Alex Marah?

1149 Kata
“Ehem!” suara deheman membuat mereka tersadar dari tatapan mereka. Leona segera menjajarkan duduknya dengan benar dan menatap ke depan. Dia sangat kesal ketika melihat Felix yang hanya menertawakan di sana. “Sialan, awas saja kamu Felix,” batin Leona. Setelah sampai di kantor, Leona segera turun dan bergegas untuk membukakan pintu untuk Alex. “Mari Mr.” Leona memapah Alex untuk turun dari mobil tersebut. “Saya bisa jalan sendiri, tolong lepaskan tangan saya,” suruh Alex. Leona mengikuti kemauan Alex dan mengikuti pria itu dari belakang. “Sepertinya dia sudah tidak menyukaimu lagi, Leona,” bisik Felix menjajarkan jalannya dengan Leona sembari terkekeh kecil. Leona melirik ke samping, dia menatap tajam ke arah Felix. “Lihat saja nanti, kamu bakalan habis sama aku Felix,” desisnya sedikit mengancam. Felix hanya tertawa kecil mendengarkan ancaman dari Leona. Semua karyawan yang berada di sana nampak berdiri untuk menyambut Alex kembali bekerja. “Kenapa sih orang seperti Alex pantas untuk di hormati? Pasti Alex mengancamnya kan?” kata Leona pelan. “Memang sudah seharusnya begitu. Kalau tidak, mereka tidak akan di gaji,” ucap Felix dengan santainya. “Kamu sama saja,” kata Leona spontan. Setelah melewati beberapa koridor dan juga lift, akhirnya mereka sampai di ruangan Alex. Alex nampak mengambil paperbagu dan memberikan kepadanya. “Buat kamu, kamu bersihkan tubuh kamu, setelah itu ganti pakaian dengan pakaian itu. Saya akan menunggumu.” Felix tertawa kecil di sana. “Sepertinya kamu habis ini akan di unboxing sama Alex,” ucap pria itu. Spontan dia membulatkan matanya setelah menerima paperbagnya. “Bisa tidak sih kamu tidak memikirkan yang tidak-tidak hah!?” kata Leona dengan membulatkan matanya. “Felix? Kembali bekerja! Terimakasih sudah membantuku, lain kali kalau kamu meminta bantuan bisa menelponku langsung,” ucap Alex. “Kalau minta bantuan sekarang boleh tidak?” Kening Alex mengkerut. “Bantuan apa?” “Dekatkan aku dengan asistenmu ini.” Leona membulatkan matanya kembali dan mencubit pinggang Felix sehingga membuat pria itu meringis kecil. “Lebih baik kamu pergi dari sini FELIX!” “I—iya Sayang, aku pergi.” Setelah dilepaskan, Felix segera pergi dari ruangan sana. Leona menghembuskan napas lega, sungguh dia lebih tertekan jika bersama adik Alex daripada Alex sendiri. “Saya akan mengantarkanmu di tempatku untuk mandi. Ayo,” kata Alex berjalan terlebih dahulu. Leona pun mengikuti pria itu dari belakang. Dia sempat berpikir apa ada tempat lagi di atas sana, lantas kenapa ada lift khusus di tempat ini? Leona melihat ke belakang, tidak ada satu orangpun di sana, dia masih terdiam dan tidak masuk ke dalam lift tersebut. “Leona? Jangan buang-buang waktuku, cepat masuk,” suruh Alex. Wanita itu tersadar dan segera masuk ke dalam lift tersebut. Ini bukan sembarangan loift, buktinya lift yang di bawah tidak selebar ini, mungkin hanya bisa di masuki paling banyak lima orang saja, akan tetapi tidak dengan lift ini. Setelah sampai di atas, Alex terlebih dahulu untuk keluar dan Leona masih mengikuti pria itu dari belakang. Jujur saja dia sangat terkesima dengan tampat ini, sepertinya ini tempat pribadi untuk Alex. Leona berjalan mendekat ke arah jendela yang begitu besar sehingga dirinya bisa menatap pemandangan dari atas sana. “Mr? Ini—kamarmu?” tanya Leona tidak percaya. Alex mengangguk kecil. Pria itu membuka jasnya dan meletakkan di sampiran. “Cepat ganti bajumu, setelah itu kita kembali ke kantor.” Leona spontan menutup mata ketika pria itu membuka jas di depanya. “Kenapa lagi Nona Leona? Kamu ini sangat aneh. Bahkan kekasihku saja tidak malu untuk melihatku telanjang d**a,” ucap Alex kemudian. Wanita itu membuka matanya pelan, yang benar saja. Kenapa pria itu menyamakan dengan wanita lain yang sudah terlihat murahan? Dia mendesis kecil. “Saya tinggal keluar. Kalau sudah selesai kamu segera ke bawah untuk meeting dengan saya dan juga rekan kerja saya,” ucap Alex sebelum keluar dari tempat tersebut. Leona mengangguk mengerti. Dia memandangi Alex yang punggungnya sudah menghilang dari pandangannya. Sebelum ke kamar mandi, dia menelusuri kamar yang luas itu. “Gila, Alex memang tidak main-main dengan pekerjaan ini. Aku sangat kaget Alex bisa berubah seperti sekarang,” gumamnya. Langkahnya terhenti ketika melihat sebuah bingkai foto Alex dan juga kekasihnya tadi. Dia meringis kecil dan menertawainya. “Alex, kamu ternyata masih sangat bodoh kalau soal percintaan. Kalau aku jadi kamu pasti aku akan mencari wanita yang lebih baik dari seorang Leona, bukan malah memberi kesempatan kepada wanita yang hampir mencelakaimu,” gumamnya. Leona menghela napas kasar, dia segera mengambil handuk yang tersampir di sana dan masuk ke dalam untuk membersihkan badannya sendiri. Setelah selesai melakukan ritual di kamar mandi Leona segera berganti pakaian di sana. Dia menyisir rambutnya di depan cermin, kemudian memakai bedak senatural mungkin dan juga liptin. “Perfect, tinggal keluar dari tempat ini,” gumamnya, kemudian dia menyelempangkan tasnya di lengan dan segera keluar dari tempat itu. Tiba-tiba saja ada panggilan telepon setelah menunggu lift terbuka. Dia segera mengambil ponselnya dan juga mengangkatnya tanpa berpikir panjang. “Ya, hallo?” [Leona? Apa Alex bersama kamu sekarang?] tanya seorang wanita itu seperti cemas pada anaknya. Dia melihat ke layar ponselnya yang tertera nama Monica di sana. Ternyata mama dari Alex, pantas saja terdengar sangat khawatir? Lagipula apa Alex tidak memberi kabar pada mama kesayangannya ini? Leona kembali meletakkan ponselnya itu ke telingannya dan berjalan masuk ke dalam lift yang terbuka dan memencet tombolnya kembali. “Iya Tante. Saya sama Alex, tapi sekarang Alexnya sudah ke bawah.” [Huft … syukurlah kalau begitu. Tolong jaga anak saya. Kalau dia kekeuh untuk maksa, kamu tegur saja,”] ucap tante Monica nampak kesal. Leona tertawa kecil. “Baiklah Tante, kalau begitu Leona kerja dulu ya.” Dia segera mematikan panggilan dan pas banget liftnya sudah terbuka. “Sudah selesai?” Betapa terkejutnya ketika Alex tiba-tiba sudah berada di depannya. Dia memejamkan matanya untuk menahan rasa kesal. “Tahan Leona,” batinnya, lalu dia tersenyum lembut. “Sudah Mr, mau balik ke sana?” Alex mengangguk kecil. “Saya mau bersihin badan juga. Kamu ke ruangan utama saja. Nanti Felix bakalan ke sana.” Leona mengangguk kecil. “Baik Mr, saya duluan,” ucapnya sembari menundukkan kepalanyua sopan sebelum pergi dari hadapan Alex. Di sana dia menghela napasnya berkali-kali. “Dia seperti setan saja. Tiba-tiba datang, tiba-tiba menghilang.” Setelah sampai dia membuka ruangan utama dan yang benar saja Felix sudah stay di tempat itu. “Hallo Leona, bagaimana ke kamar Alex? Astaga, sepertinya dia sudah mengambil mahkotamu seperti wanita lainnya,” kata Felix sembari tertawa kecil. Mata Leona membulat ketika mendengarkan ucapan Felix barusan. Tanpa rasa takut sama sekali dia segera mendekat ke Felix dan memukul tubuh pria itu memakai tas selempanganya. “Rasain ini Felix! Kamu kira aku takut gitu sama kamu hah!” “Ash! M—maaf Leona! AKu hanya bercanda.” Bukan hanya sampai di situ. MEreka justru main kejar-kejaran sampai beberapa berkas di sana berkececeran ke mana-mana. “LEONA! FELIX!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN