Hoodie

1067 Kata
Leona terdiam sejenak, mencerna apa yang dikatakan oleh Alex barusan. "Iya ... itu foto kita sewaktu kita masih bersama. Tapi ... Mr jangan mencoba untuk memaksakan ingatan Mr ya? Saya tidak ingin kalau terjadi apa-apa dengan Mr. Alex." "Kamu tidak perlu khawatir. Saya ada obat supaya kepala saya tidak sakit," ucap Alex. "Obat? Dari?" "Dari dokter tadi." Leona menghembuskan napas pelan. "Baguslah. Mr jangan sampai mengambil obat dari orang lain." Alex mengangguk kecil di sana. Dia sangat lega jika Alex sudah paham akan dirinya. "Oh ya Mr? saya mempunyai rekaman saya. Biar Mr tau siapa orang terdekat Mr yang sudah ingin mencelakai Mr." Alex menoleh ke samping. "Tadi? Apa karena itu kamu jadi celaka?" Leona mengulum bibirnya sendiri dan mengangguk kecil. "Saya tidak sengaja bertemu, jadi saya merekam apa yang dikatakan oleh orang itu." "Baiklah, saya ingin mendengarkannya." Leona segera mengambil ponsel miliknya dan mencari record yang dipakai untuk merecord pembicaraannya dan juga Rose. Di sana terlihat Alex yang fokus mendengarkan apa yang dibicarakan olehnya dan juga kekasihnya itu. "Siapa yang kamu ajak bicara?" tanya pria itu di sela-sela mendengarkan record. "Rose, kekasihmu," jawabnya spontan. Kening Alex nampak mengkerut. "Dia? Apa kamu serius dia berbicara seperti itu?" Leona mengangguk kecil, dia menutup kembali recordnya. "Iya. Percaya tidak percaya saya tidak peduli." "Seharusnya yang kamu lakukan itu membuat saya percaya kalau dia melakukan tindakan jahat seperti tadi." Alex berbicara dengan tega. Pria itu menggelengkan kepalanya seakan tidak percaya apa yang didengarkannya barusan. "Benar-benar." "Maka dari itu saya menyuruh Mr untuk mencari kekasih yang benar. Bukan untuk mencelakai Mr dan mengambil semuanya dari Mr." Alex menghela napasnya pelan. "Sepertinya saya harus bicara sama dia." "Mr jangan gegabah untuk ini. Lebih baik Mr berpura-pura untuk tidak tau soal barusan. Saya tidak mau jika Rose akan melakukan tindakan yang lebih dari ini." "Baiklah, Nona Leona. Sekali terimakasih atas kebaikanmu. Saya akan membalasnya jika saya sudah sembuh." Leona memalingkan wajahnya ke luar kembali. "Baiklah, saya tunggu. Asal Mr tidak berpura-pura baik untuk mendapatkan hatiku lagi." Alex hanya tertawa kecil di sana. "Kalau memang saya menginginkan itu, saya akan melakukannya Nona Leona." Leona mendecih pelan. Tak lama kemudian mereka sampai di kediaman Alex dan tentunya di dalam terdapat beberapa keluarga yang sedang menunggunya. Leona dan juga Alex berjalan sejajar untuk masuk ke dalam. "Selamat sore Tuan." Bibi yang berada di sana menyapa tuan rumah ramah, Alex hanya tersenyum sopan. "Eh Nona Leona? Apa kabar? Apa Nona masih kenal saya?" Leona melirik ke arah Alex sekilas dan menatap bibi itu. Dia tersenyum kecil. "Masih kenal kok Bi. Bibi masih di sini saja?" "Ya ... bagaimana lagi? Saya sebenarnya sudah lepas kontrak. Tapi saya sepertinya membutuhkan biaya untuk anakku. Jadi saya kembali ke rumah ini. Lagipula Tuan rumahnya sangat ramah." Leona mengangguk kecil. "Semoga betah ya Bi," ucap Leona. Bibi itu hanya tersenyum kecil. Setelah mengobrol Leona mengikuti Alex kembali,. "Kamu sangat akrab dengan bibi tadi." Leona menoleh ke samping, lalu menganggukkan kepalanya. "Ya ... begitulah. Kan saya memang kenal Mr sangat lama." Alex hanya mengangguk kecil. Pria itu menghentikan langkahnya di depan pintu dan membuka pintu tersebut. "Kamu istirahat saja di sini. Saya akan mengambilkan pakaian untuk acara nanti." Leona masuk ke dalam kamar tersebut. Dia melihat ke sekitar kamar itu. Ternyata kamar Alex masih sama seperti dulu, hanya saja ada beberapa hiasan yang diambil, bahkan foto mereka sudah hilang di meja itu. Fotonya sudah tergantikan dengan kekasih barunya. Sungguh apa yang diharapkan Leona saat ini? Bahkan dirinya saja tidak ingin kembali dengan Alex, namun dia masih saja tidak terima kalau bingkai foto itu berada di sana. Leona menghembuskan napasnya pelan, dia menoleh ke Alex. "Keluarga Mr di mana?" "Dia akan kembali nanti. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu istirahat dulu dan minum obat supaya tidak pusing." Leona tersenyum kecil. "Kalau begitu saya keluar dulu." Alex melangkahkan kakinya keluar. Namun tiba-tiba saja pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu, membuat Leona mengerutkan keningnya heran. Alex berbalik badan kembali. "Oh ya, satu lagi. Kalau ... di luar kantor, apa kamu bisa tidak memanggilku dengan sebutan Mr?" "Terus?" "Panggil saja dengan sebutan namaku. Seperti kamu memanggil saya waktu dulu. Saya ... keluar, selamat istirahat," ucap pria itu sebelum keluar dari kamar itu dan menutup pintu kembali. Leona terdiam. Dia memegang dadanya yang merasa berdetak di dalam sana. "Astaga jantung aku kenapa berdetak? Tidak mungkin kan kalau aku suka lagi sama Alex?" gumamnya. Leona menggelengkan kepalanya, kemudian menghempaskan badannya ke kasur. Dia mencoba untuk memejamkan matanya. Namun dia membuka matanya kembali. "Aku tidak bisa tidur," gumamnya. Dia terus mengingat apa yang dikatakan oleh Alex. "Apa Alex akan kembali sama aku nantinya? Kenapa aku agak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Alex?" Leona menghela napasnya pelan. Dia memutuskan untuk bangun dari tidurnya dan mengambil handuk di sana. "Sebentar? Kalau aku mandi aku nanti ganti pakaian apa?" gumamnya. Wanita itu segera membuka lemari yang berada di sana. Dia melihat beberapa pakaian yang menggantung di sana. Hanya ada pakaian Alex. Leona menghela napas pelan. "Masa iya aku harus pakai pakaian dia?" Leona meringi kecil, kemudian mengambil salah satu hoodie di lemari sana. "Lebih baik seperti itu daripada tidak ganti sama sekali," katanya kemudian berjalan ke dalam kamar mandi untuk ritual mandi. Setelah mandi Leona mengeringkan rambutnya dengan handuk. "Ah ya, aku lupa minum obat. Nanti saja ah! Males banget kalau udah berkaitan dengan obat," gerutunya. Tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya. Dia menoleh ke arah pintu, dia berjalan mendekat ke pintu dan membukanya. "Eh Mr?" Leona mengerjapkan matanya kikuk ketika melihat Alex yang sudah di depan pintu. Terlihat pria itu tidak berkedip sama sekali saat melihat dirinya. Leona melihat pandangan ke hoodienya, sepertinya dia memakai hoodie pria itu tanpa izin. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "M-maaf Mr, saya tidak bisa tidur makanya aku mandi dan meminjam hoodie Mr," ucapnya sembari meringis kecil.. Alex mengerjapkan mata dan mengangguk kecil, tidak bisa mengira kalau wanita itu sangat cantik jika memakai pakaian pria tersebut. "T-tidak apa-apa kok. Saya Cuma kaget kalau kamu terlihat sangat muda seperti remaja yang masih sekolah kalau sedang memakai pakaian itu," ucap pria itu. "Oh ya? Hehehe." Leona menunduk malu sembari membenarkan rambutnya di sela-sela telinganya. "Oh ya? Kamu siap-siap dulu ya. Ini pakaian untukmu." Alex memberikan paperbag yang berisi dress untuk Leona. Leona mengambil apa yang diberikan oleh Alex. "Eh ... makasih banyak ya Mr. Maaf merepotkan Mr." Alex berdehem. "Dandan yang cantik dan jangan lupa minum obat sebelum berangkat," kata pria itu sebelum pergi dari hadapannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN