"Gue pulang dulu ya udah sore," ujar Clarisa. "Yang nyuruh lo ke sini juga siapa," cetus cowok itu. Bibirnya sengaja di monyong-monyongkan, kalau mengikuti kata hati udah Clarisa tarik sampai delapan ratus meter itu bibir. Sabar, Ris, sabar. Gadis itu menghela napas berat, ingin membakar Leo dengan segera rasanya. Jika itu memungkinkan sudah dari tadi ia melakukannya, sialan memang itu cowok. Sudah ditemani bukannya bersyukur malah bersikap seenaknya. "Nisa kapan ke sini?" tanya gadis itu. "Gak tau gue," jawab Leo cuek. "Lo mah mana punya otak, apa-apa gak tau. Musnah aja deh." Clarisa memalingkan wajahnya ke arah jendela, malas sekali menatap wajah sialan itu. "Kapan nih pulang?" "Iya, iya." Si gadis menyampirkan tasnya di bahu kanan, memperbaiki rok bawahnya yang sedikit

