Perhatian Seorang Alex

1188 Kata
Kedua orang tersebut menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya ketika seorang bosnya sudah berada di ruangan itu. Dia melihat ke sekelilingnya, ternyata semua berkas-berkasa sudah berserakan di lantai itu. Leona menegukkan ludahnya susah payah, kemudian dia menatap Alex yang tengah menatapnya dengan tajam. “Apa yang kalian lakukan ha! Bukannya kalian duduk manis di kursi kalian masing-masing, tapi membuat kekacauan di ruangan ini!” ucap Alex dengan tegas. “M—maaf Mr, saya benar-benar tidak sengaja,” kata Leona sembari menundukkan kepalanya sekilas. “Sorry Alex, tidak usah marah dong.” Alex berdecak kesal di sana dan memalingkan wajah. “Cepat kalian bersihkan semuanya! Sebelum rekan kita datang ke sini,” suruh pria itu. Leona mengangguk kecil dan segera untuk memunguit berkas-berkas di sana. “Lagipula, kalian sudah besar. Bisa-bisanya kalian bermain seperti anak kecil hah? Tidak tau tempat atau bagaimana?” “Leona duluan.” “Felix duluan,” kata Leona berbarengan dengan Felix. Dia melirik ke Felix kesal. “yang benar saja kamu Felix. Bukannya kamu duluan hah! Ini namanya fitnah!” “Apaan kamu dulaun yang memulai kenapa jadi aku yang disalahkan hah?’ “Stop! Berhenti berdebat!” Leona dan Felix spontan berdiri tegak karena suara Alex yang menggema di ruangan tersebut. “M—maaf Mr,” katanya sekali lagi sembari menundukkan kepalanya. Alex menghembuskan napasnya dan menarik kursi untuk di duduki pria itu. “Aku membutuhkan tanganmu Leona. Apa kamu bisa membantuku?” tanya Alex. Mata Leona membulat seketika. Bisa-bisanya pria itu ingin mengambil tangannya, sepertinya Aelx sudah guila. “Alex kamu jangan macam-macam ya. Kalau marah, marah saja. Tidak usah menghukum dengan mengambil tangan Leona, Br*ngsek.” Sorotan mata tajam Alex ke Felix membuat Leona menegukkan ludahnya susah payah. “Astaga, kenapa dia seram sekali?” batinnya. “Lebih baik kamu diam sebentar Felix. Mau aku keluarkan namamu dari kartu keluarga?” “Y—ya tidak mau. T—tapi kan itu sangat –“ Alex menghembuskan napas pelan dan memejamkan matanya sekilas. “Maksudku, aku meminta bantuan untuk membuat desain, dasar! Otakmu bisa di hapus sedikit tidak sih?” Leona menghela napasnya lega. Ternyata pria itu tidak berniat untuk menyakitinya. Dia meletakkan berkas-berkas yang sudah di ambil tadi di meja. “Saya sudah menyiapkan i-pad untukmu. Saya harap kau bisa mendesign sebagus mungkin. Kerena menurut saya komik ini sangatlah bagus untuk di cetak. Saya tau kemampuan tanganmu sangat bagus, jadi untuk kali ini saya akan meminta bantuanmu. Setelah ini kita akan bertemu dengan reka kerja kita dan bekerja sama. Saya harap kalian mengerti keadaan nantinya.” Leona mengangguk paham. “Baiklah, Mr. Saya akan berusaha semaksimal mungkin. Akan tetapi sepertinya tidak usah memberikan saya i-pad. Saya sudah mempunyai sendiri.” “Anggap saja itu hadiah karena sudah membantuku. I-padmu simpan di rumah dan I-pad yang saya kasih, kamu pakai di sini. Untuk fee, saya akan membayar dua kali lipat. Karena saya tahu, kalau mendesin sangatlah membutuhkan waktu lama dan harus teliti.” “Kalau begitu. Baiklah, saya akan menerima semua permintaan Mr.” “Oh ya? Acara keluarga apa kamu sudah menyiapkan semuanya?” “Aku sudah membantunya. Leona tinggal merevisi semuanya,” selak Felix. Alex mengangguk kecil. “Baiklah. Jadi kita tinggal menunggu rekan kerja kita terlebih dadulu.” “Saya buatkan minuman buat mereka juga Mr.” Leona beranjak dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke koridor untuk ke dapur. Leona membuatkan beberapa cofe untuk beberapa rekan kerjanya nanti. Dia tidak habis pikir jika Alex akan membuatuhkannya. Setelah di pikir-pikir pria itu sudah menjelek-jelekkan karena kemampuannya yang di bawah rata-rata dengan orang lain. Dia menghembuskan napas pelan, akibat melamun wanita itu tidak sengaja mengaduk sampai terkena tangannya. “Awsh!” ringisnya sembari mengibaskan tangannya. Leona melihat tangannya yang mulai memerah. “Kenapa aku teledor sekali sih,” gumamnya. Dia segera mencuci tangannya di wastafel. “Leona?” Leona menoleh ke belakang, betapa terkejutnya kalau Alex sudah berada di bealakngnya. Segera dia menutup kran wastafel dan berdiri di hadapan pria itu. “Iya, ada apa ya Mr?” Alex nampak melihat ke belakangnya. Sepertinya pria itu menyadarinya. “Ah iya, tadi saya membuat lima gelas jadi saya agak lama. Sebentar tinggal satu gelas, saya aduk sebentar.” Dia mengambil gelas tadi untuk menyiapkan coffe kembali. “Biar saya saja.” Alex menahan lengan Leona dan menarik wanita itu ke belakang untuk meggantikannya. Leona sempat diam melihat pria itu yang ikut membantu menyiapkan coffe. “M—mr, biar saya saja,” kata Leona tidak enak. “Saya ingin belajar membuat coffe supaya saya tidak merepotkan kamu Leona.” Leona memejamkan mata sekilas. “T—tapi itu sudah tugas saya Mr. Sini biar saya yang buat ya Mr.” Hendak ia mengambil gelas itu, namun pergelangan tangannya di tahan oleh Alex. Meraka saling tatap. Manik-manik mata Leona menatap mata indah milik pria itu. Sungguh mata Alex sangat indah. Jantungnya kini berdetak dengan cepat. “Tanganmu merah, apa kamu habis terkena air panas?” tanya Alex setelah melihat tangannya itu. Begitupun Leona, dia menyadarkan lamunannya seketika. “Eng—i—ini cuma terkena sedikit kok Mr. Tidak usah khawatir,” kata Leona sedikit khawatir dan menyembunyikan tangannya kembali ke belakang punggungnya. “Aku akan mengompres tanganmu. Di sini ada es batu kan? Kamu duduk saja. Sebentar lagi kita akan bertemu mereka, harusnya kamu tidak terluka seperti ini.” Leona terdiam, melihat Alex yang nampak khawatir padanya. “Saya tidak apa Mr,” katanya sekali lagi. ‘’ Alex mengambilkan baskom dan juga es batu. Tak lupa mengambil kain untuk mengompres nanti. Pria itu menarik kursi. “Cepat duduklah. Waktu kita tidak lama,” suruh pria itu. Tak mau menolak, wanita itu segera duduk di kursi. Dia melihat Alex yang duduk di hadapannya dan segera menarik tangannya lembut untuk mengompres tangan yang memerah tadi. “Lebih cepat lebih baik jika ada yang terluka. Takutnya nanti kulitmu kenapa-kenapa,” kata Alex sambil mengompres tangannya. Leona terdiam di sana, dia terus menatap Alex terus. Jujur saja dirinya merasa tersentuh jika pria itu sangat perhatian padanya meskipun pria itu sedang tidak ingat padanya. Leona sangat hangat jika Alex seperti ini. Andaikan saja, Alex tidak pernah melakukan kesalahan. Mungkin dirinya sudah menikah dengan pria yang berada di hadapannya ini. Tak sadar air mata Leona menetes di pipinya. “Leona? Are you okay?” tanya pria itu nampak khawatir. Leona memalingkan wajahnya dan segera menepis air mata yang sempat keluar. “T—tidak apa-apa Mr. Maaf sudah mengkhawatirkanmu,” ucap Leona lirih. Tangan pria itu menarik dagunya dan menatapnya lembut. “Apa kamu sakit? Kamu bisa istirahat terlebih dahulu. Aku akan menghandle semuanya dengan Felix,” kata pria itu lembut. Leona menerjapkan matanya pelan . “Tidak—tidak usah Mr. Saya tidak apa-apa. Biar saya bawakan minumannya.” ALex menahan lengannya kembali, sebelum dirinya beranjak. “Biar saya saja,”kata pria itu dan menyiapkan minuman di nampan. Namun tiba-tiba saja pria itu menunduk dan memegang keningnya sehingga membuat dirinya berjalan cepat untuk mendekati pria tersebut. “Mr? kamu tidak apa?” tanyanya khawatir. Pria itu menoleh ke arah Leona dengan memincingkan matanya. “Leona? Kamu di sini?” Deg! Jantungnya berhenti seketika.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN