Leona menghembuskan napas pelan, dia mengambil minuman yang berada di meja saja.
“Kenapa Leona?”
Leona menggelengkan kepalanya cepat dan tersenyum pada Tante Monica. “Tidak ada Tant, lanjut makan saja.”
Tante Monica menoleh ke arah lain. “Sepertinya kamu sangat tidak nyaman?”
Leona meringis kecil dan melanjutkan makannya. “Sudah biasa Leona Tante, Tante tidak perlu khawatir ya?”
“Baru kali ini melihat wanita seperti kamu Leona.”
Leona tersenyum tipis.
Setelah selesai makan. Leona memutuskan untuk mengantarkan Tante Monica ke depan kantor itu.
“Hati-hati ya, Tante!” teriak Leona sembari melambaikan tangan di sana. Dia menghembuskan napas pelan menatap mobil itu sudah menghilang dari pandangannya.
Leona berjalan ke dalam lagi untuk mengerjakan pekerjaan yang belum sempat dia lakukan.
“Masa iya aku dinner sama keluarganya? Padahal kita juga ada acara nantinya?” gumamnya sembari menatap layar ponselnya yang mati. Dia menghembuskan napas pelan kemudian masuk ke dalam ruangannya dan duduk di tempat kerjanya.
“Ada apa Leona? Sepertinya kamu sangat lelah?” tanya Alex tiba-tiba.
Leona menoleh ke sumber suara, dia menerjapkan matanya pelan. “Mr? Dari tadi di sini?” tanyanya spontan. Berarti dari tadi Alex mendengarkan keluhannya dong?
“Menurutmu?” kening Alex nampak mengkerut, kemudian pria itu melangkah untuk menyerahkan beberapa berkas ke mejanya.
“Semuanya ada di sana. Kamu harus fokus mulai besok ya. Saya harap semuanya selesai dalam waktu dua bulan.”
Leona membuka beberapa kertas yang di sana. Kemudian melirik Alex. “Kalau lebih bagaimana Mr?”
“Tidak masalah. Lebih cepat lebih baik. Ah ya, soal acara keluarga ... Bagaimana?”
Leona meletakkan kembali berkasnya dan mengambil salah satu kertas di sana, kemudian berdiri untuk memberi kertas yang sudah rapih dengan covernya itu ke Alex.
“Semua sudah siap. Dari jam, tempat dan juga dekor tempatnya. Saya juga memakai dress code di dalamnya. Supaya semua tidak terasa hening, jadi saya merekomendasikan untuk pemain biola untuk memecahkan keheningan. Dan satu lagi ... Nama-nama yang ikut di acara Mr ada di dalam,” jelasnya.
“Jadi ... Saya tidak perlu ikut kan Mr?” tanya Leona sembari mengedipkan kedua matanya seakan dirinya menginginkan itu.
Alex nampak melirik kearahnya. Pria itu menghembuskan napas pelan. “Kamu tetap ikut. Sesuai dengan kontrak kita, ingat itu,” kata pria itu dengan nada tegas sebelum kembali ke meja tugasnya.
Leona menghela napas pelan. “Apa perlu Mr? Itu acara keluarga Mr kan? Bukan acara umum?”
“Kamu tetap harus ikut. Saya tidak mau tahu,” ucap Alex kekeuh.
Sudut mata Leona melirik kearah Alex yang kini sudah fokus dengan laptopnya. “Nyebelin banget kalau Alex maksa kayak gini,” batinnya.
***
Hari sudah larut malam, waktunya Leona membereskan beberapa kertas yang berserakan di meja kerjanya.
“Mau pulang bareng?” tawar Alex.
Sudut mata Leona melirik ke Alex sekilas, kemudian dia membawa tas selempangnya. “Tidak usah Mr. Tidak enak juga kalau dilihat mereka.”
“Kan kamu memang asisten saya Leona. Wajar bukan sih?”
“Menurutku tidak wajar Mr. Banyak yang membicarakan kita, jadi saya harap kalau tidak ada kepentingan lebih baik kita sendiri-sendiri saja,“ ucap Leona, kemudian dia melangkahkan kakinya dari tempat itu.
Leona menghembuskan napasnya saat berjalan di koridor kantor, dia memijat kening pelan. Kalau saja semua pekerjaan bisa menggunakan robot, mungkin saja dirinya menggunakan robot itu.
“Astaga, apa yang aku pikirkan? Bukannya dari dulu kamu ingin bekerja Leona? Lagipula ini demi aku juga kan? Kalau tidak kerja mana bisa aku makan?” gumamnya.
Leona menggelengkan kepala, kemudian dia masuk ke dalam lift. Dan ternyata ada seorang wanita yang ikut masuk ke dalam lift tersebut.
Kening Leona mengkerut, dia menatap heran dengan wanita yang berada di sampingnya ini.
“Sepertinya kau sangat bahagia bisa dekat dengan Alex?” kata wanita itu spontan sembari memandang ke depan.
Apa yang dikatakan oleh wanita ini?
Dia menghela napas pelan. “Kamu siapa? Kalau tidak tau apa-apa lebih baik kamu diam.”
“Oh ya? Kau pasti tahu aku, Leon,” ucap wanita itu, kemudian membuka kacamata yang di pakai oleh wanita itu.
Leona menerjapkan matanya pelan. Shock bukan main kalau wanita yang bersamanya ini adalah kekasihnya Alex. “Kamu?”
Wanita itu tersenyum smirk. “Kenapa? Saya tahu kalau kau akan merusak semua rencana ku?”
“Aku tidak ingin membahas itu,” ucap Leona datar.
“Terus? Kalau kau tidak ingin ikut campur, kenapa kau ikut-ikutan masuk ke dalam masalahku, Nona Leona.”
Leona mendesis kecil, dia tidak merespon ucapan dari wanita yang di sampingnya.
“Jangan macam-macam denganku. Kalau tidak? Keluargamu yang akan jadi taruhannya,” kata wanita itu dengan nada datar.
Spontan Leona menoleh ke samping, dia memincingkan matanya. “Atas dasar apa? Kamu tidak berhak untuk membawa masalah ini ke keluargaku?!”
Wanita itu mendecih pelan. “Tcih! Aku tidak peduli. Kau takut kan? Sudah ku duga. Lebih baik kau menjauhi Alex dari pada mereka yang akan menjadi korban.”
Leona mengepalkan tangannya di bawah sana. Matanya kian memerah. “Sebenarnya kamu mau apa sih dari Alex! Kalau memang dia mencintaimu, kamu tidak perlu memberikan racun itu pada Alex!?”
“Itu yang aku mau,” kata Rose diselingi dengan senyuman mirisnya. “Harta ... Alex.”
Leona tercengo, sempat tidak bisa berkata-kata. Dia menggelengkan kepala cepat. “K–kau? Br*ngsek!”
Leona menjambak rambut wanita itu tanpa rasa takut. “Kamu punya otak tidak hah! Coba aja kalau kamu di posisi itu hah?!”
“Aaaa! Lepaskan rambutku! Leona bodoh!”
“Tidak! Aku tidak takut denganmu ya! Setan!”
Ting! Suara lift terdengar di telinga mereka, namun pertarungan mereka masih belum selesai.
“Leona? Rose!”
Kedua wanita itu terdiam dan menghentikan pertarungannya itu. Kemudian menoleh ke sumber suara.
Leona spontan melepaskan tangannya dari rambut Rose, begitupun dengan Rose. “M–mr? Ma–maaf,” kata Leona.
Alex masih diam di sana, sudut mata pria itu melirik ke arah Rose. “Rose? Apa kamu tidak apa-apa?”
“Sakit ... Dia melukai aku Alex,” kata Rose sedikit manja, kemudian berjalan untuk memeluk lengan kekar milik Alex.
Leona mendecih pelan.