Makan dengan Tante Monica

1203 Kata
Leona nampak cemas melihat Alex kesakitan. Dia tidak peduli apa yang katakana Alex barusan. Lagipula bagus kalau pria itu sudah mengingat semuanya kembali tanpa obat yang berbahaya. Wanita memapah Alex untuk duduk di sana dan menyodorkan minum air putih yang berada di gelas. “Pelan-pelan minumnya Mr.” Alex mendorong gelasnya pelan. Spontan Leona menerima dan meletakkannya kembali. “Apa harus dilanjutkan rapatnya Mr?” tanya Leona baik-baik. Alex masih menunduk, seperti menahan rasa sakit yang bedara di kepalanya. “Sebentar, saya masih pusing. Saya melihat sesuatu di sana, tapi semuanya tidak begitu jelas. Kata doctor saya akan mengingat semuanya, tapi kenapa sampai sekarang saya tidak mengingatnya sama sekali?” gumam Alex. Leona hanya diam di sana. “Mr pasti akan mengerti semuanya nanti. Mau istirahat dulu?” Alex menoleh ke samping, pria itu nampak melirik ke arah kalung yang dipakai oleh Leona. “Apa semuanya ada hubungannya dengan kamu?” tanya Alex spontan. Wajah Leona nampak tegang, dia sangat gugup kalau ada pertanyaan yang seperti ini. “A—apa yang Mr tanyakan? Saya justru kenal Mr waktu saya bekerja di sini,” kata Leona sedikit gugup. Alex mengekrtukan kening, seperti tidak percaya dengan ucapan Leona barusan. “Apa yang kamu sembunyikan? Meskipun saya tidak ingat apapun, saya merasakan jika kita sangat dekat.” Deg! Leona menundukkan kepalanya, dia memainkan jari-jemarinya sendiri di bawah sana. Tak lama dia mendongakkan kepala dan menatap Alex. “Semuanya akan kembali ke semula Mr. Lebih baik Mr fokus dengan kesehatan Mr,” suruh Leona. “Ah ya, saya bawa minumannya ke ruangan dulu ya Mr, saya pamit ke sana terlebih dahulu,” lanjutnya sambil mengambil nampan dan pergi dari hadapan pria itu. Di setiap koridor Leona menghela napas kasar. Dia benar-benar takut jika ingatan Alex akan kembali, pasti pria itu akan memaksanya untuk ekmbali lagi. Langkahnya terhenti di depan ruangan,, tiba-tiba saja air mata menetes di pipinya. Segera dia menepis air matanya dan segera masuk ke dalam. “Kenapa lama?” tanya Felix. “Di mana Alex? Katanya dia mencarimu.” Leona meletakkan coffenya di meja masing-masing. “Dia sedang di toilet, mungkin dia gugup,” alibinya. “Oh ya?” Leona melirik Leo yang sudah terduduk di sana. “Eh Tuan Leo? Kamu di sini juga?” “Apa kamu tidak menyadarinya sedari tadi?” Leo tertawa kecil. Dia hanya menggelengkan kepalanya. “Tidak, saya tidak fokus dari tadi,” katanya, kemudian menarik kursinya sendiri untuk di dudukinya. “Matamu terlihat sembab, apa kamu habis nangis?” tanya Leo penasaran. Leona menerjapkan mata, dia memegang sudut matanya sekilas.”Engh—ti—tidak. Saya kelilipan tadi,” alibinya, sedikit gugup. “Oh … baiklah.” Leo nampak percaya apa yang dikatakan olehnya barusan. Pintu ruangan terbuka dan memunculkan seorang pria yang berada di sana. “Kita mulai sekarang? Semua sudah di sini kan?” suara berat pria itu terdengar nyaring di ruangan tersebut. “Sudah,” jawab semua orang yang ikut serta di dalam ruangan itu. “Baiklah. Sebelumnya … saya akan memperkenalkan rekan kerja saya sekaligus asisten saya yang ikut gabung dalam proyek ini. Namanya Leona, dia akan membantu kita mendesign buku yang akan diterbitkan.” “Dan di sana ada Nona Nathalie seorang penulis yang terkenal dan ikut bekerja sama dengan kita untuk memeluncurkan komiknya di sini. Bukan hanya itu, komik itu akan segera di jadikan film berdurasi pendek dan kemungkinan akan memakan waktu selama lima bulan lebih. Saya sudah menyiapkan semuanya dan beberapa perwakilan grup semoga kalian bisa bekerja sama dengan kita.” Setelah lama Leona mendengarkan pidato panjang dari Alex dan juga rekan kerjanya di sana. Akhirnya dia sudah keluar dari tempat itu. Leher dan punggungnya sangat lelah akibat duduk dua jam di dalam sana. Leona masuk ke dalam kantin untuk memesan makanan, kemudian duduk di salah satukursi yang berada di sana. “Astaga, pusing sekali aku,” gumamnya sembari memijat keningnya sendiri. Wanita itu mengambil ponselnya dan membuka datanya. Ternyata banyak pesan yang masuk di sana terutama tante Monica. Dia mengkerutkan keningnya ketika membaca pesan tante Monica yang menyuruhnya untuk bertemu di depan kantornya. Leona mengekrutkan kening, dia menatap ke luar kaca yang berada di sana. Apa dia harus ke sana? Sedangkan perutnya kini sudah kelaparan. Leona menghembuskan napas pelan, dia melihat layar ponselnya sendiri. “Tante Monica?” gumamnya, dia segera mengangkatnya. “Hallo? Tante? Ada apa ya?” tanya Leona. [Apa kamu sedang sibuk sekarang?] “Tidak kok Tant, sekarang saya di kantin. Saya akan ke bawah, tunggu sebentar ya Tant?” [Kalau begitu biar saya saja yang ke sana. Duduk manis di sana, sampai ketemu nanti,] ucap tante Monica sebelum mematikan panggilannya dari sana. Leona menatap layar teleponnya terus-menerus, dia menghela napasnya. Tak lama pesanan makanannya sampai di mejanya dan dirinya memutuskan untuk pesan lagi untuk di makan tante Monica nantinya. Tak lama seorang wanita berpayuh bayah menghampirinya, siapa lagi kalau bukan tante Monica. Leona segera beranjak dari tempat duduknya dan menundukkan kepalanya sopan. “Maaf Tante, harusnya saya yang datang untuk menghampiri Tante,” katanya sedikit tidak enak. “Tidak apa-apa kok Tante,” ucap Tante Monica diselingi dengan senyuman khasnya. Leona hanya tersenyum tipis di sana. “Sebenarnya Tante mau apa ya? Kenapa ingin bertemu dengan Leona?” tanyanya dengan nada hati-hati. “Jadi ... Begini. Saya memang kurang tau soal Alex. Tante sangat berterimakasih karena sudah perhatian sama Alex. Bahkan kamu sudah menyelamatkan nyawa anak Tante kemarin. Jujudr saja, Tante sangat shock sewaktu doktor bilang pada Tante. Untuk itu ... Saya sangat berterimakasih sama kamu Leona,” ucap Tante Monica tulus. “Saya tidak tau harus apa jika tidak ada kamu di tempat itu,” lanjutnya. Leona terdiam, ternyata Tante Monica sudah tahu semuanya. Dia menghembuskan napas pelan. “Itu sudah kewajiban semua orang Tante untuk menolong apa yang patutnya untuk di tolong,” ucapnya diselingi dengan senyuman kecil. ”Kalau kamu mau, saya menawarkan kamu untuk makan malam bersama keluarga kita. Apa kamu mau Leona?” tawar tante Monica. Leona sempat terdiam, dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Kalau bisa saya akan ikut Tant. Masalahnya saya juga banyak pekerjaan.” “Tante akan menyuruh Alex untuk meringankan tugasmu. Kamu tidak perlu takut sama Alex.” Leona merasa kikuk di sana. “Oh ya Tant? Bukannya nanti juga kita akan bertemu?” “Oh iya, saya juga tidak berpikiran sampai di sana. Tapi ... Sebenarnya itu kan acara untuk adik perempuannya.” Kening Leona mengkerut. “Adik perempuan? Ah–yang dulunya masih sekolah itu ya Tant?” “Nah itu kamu tahu. Dia sudah menjadi sarjana, kalau tidak salah setelah lulus dia akan bekerja di kantormu juga,” kata Tante Monica. Leona hanya memungutkan kepalanya mengerti. “Ah ya, silakan di makan Tante. Leona pesankan makanan untuk Tante,” suruh Leona setelah pesanan tadi sudah sampai. “Eh ya? Terimakasih banyak ya Leona. Kenapa kamu baik sekali sih?” Leona tersenyum lembut. “Kita makan bersama ya Tante.” “Pas sekali, Tante juga belum makan tadi,” kata Tante Monica. Mereka akhirnya memutuskan untuk makan bersama sembari bercanda sesekali di sela-sela makannya. “Sepertinya itu orang tua Mr Alex? Kenapa mereka sangat akrab ya?” “Mungkin saja asisten itu hanya mengambil kesempatan untuk mengambil hati orang tuanya mungkin.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN