduk di depan Clarisa di kursinya dan meja di tengah sebagai penghalang diantara keduanya. "Akhir-akhir ini kamu selalu buat masalah, sekarang apalagi? Kamu mau masuk penjara habis mukulin anak orang? Hukuman sebelumnya masih kurang?" Berbagai pertanyaan dari pak Dodi membuat Clarisa mati kutu, ini sangat membingungkan sekali. "Bapak sungguh menyayangkan semuanya, Clarisa. Dari dulu kamu memang sering bertingkah kurang ajar,

