Rose Membuat Masalah

1127 Kata
Leona menahan d**a bidang Alex. Dia menatap kembali pria itu. Kemudidan melihat ke bawah untuk menecek keadaan pakaiannya saat ini. Demi apapun Leona sangatlah bodoh, kenapa kejadiannya bakalan seperti ini. “Kenapa Nona Leona?” Mata Leona berkaca-kaca. Detak jantungnya kembali berdetak. “Ma—maafkan aku Mr,” ucapnya sembari menundukkkan kepalanya. Alex nampak merasa bersalah dengan apa yang dilakukan barusan. Tangan pria itu menarik dagunya lembut. “Seharusnya saya yang minta maaf.” Tak sadar air mata Leona menetes di pipinya. Tangan pria itu berusaha mengahpus jejak air matanya. “Please, don’t cry. Saya tidak suka melihat wanita menangis di depanku.” Leona menggenggam tangan pria itu yang kini berada di pipinya. “Boleh saya bertanya?” Leona menatap lekat mata Alex. Kemudian mengangguk kecil. “Apa saya pernah dekat dengan kamu? Saya ingin kamu menjawab dengan jujur,” ucap Alex lembut. Leona mengalihkan pandangannya. “Apa itu penting buat Mr?” “Sampai segitunya kamu sama aku? Pasti ada kenangan pahit yang pernah aku berikan kan?” “Mr bakalan tahu yang sebenarnya nanti. Saya tidak mungkin bicara sekarang, saya tidak ingin kondisi Mr semakin memburuk.” Alex menghembuskan napas pelan. “Kalau kamu tidak ingin mengatakannya sekarang. Saya akan berusaha untuk mencari tau tentang kamu dan juga aku..” “Dari yang kamu katakana tadi.Apa kamu sangat trauma akan hal itu? Apa karena itu juga kamu tidak ingin menjalin hubungan dengan pria lain?” Leona hanya diam kemudian menghembuskan napas pelan. “Ya,” jawabnya singkat. “Maafkan saya, jika saya melakukan kesalahan,” kata pria itu. Leona mengangguk kecil, dia mengusap air matanya yang masih mengalir di sana. “No problem. Mr, bisa minta tolong?” Kening Alex mengkerut. “Tolong lupakan semua kejadian barusan. Anggap saja kita tidak pernah melakukan yang tidak seharusnya kita lakukan,” ucap Leona melirik. Alex menatapnya heran. “Kenapa?” Leona menggelengkan kepalanya seakan tidak terjadi apa-apa. Dia berusaha semaksimal mungkin untuk tersenyum, meskipun hatinya terasa teriris di dalam sana. “Saya tidak ingin ada rumor tentang kita. Karena hubungan kita juga sudah berakhir sejak lama.” “Kita bisa mengulang dari awal bukan?” Leona tersenyum miris. “Saya tidak yakin itu. Ingat pesan saya, hati-hati dengan kekasihmu sendiri. Kalau begitu saya duluan.” Dia membuka pintunya dan menutup pintu itu kembali. Leona berjalan dengan cepat. Sesekali dia memegang bibirnya. Dia mengingat kejadian tadi sewaktu di ruangan. Wanita itu meremas dadanya yang terasa sesak. “Aku belum siap jika Alex ingat semuanya.” “Leona! Tunggu!!” Teriakan kecil itu membuat dia menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dengan cepat dia mengusap pipinya yang terasa sembab. “Kamu menangis?” tanya Felix tiba-tiba saat melihat matanya sembab. Leona mengalihkan pandangannya sekilas. “A—aku hanya kelilipan saja ko,” ucap Leona diselingi dengan senyuman palsunya. Felix nampak tidak percaya. “Apa Alex menyakitimu lagi?” Dia menggelengkan kepalanya pelan. “Tidak kok. Jangan membuat masalah di sini ya Felix?” ucapnya dengan wajah memohon. Felix hanya menghela napas pelan. “Setelah kerja. Kamu siap-siap ya?” “Acara Alex?” “Ya … mau ke mana lagi coba Leona sayang?” ucap Felix sembari mendesis, tidak lupa dengan kekehan kecilnya. Leona ikut tertawa di sana. “Oh ya, Alex sedikit keberatan tadi. Tapi … kamu tidak usah khawatir dia mau kok.” “Aku kira dia bakalan marah karena jadwal berubah. Bagusdeh, memang kamu seperti pahlawan,” ucap Felix seperti membanggakan dirinya. Leona hanya tersenyum kecil. “Tapi … kamu benar-benar tidak apa-apa kan? Aku khawatir dengan keadaanmu seperti ini.” Leona menyoba untuk tertawa. “Tidak apa-apa Felix. Serius deh! Udah sana! Kerja!” Leona mendorong bahu pria itu pelan. “Dih! Oke-oke, awas saja kalau Alex menyakitimu. Aku tidak akan diam, serius!” kata pria itu sebelum pergi dari hadapannya. Leona menghembuskan napas pelan. Ucapan adik Alex itu sangatlah mirip dengan apa yang dikatakan Alex sewaktu dirinya masih berpacaran dengan Alex. Kadang dirinya merasa rindu kenangan bersama Alex, tapi semua berputar layaknya sebuah kaset. Yang di mana kenangan yang pahit terputar kembali, meskipun dirinya ingin mengenng kenangan yang cukup membuatnya senang. Leona menggelengkan kepalanya cepat untuk menyadarkan lamunannya. Dia melangkahkan kakinya ke toilet wanita dan membasuh wajahnya yang nampak terlihat sembab. Dirinya menatap cermin yang terdapat bayangannya di sana. “Leona … kamu sangat kuat untuk bekerja di sini. Tapi … aku harap kamu tidak kembali ke masalalumu.” Wanita itu memejamkan matanya sekilas. “Apa bisa aku melanjutkan pekerjaanku sebagai asisten Alex sampai aku mendapatkan gaji yang sepantasnya?” Leona sangat bingung dengan keadaannya sekarang. Kalaupun dirinya keluar dari sini, dia tidak tega dengan Alex yang kini terjebak dengan kekasih pria itu. “Sepertinya memang ini yang harus aku lakukan. Aku harus bertahan demi keselamatan Alex. Aku tidak ingin kalau dia kenapa-kenapa.” Leona keluar dari bilik toilet. Siapa sangka ada Rose yang berdiri di hadapannya sekarang. Dia menghembuskan napasnya berkali-kali. Sepertinya wanita yang berada di hadapannya ini akan mengancamnya. Dia memalingkan wajahnya. “Kenapa lagi, hah?” Rose tersenyum miring. “Menurutmu? Kenapa kamu masih dekat-dekat Alex hah? Mau merebut Alex dari aku!?” Leona mendecih pelan, kemudian bersedekap d**a. “Seleraku bukan seperti Alex, maaf. Lagipula, kamu sudah mengambil sampahku. Apa yang harus aku ambil darinya? Tidak ada gunanya.” Mata wanita itu sontak membulat. “Kamu yak!” baru saja Rose ingin melayangkan tangannya, namun dia segera mencekal tangan wanita itu dengan cepat. “Apa! Aku tidak takut ya sama kamu! Aku cuma mau menyeleamatkan nyawa Alex itu saja! Kalau kamu memang mencintai Alex, bukan seperti ini caranya!’ Tangan Leona terlihat ditepis oleh Rose. “Kenapa kamu yang repot hah! Justru bagus kalau nyawa dia terancam! Aku bisa mengambil harta dia dan bisa mengambil alih kantor ini.” “Oh ya?” Leona mendesis kecil. Dia memperlihatkan ponsel yang sudah merekam pembicaraannya dengan wanita itu. “Semua itu hanya wacana saja, Nyonya Rose? Apa yang bisa kamu lakukan setelah ini hah?” Nampak terlihat mata Rose yang membulat hebat. Sepertinya wanita itu shock karena dirinya sudah merekam pembicaraannya. Dia memang sengaja sewaktu tau kalau Rose sudah di hadapannya. “Hapus tidak!” bentak Rose ingin mengambil ponselnya dari tangannya. Leona segera menghindar dari sana. “Kalau kamu tidak ingin semua ini aku sebarkan. Lebih baik kamu berhenti memberi obat itu kepada Alex, Rose dan satu lagi,” ucapannya menggantung. “Putuskan Alex!” Rose terdiam di sana. Mata wanita itu nampak geram. “Memangnya kamu siapa hah! Cuma asisten saja sekarang kan? Hah … hah?” kata wanita itu sembari mendorong-dorong Leona. “Aku tidak peduli ya! Ka—“ Leona ingin membantah, namun keseimbangannya tidak stabil karena dorongan dari Rose yang sangat kuat sehingga membuat dia terjadtuh dan kepalanya terbentur dengan tembok dengan keras. “Ahh!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN