Leona tersenyum miris melihat wajah Rose nampak kesal.
Rose seperti mengabaikan ucapannya barusan. Wanita itu langsung mendekat kea rah Alex seperti ingin mencari keadilan. “Lihatlah Sayang, asistenmu itu sangatlah menyebalkan.”
“Ros, sudahlah. Ah ya … kalau kamu sibuk, kamu pulang saja,” suruh Alex dengan santainya.
Leona melihat kalau Rose sudah sangat muak. “Kok kamu begitu sih?”
Alex menghembuskan napas pelan. “Semalam kamu di mana? Aku tahu kamu pergi setelah aku tidur.”
Leona bersedekap d**a, menatap Rose yang masih ingin berbicara dengan Alex.
“Alex, aku ada urusan dan itu sangat mendesak,” ucap Rose kemudian.
“Nona Rose, lebih baik Nona Rose pergi sekarang juga. Mr Alex sekarang lagi sakit dan tidak bisa di ganggu dulu,” ucap Leona menegaskan.
Rose menggeram kala itu, kemudian beranjak dari tempat itu.
“Dia sangat keras kepala,” gumam Leona sambil menatap wanita itu yang sudah menghilang dari pandangannya.
Sekilas Leona menghembuskan napas kasar. “Jadi? Mr mau ke kantor atau di sini saja? Saya akan mencarikan orang untuk menjaga Mr di sini,” katanya.
Alex menatapnya lekat. “Saya akan ke kantor.”
Leona menghela napas kasar. “Yasudah kalau itu mau Mr. Saya akan menelpon supir Mr untuk menjemput ke sini.”
Baru saja Leona mengambil ponselnya, namun Alex menyelaknya.
“Felix akan ke sini, nanti kita bareng sama dia aja,” ucap Alex.
Leona terdiam sejenak sebelum mengangguk kecil. Bukannya dia tidak mau menolaknya, tapi sekalian saja dirinya ke kantor meskipun belum persiapan apapun.
Suara ponsel Leona terdengar nyaring di sana membuat wanita itu segera mengangkatnya tanpa melihat layar ponselnya. “Ya, hallo?”
Leona segera menjauh dari Alex untuk mengangkat teleponnya.
“Siapa, Leona?” tanya Alex di sana.
Leona terdiam, dia menoleh ke Alex sekilas sebelum menjawab. “Mamaku, sebentar Mr,” ucapnya dengan pelan, sebelum berbicara lagi dengan orang yang menelponnya.
“Ya Ma, maaf. Nanti Leona kasih kabar lagi oke? Siap Ma, see u,” ucap Leona sebelum mengakhiri panggilannya.
Tiba-tiba saja ada seorang yang membuka pintu ruangan, spontan dia menata pintu tersebut dan ternyata yang masuk adalah Felix.
“Susah siap? Aku akan mengantarkan kalian ke kantor,” ucap Felix masuk ke dalam sana.
Leona melirik ke arah Alex. “Aku panggil suster dulu,” ucapnya langsung keluar dari ruangan itu.
Dia melangkahkan kakinya menelusuri koridor rumah sakit. Sesekali wanita itu memencet tombol call untuk menelpon Ryn.
[Ya, hallo Leona? Ada yang bisa aku bantu]
“Dr? Bisa tidak ke ruangan Alex. Dia ingin pulang, aku harap Dr bisa memulangkan Alex sekarang,” kata Leona.
[Sekarang? Apa kamu serius? Kondisi Alex masih belum sepenuhnya pulih Leona.]
“Aku tidak tau Dokter Ryn, itu kemauan Alex sendiri. Kalau tidak ada kamu mungkin dokter lainnya bakalan nahan Alex di sini.”
[Baiklah, aku akan ke sana. Tunggu sebentar oke?] Setelah itu panggilan dari sana langsung di putuskan. Leona menghembuskan napas pelan, dia duduk di kursi yang berada di depan ruangan pasien.
“Apa aku harus ikut campur dengan urusan Alex?” gumamnya.
Leona terus mengingat apa yang terjadi kemarin. Dia memijat keningnya perlahan. “Astaga, kenapa harus Alex sih?”
“Leona?” panggil seseorang, membuat Leona menoleh ke sumber suara.
Ternyata dokter Ryn yang memanggilnya, spontan dia duduk dengan tegak. Dokter Ryn duduk di sebelahnya. Kening Leona sempat bingung ketika doctor Ryn membawa dua botol cola-cola dan memberikan untuknya.
“Untukku?” tanya Leona.
Ryn terrsenyum tipis. “Ya, buat siapa lagi kalau bukan buat kamu? Aku akan menemani kamu minum. Aku tau kamu sedang memikirkan hal yang aneh-aneh,” kata Ryn.
Leona tersenyum kikuk, dia mengambil minuman itu dan membuka. “Terimakasih.”
Ryn hanya mengangguk kecil.
“Soal Alex? Apa dia bisa pulang?”
Ryn menoleh ke samping dan menatap wanita itu. “Aku sudah menelpon suster dan menyuruhnya untuk mengambil infusnya.”
Leona mengangguk kecil, dia sesekali minum cola-colanya sambil melihat beberapa dokter dan juga pasien yang berada di sana. “Dunia ini memang sempit ya?” katanya sembari tersenyum miris.
Mendengar akan hal itu, Ryn langsung menoleh ke arahnya. Leona ikut menoleh ke Ryn.
“Memangnya kenapa sampai kamu bicara seperti itu?”
Leona tertawa kecil sampai menatap ke bawah lantai sekilas. Jujur saja dia ingin menertawai dirinya sendiri. “Aku sudah mencoba untuk menghindar dari Alex. Tapi, sekarang malah aku bertemu dia kembali,” katanya sembari meringis kecil.
“Itu sudah ada tanda-tanda kalau dia memang jodohmu,” gurau Ryn. Leona melirik ke samping, dia memutarkan bolamata malas.
“Aku tidak yakin. Lagipula aku sudah muak dengan sikap dia yang seenaknya sendiri.”
“Biasanya cinta itu membutakan segalanya Leona. Buktinya kamu dulu pernah disakiti tapi masih tetap bertahan?”
“Itu dulu, sekarang aku tidak sebodoh itu doctor Ryn,” desisnya, kemudian beranjak dari tempat itu. “Aku ke ruangan dulu ya? Makasih minumannya,” ucapnya sembari tersenyum kecil dan melangkahkan kakinya pergi dari sana.
Setelah sampai, dia tidak mau basa-basi untuk masuk ke dalam ruangan tadi. “Bagaimana sudah?”
Alex dan juga Felix menoleh ke arahnya. “Sudah, kita sedang menunggu kamu tadi,” sahut Felix.
“Maaf tadi aku sedang bertemu dengan teman saya,” kata Leona.
“Teman? Laki-laki atau perempuan?”
Leona spontan melirik ke arah Alex yang baru saja bertanya padanya. “Laki-laki, dia doctor di sini,” jawabnya.
Alex memungutkan kepalanya. “Yasudah kita balik sekarang juga.”
Setelah sampai di parkiran, mereka segera masuk ke dalam mobil tersebut. Tidak ada pembicaraan di dalam sana. Wanita itu hanya mendengarkan suara mesin mobil saja. Sungguh itu membuat Leona merasa bosan.
Wanita itu menatap ke arah jendela untuk menatap beberapa mobil yang lewat di samping mobil yang dia tumpangi.
“Felix, nanti kamu suruh salah satu karyawan untuk membelikan pakaian untuk Nona Leona. Dia tidak membawa pakaian ganti.”
Ucapan Alex membuat Leona menoleh ke samping. “Mr? Apa-apaan sih? Saya bisa menyuruh adikku untuk mengirim pakaian untukku.”
Alex melirik ke arahnya dan mengerutkan kening. “Apa adikmu itu akan mau mengirim bajumu ke kantor?”
Leona terdiam sejenak, dia menerjapkan mata pelan. Sepertinya apa yang di katakan Alex ada benarnya juga. Adiknya tidak akan mau ke kantornya hanya untuk mengirim baju ganti untuknya.
“Saya bisa membelinya sendiri.”
“Sudahlah Nona Leona, biar saya saja yang membelikannya untukmu. Anggap saja itu hadiah karena sudah menjagaku semalam.”
Leona terdiam sejenak, kalau di tolak juga tidak enak juga. “Kalau begitu, terimakasih banyak Mr,” ucapnya sembari menundukkan kepalanya sekilas.
“Oh ya? Obat Mr sudah saya bawakan. Jangan sampai Mr mengonsumsi obat selain ini ya.” Leona mengambil bingkisan yang berisi beberapa obat di sana dan memberikannya kepada Alex. “Ini Mr.”
Alex mengambil obat itu dari tangan Leona. Spontan Leona terdiam saat Alex tidak sengaja memegang tangannya, kemudian menatap Alex yang juga menatapnya. Dia terdiam, jantungnya berdetak dengan cepat.