Kesalahan Leona

1104 Kata
Jujur saja Leona sangat muak dengan acting wanita ini barusan. Tidak ada gunanya berbicara dengan pria yang jelas-jelas akan memperdulikan kekasihnya itu. “Leona, lain kali kamu jangan macam-macam sama Rose. Saya tidak akan diam kalau dia lecet sedikitpun.” Leona tidak percaya apa yang diucapkan oleh pria itu barusan. “T–tapi kan?” Alex tidak memperdulikannya. Pria itu langsung meninggalkan dirinya di tempat ini demi wanita jaga itu. Leona mendesah kesal, sudah feeling-nya kalau pria itu akan melindungi wanita itu. “Sialan, wanita itu benar-benar belum tau siapa aku? Alex juga kenapa bodoh sekali sih?!” gerutunya kesal. Kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dari gedung itu. Tak mau memikirkan Alex, Leona segera pulang dari kantornya itu. Bukan karena dia tidak ingin ikut campur urusan mereka, namun dirinya sangat lelah karena sudah bekerja seharian. *** Hari ini, Leona bekerja seperti biasanya. Menyiapkan berkas-berkas dokumen yang akan dibawa oleh Alex nanti dan juga dokumen beberapa karyawan yang harus di tanda tangani. “Tumben datang pagi?” kata seorang pria yang baru saja masuk ke dalam ruangan itu. Leona sempat diam, dia hanya tersenyum kecil di sana. “Maaf Mr. Ada beberapa dokumen yang harus di tanda tangani,” katanya untuk mengalihkan pembicaraan, kemudian kembali lagi di meja kerjanya. “Ada apa denganmu, Leona? Saya barusan tanya padamu.” Leona menoleh kearah pria itu. “Apa itu penting Mr?” Alex nampak mendengus kesal dan tidak merespon ucapannya barusan. Kemudian duduk di meja kerja untuk menyelesaikan semua pekerjaan yang belum sempat di kerjakan. “Untuk pertemuan kita dan juga keluarga Mr akan di cencel. Soalnya tidak ada waktu untuk itu, jadi kita melangsungkan acaranya nanti malam,” katanya tanpa menatap Alex. Di sana, Alex nampak bingung dengan ucapan Leona barusan. “Kenapa mendadak sekali?” Leona menoleh ke pria itu dan tersenyum manis di hadapan pria itu. “Saya sudah meng-echeck jadwal Mr. Bahwasanya tidak ada jadwal untuk nanti malam dan juga mereka sudah siap. Untuk tempat dan lainnya ada Felix yang mengaturnya.” “Kenapa harus Felix! Kan saya ingin kalau semua pekerjaan ini diurus dengan kamu hah?!” Leona mengangkat bahunya. “Felix ingin membantuku dan dia tidak keberatan atas hal itu. Lagipula ... Felix juga keluargamu bukan?” Alex mengkerutkan kening. “Kenapa kamu berani sekali dengan saya? Saya hanya ingin kamu berdiskusi dulu sama saya apa itu susah hah!” “Saya tidak mau ambil pusing Mr. Mr juga free kan? Kenapa harus diskusi? Lagipula Mr juga sudah menyerahkan semuanya ke saya kan?” Leona nampak tidak mau mengalah. Alex hanya diam di sana. Leona menghela napasnya pelan. “Kalau tidak ada yang Mr bicarakan lebih baik saya keluar. Ada yang lebih penting dari ini.” Leona beranjak dari tempat duduknya dan membawa tasnya. Belum saja dia membuka pintunya, namun pria itu menahan pintunya supaya tidak terbuka. Pria itu mengunci tubuh Leona tepat di depan pintu. Leona spontan membelalakkan matanya. Sudah terlihat jelas jika pria itu sangatlah marah karena ucapan Leona barusan. “Kenapa kamu berubah? Kamu mau uang gajimu di potong?” Leona terdiam. Jantungnya berdegup dengan kencang setelah melihat wajah Alex dari dekat. Dia menegukkan ludah susah payah. “A–aku––” “Kalau kamu bosan bekerja dengan saya katakan saja. Saya bisa mencari asisten lebih baik dari kamu?!” ucap Alex sedikit menekan. Tangan pria itu menggebrak pintu di belakang kepalanya, sehingga membuat Leona menunduk dan memejamkan matanya takut. Tangan Leona bergetar di sana. Napasnya tidak beraturan. “Leona?” “Ma–maafkan saya, Mr.” Alex menarik dagu Leona pelan. Mata Leona berkaca-kaca, sungguh dirinya sangat takut dengan Alex. “Maafkan saya, apa kamu takut?” Leona terdiam, kemudian menggelengkan kepalanya. “Tidak apa Mr, saya-- memang salah. Jangan pecat saya.” Alex menghela napas pelan, pria itu masih diam di tempatnya. “Apa yang membuatmu bersikap gegabah seperti itu hah? Pasti ada alasannya kan?” Leona menggelengkan kepala, dia memalingkan wajahnya ke samping. “Saya ada masalah Mr, maafkan saya.” “Masalah? Memangnya ada masalah apa hah? Apa karena itu sehingga Felix ikut membantumu?” Leona menggelengkan kepala. “Bukan ... Memang dari awal dia sudah ingin membantuku.” “Terus?” Leona mendongakkan kepalanya, memberanikan diri menatap pria itu. Air matanya membendung di sana, ingin rasanya dia berteriak kalau dirinya sangat kesal dengan pria yang berada di hadapannya ini. Pria itu terus membela wanita yang sudah menyelakai nyawa pria itu sendiri. Leona memalingkan wajah kembali, dia menghela napas gusar. “Jika saya bercerita pada Mr, apa Mr akan percaya dengan masalahku?” Kening Alex nampak mengkerut. “Memangnya masalah apa? Jangan membuat saya semakin penasaran Leona.” “Ini tentang kekasihmu itu.” “Kekasihku? Apa kamu benci dengan dia? Karena dia tidak menemani saya waktu di rumah sakit?” “Apa hanya itu saja?” Leona berbicara dengan lantang. “Apa tidak ada yang lain yang ingin kamu tau?” Alex terdiam di sana seperti sedang berpikir. “Saya tidak akan menceritakan masalahnya untuk sekarang Mr. Tapi saya sarankan Mr harus berhati-hati dengan kekasih Mr untuk saat ini. Saya hanya membantu memantau wanita itu. Jika terjadi apa-apa saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Mr.” “Apa yang kamu katakan Leona, hah? Saya tidak mengerti.” “Sudahlah Mr. Saya sangat kesal karena Mr kemarin membela kekasih Mr itu. Bukan karena saya iri dengan kalian! Tapi saya muak dengan drama dia Mr! Saya yang kena tuduhannya! Padahal dia sendiri yang duluan yang membuat masalah denganku!” Leona bercerita layaknya sorang kekasih pria itu. Leona menundukkan kepalanya, dia terisak pelan. “Saya benar-benar lelah dengan drama semua wanita. Apalagi wanita yang sekarang menjadi kekasih Mr. Dia bukan wanita baik-baik Mr! Dia berusaha untuk menyelakai Mr!" Alex tidak berkutik di sana. Pria itu mencerna apa yang dikatakan Leona barusan. “Apa yang kamu katakan itu benar? Kalau memang benar, apa ada bukti semua itu?” “Kenapa kamu sangat peduli dengan saya?” Leona menatap sayu mata pria itu, begitupun sebaliknya. Dia merasa nyaman saat berada di dekat pria itu. Air matanya kini menetes kembali. “Karena aku masih mencintaimu Alex, tapi ada rasa kecewa yang menghalangi semuanya.” Leona tidak menyadari apa yang diucapkan barusan. Alex masih diam di sana, tangan pria itu menepis air mata Leona yang sempat menetes. “Apapun yang kamu katakan semoga benar ada, Leona,” ucap Alex lirih. Tak lama wajah Alex dimiringkan dan di pejamkan. Leona terus menatap wajah pria itu, kemudian memejamkan matanya perlahan. Sentuhan lembut bibir Alex membuat dirinya lupa diri. “Aku merindukanmu Alex, jangan pergi lagi, jangan sakit lagi,” katanya lirih di sela-sela lumatan kecil dari Alex.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN