Leona mendengkus kesal sambil memandangi punggung Dr. Ryn yang sudah di depan sana. Bisa-bisanya tadi Ryn menggodanya, tapi untungnya setelah itu dia memberikan obat yang di maksud.
“Sus, boleh tanya? Pasien yang bernama Alex di mana ya?” tanya Dr Ryn bertanya pada salah satu resepsionis di sana.
“Alex? Dia di lantai tiga Dok.”
Setelah Ryn bertanya pada suster. Pria itu segera kembali ke Leona yang menunggu.
“Ayo ... Aku akan mengecek kondisi dia,” kata Ryn sebelum jalan kembali.
“Kenapa harus tanya dengan suster? Kan aku tahu ruangan Alex di mana,” kata Leona.
Ryn nampak melirik ke arahnya. “Sesekali ngobrol dengan suster cantik,” kata Ryn diselingi dengan kekehan kecil.
Leona meringis kecil, ternyata Ryn sangatlah percaya diri. Mereka segera masuk ke dalam lift dan menunggu lift ke lantai tiga.
“Seharusnya kamu bicara dengan keluarga Alex. Supaya mereka tau yang sebenarnya,” ucap Ryn.
Leona terdiam sejenak, kemudian menghembuskan napas pelan. Dia menoleh ke samping. “Aku tidak ingin mereka mengharapkanku lagi Dokter Ryn. Baru saja ketemu untuk acara keluarga Alex sendiri, mereka sudah menyuruhku untuk kembali dengan Alex,” ucap Leona jujur.
“Beri Alex kesempatan lagi. Mungkin saja kamu hanya salah paham soal masalah Alex dulu.”
Wanita itu hanya diam, sekali lagi dia menghembuskan napas gusar.
Setelah sampai di lantai tiga, mereka langsung melanjutkan perjalanannya ke ruangan Alex.
Begitu mereka masuk ke dalam ruangan Alex, ternyata di sana hanya ada seorang pria yang sedang terbaring lemas di brankar.
“Alex?” gumamnya. Dia mendekat kearah brankar. Wajah pria itu sangat pucat.
Ryn melihat Alex nampak kasihan. “Biar aku periksa dulu, kamu tidak perlu khawatir,” kata pria itu segera memeriksa Alex.
Leona menatap wajah Alex terus-menerus. Rasa cemas terlihat di raut wajahnya. “Demi apapun, kalau terjadi apa-apa sama Alex, aku tidak akan diam,” batinnya.
Tangannya reflek mengepal.
“Kondisi dia sekarang melemah.” Ryn mengecek infus yang di gunakan Alex. “Infusnya masih aman, tapi sebentar ....” ucapan Ryn menggantung ketika melihat infusan tersebut bercampur dengan cairan kekuningan.
Ryn segera melepaskan cairan infusnya dari sana dan menggantinya dengan cairan baru.
“K–kenapa Ryn?” tanya Leona nampak khawatir. Bahkan dirinya tidak memanggil Ryn dengan sebutan dokter.
“Ada yang memasukkan obat di dalam cairan dia. Sebelumnya dia sama siapa?” tanya Ryn segera mengecek kondisi Alex kembali.
Leona terdiam, dia mengingat kalau sebelum dia pergi Alex bersama dengan kekasihnya. “Dia sama kekasihnya.”
Ryn nampak menghembuskan napas lega. “Untung saja aku segera tau. Kalau tidak, dia benar-benar dalam bahaya. Jaga dia, jangan sampai minum obat yang salah apalagi cairan yang bahaya buat dia.”
Leona mengangguk kecil, dia memegang tangan pria itu. “Apa dia masih sadar?”
“Kamu tidak usah khawatir, dia masih sadar.”
Leona menghembuskan napas pelan. “Mr? Kamu masih mendengarkanku kan? Saya akan menjaga Mr selama di sini,” ucapnya pelan.
Ryn nampak merasa kasihan kepada Alex. Pria itu menatap Leona terus-menerus. “Aku duluan, kamu tetap di sini. Kalau ada apa-apa bilang saja padaku,” ucap Ryn.
Leona menoleh ke samping, dia mengulas senyuman di sana. “Terimakasih Dokter Ryn.”
Ryn hanya tersenyum di sana, kemudian dia pergi dari ruangan tersebut.
Kini hanya mereka yang berada di ruangan itu. Leona tidak habis pikir kalau dia meninggalkan Alex akan berakibat seperti ini.
Leona menarik kursi dan duduk di samping Alex. Matanya terus memandangi wajah Alex yang terlihat memucat. “Lain kali Mr harusnya hati-hati supaya tidak menyuruh seseorang yang membuat Mr dalam bahaya seperti ini. Saya yakin orang itu adalah orang terdekat Mr. Dari awal kan yang jaga Mr wanita itu,” desisnya.
Leona menghela napas pelan, ternyata bicara sendiri tidak seenak yang dia kira.
Tiba-tiba saja ponselnya berdering. Dia langsung mengambil ponsel dari tasnya. Tertera nama mamanya Alex di sana.
Tak lama dia langsung mengangkatnya. “Ya, Tante?”
[Hallo, Leona? Alex di mana? Tante baru saja dapat kabar kalau Alex di rawat di rumah sakit?]
Leona terdiam sejenak, dia melirik Alex sekilas. “Iya Tante, Tante tidak perlu khawatir. Leona akan menjaganya, Tante tidak usah ke sini sekarang karena sudah malam. Besok saja ya Tant?”
[Baiklah, jaga anak Tante baik-baik ya, Leona. Terimakasih banyak.]
Wanita itu tersenyum tipis, kemudian mematikan panggilan terlebih dahulu.
***
Leona membuka matanya perlahan, dia merasakan sentuhan yang berada di kepalanya. Dia menoleh ke atas, menatap Alex yang kini sedang menatapnya.
Wanita itu segera menjajarkan duduknya, dia melihat ke kanan-kiri ternyata semalam dia tertidur di samping Alex. “M–maaf Mr, saya ketiduran,” kata Leona kikuk.
“Tidak apa, terimakasih sudah menjagaku semalaman,” lirih Alex.
Leona mengangguk kecil. Dia mengambil ponselnya dan mengecek jam di sana. “Sepertinya aku harus kembali ke kantor sekarang. Apa Mr tidak apa kalau saya tinggal?”
Alex menghembuskan napas pelan. “Saya ikut denganmu, saya juga harus bekerja. Tidak mungkin kalau saya hanya tidur di sini.”
Leona menerjapkan matanya pelan. “Tapi kan Mr belum sembuh total. Sehari saja ya Mr di rawat di sini?”
Pria itu menggelengkan kepalanya kembali, kemudian beranjak dari tempat tidurnya. “Saya harus kembali.”
Leona segera menahan tubuh Alex. “Mr! Bisa tidak ikut kemauan saya?!” tegas Leona.
Alex menatap dirinya serius, mata pria itu dipincingkan. Ringisan kecil muncul di mulut pria tersebut.
“Mr? Are you okay?” Leona menahan lengan Alex dan menyuruhnya untuk tidur.
Alex melepaskan tangan Leona. “I'm okay, kamu tidak perlu khawatir.”
Raut wajah Leona masih terlihat sangat cemas. “Istirahatlah, saya akan handle semuanya.”
“Kamu tidak usah bercanda, kamu akan keteteran kalau melakukan kerjaan yang ada di kantor.”
“Saya akan berusaha semaksimal mungkin Mr. Mr tenang saja okay?”
Leona mencoba meyakinkan. Tapi Alex tidak meresponnya, justru pria itu mengambil ponsel untuk menelpon seseorang.
“Felix? Bisa ke sini? Aku butuh bantuanmu,” kata pria itu sebelum mematikan panggilannya.
Leona menghembuskan napas pelan. “Kenapa harus Felix? Saya bisa sendiri Mr. Alex.”
“Saya tidak yakin itu.”
Leona mendengkus kesal, dia bersedekap d**a. “Terserah Mr.”
Okey, Leona kali ini dia harus bersabar menghadapi bos yang sedang sakit ini. Wanita itu memejamkan mata sekilas untuk meredakan rasa kesalnya.
“Alex, ak–” suara wanita itu terpotong ketika melihat Leona berada di sana.
Leona mengkerutkan kening ketika menatap wanita itu yang kini sedang membawa bingkisan makanan.
“Kenapa kamu di sini? Pergi sekarang juga.” Leona mengusir wanita itu tanpa sadar.
Wanita itu mendekat ke arah Leona dan menatap Alexa dan juga Alex bergantian. “Harusnya saya yang bilang kenapa kamu di sini dengan kekasihku?!”
Leona mendesis kecil, dia menatap wanita itu yang nampak menatap infusnya yang sudah berganti warna. “Kenapa? Kamu tidak terima hah! Lantas dari mana saja kamu tadi hah! Pergi untuk kepentinganmu sendiri, hah!”
Sungguh Leona tidak bisa menahan amarahnya kali ini.