“Astaga, apa yang aku lakukan?”
Leona mendengarkan ucapan Rose. Dia menatap wanita itu masih di sana dengan wajah cemasnya sebelum pergi dari sana. Setelah itu pandangannya kabur dan tidak sadarkan diri.
***
Mata Leona terbuka perlahan. Sinar cahaya lampu menembus ke dalam matanya sehingga membuat dirinya menutup mata kembali. Dia menggerakkan tangannya sembari meringis kecil karena kepalanya terasa sakit saat ini.
“Leona? Kamu sudah sadar?” tanya seorang pria di sana nampak khawatir.
Leona mencoba untuk membuka matanya kembali. Ternyata Alex yang berada di tempat ini. Dia menghela napasnya pelan, kemudian mencoba untuk bangun. Tapi nihil, kekuatannya belum sepenuhnya pulih.
Alex nampak khawatir dan menahan tubuhnya saat ini. “Kamu istirahat saja. Kondisimu belum pulih,” kata pria itu lembut.
Leona menatap Alex, sesekali melihat tangannya yang kini berada di kedua bahunya. Dia menundukkan kepalanya dan memijat kening yang masih sakit.
“Mau minum? Saya ambilkan sebentar,” kata Alex yang kini bergegas untuk mengambilkan segelas air minum dan di sodorkan kepadanya.
Leona sempat terdiam, menatap air gelas dan juga Alex bergantian.
“Minum dulu, habis ini istirahat. Kamu tidak ingin melewatkan acara keluargaku kan?”
Leona menghela napasnya pelan, bisa-bisanya Alex masih mengharapkan dirinya hadir di acara itu. Dia mengambil gelas dari tangan Alex dan meminumnya pelan.
“Tadi Felix melihatmu jatuh di depan toilet. Dia menelponku dan saya membawamu ke rumah sakit,” jelas Alex.
“Terimakasih,” ucap Leona lirih, kemudian mengembalikan gelasnya untuk Alex. Alex tersenyum di sana dan mengembalikan gelas ke meja.
“Kamu sepertinya sangat lelah?”
Leona kembali membaringkan tubuhnya dan memejamkan matanya pelan. “Sepertinya iya,” jawabnya singkat.
“Apa acaranya di undur saja?”
“Tidak usah, kasihan mereka. Kamu bisa ke sana sama Felix. Kalau saya sudah baikan, saya akan menyusul kalian.”
“Saya tidak mau meninggalkanmu di sini sendirian. Kalau memang kamu tidak ikut, biar acaranya di undur.”
Leona menghela napas pelan, kemudian menoleh ke samping. “Kasihan adikmu Mr, utamakan keluargamu dari pada saya.”
“Itu kemauanku sendiri. Kamu asistenku, jika terjadi apa-apa sama kamu. Itu sudah tanggungjawabku,” ucap Alex dengan nada serius.
Leona hanya diam tidak merespon ucapan Alex barusan.
“Leona, kepalamu terbentur sangat keras tadi. Saya sudah melihat kondisi kepalamu barusan dan ini hasil labnya,” ucap dokter Ryn setelah masuk ke dalam dan memberikan hasil labnya ke Leona.
Alex segera mengambil hasil labnya itu dan membuka hasilnya.
“Kemungkinan ada seseorang yang mendorong Leona. Tidak mungkin jika dia jatuh sendiri,” jelas dokter Ryn.
Leona melirik ke Alex dan mengambil hasil labnya. Mulutnya terbuka karena saking shocknya.
“Kamu tidak perlu khawatir. Kamu tidak akan kenapa-kenapa asal tidak terlalu capek saja. Kamu harus istirahat yang banyak, jangan sering banyak pikiran. Itu membuat kepala kamu sakit,” jelas Ryn.
Leona menghela napas pelan, dia meletakkan kembali ke meja. “Terimakasih Ryn, maaf sudah merepotkanmu,” ucapnya dengan lirih.
“Aku harap kamu bisa jaga kesehatanmu itu Leona. Aku tidak ingin kamu kenapa-kenapa,” ucap Ryn nampak khawatir.
Leona tersenyum kecil.
“Kalau begitu aku keluar dulu. Kalau kamu ingin pulang dan dirawat di rumah sendiri. nanti bilang saja ya?”
“Bisa sekarang? Saya akan membawa dia pulang dan saya akan merawatnya di rumah,” ucap Alex kemudian.
Pandangan Leona dan juga Ryn ke arah pria yang barusan berbicara.
“Mr, kamu apa-apaan sih! Saya bisa merawat diri saya sendiri.”
Alex melirik ke arah Leona. “Tidak ada penolakan dan saya tidak suka,” ucap pria itu dengan nada datar.
Ryn hanya tertawa kecil di sana. “Baiklah, kalau begitu mari ikut saya untuk mengurus adminitrasi,” ucap dokter Ryn sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Alex melirik ke Leona. “Tunggu di sini, saya akan kembali,” ucap pria itu mengikuti dokter Ryn.
Leona masih diam di sana sembari menatap punggung Alex yang semakin menghilang dari pandangan matanya. “Alex, kenapa dia sangat perhatian sama aku? Apa karena aku berbicara seperti itu makanya dia bersikap seperti ini padaku?” gumamnya.
“Ah apaan sih, kenapa aku berpikiran yang tidak-tidak? Lagipula yang bersikap peduli maupun tidak, itu bukan urusanku,” katanya kemudian.
Tak lama kemudian, Alex kembali dengan membawa bingkisan obat dan juga kertas administrasi.
Leona menoleh ke arah Alex. “Berapa biayanya?”
“Kamu tidak perlu memikirkan biaya, ayo kita balik.”
Leona menghela napas pelan. “Saya akan menggantinya nanti,” katanya, kemudian dia beranjak dari tempat tidurnya. Tentunya Alex membantu untuk turun dari brankar itu.
“Terimakasih Mr,” ucapnya, lalu dia berjalan perlahan untuk keluar dari ruangan itu.
Leona menoleh ke samping. Ternyata Alex masih stay untuk memapahnya. Tak sadar pipinya kini memerah karena perhatian kecil dari Alex.
“Untuk sementara kamu tinggal di rumah saya mau? Saya tidak ingin kalau keluargamu khawatir dengan kondisimu sekarang,” ucap Alex.
Leona mendongakkan kepalanya ke samping untuk menatap pria yang lebih tinggi darinya. “Tidak usah Mr, saya bisa pulang dan istirahat.”
“Setelah ini kita ada acara dan kamu tidak boleh absen jika kamu tidak ingin mengganti acara ke hari lain.”
Leona menghembuskan napas pelan. “Kalau begitu terserah Mr. Tapi kalau aku di sana apa keluarga Mr tidak keberatan?”
Alex menatapnya kembali dan menggelengkan kepala. “Tidak. Di rumah hanya ada bibi saja. Tau sendiri kan kalau keluargaku sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.”
Leona memungutkan kepalanya pelan.
Setelah sampai di parkiran, dia segera masuk ke dalam mobil, begitupun dengan Alex.
“Jangan lupa pakai sabuk pengaman,” ucap Alex tanpa menatap Leona.
Leona menoleh ke samping, kemudian dia memakai sabuk pengamannya itu. “Sudah.”
“Lebih baik kamu izin kalau kamu akan bekerja lembur untuk beberapa hari ke keluargamu,” kata Alex sebelum melajukan mobilnya.
Leona menggangguk kecil, tanpa bicara apapun dia segera mengambil ponsel dan memberi pesan untuk orrang tuanya.
“Sudah?”
Leona mengangguk kembali. Dia menatap ke spion mobil dan ternyata pria itu tengah menatapnya. Dirinya segera memalingkan wajahnya ke luar candela untuk mengalihkan semuanya.
Di sana Alex hanya tertawa kecil. “Kalau di pikir-pikir, kamu terlalu cantik untuk di lepaskan. Bahkan kamu sangat cerdas.”
Leona menoleh ke samping, keningnya mengkerut. “Apa maksud Mr?”
“Ingatan kecilku mulai muncul sedikit-demi sedikit. Meskipun tidak terlalu jelas, saya yakin yang ada di dalam ingatanku adalah kamu.”
Wanita itu spontan diam tidak menanggapi apa yang dibicarakan oleh Alex barusan.
“Kenapa saya begitu jahat padamu?”
Leona berkali-kali menghela napas panjang di sana.
“Tapi … sebelum saya mengingat itu, saya merasakan kalau kita kenal dekat. Dan aku sangat yakin sekarang kalau foto yang sering kamu bawa itu foto kita kan?” kata Alex sembari menatap dari spion.