Leona membuka ruangannya, tentunya bersama Felix untuk kali ini. Dia menghembuskan napas berkali-kali, kemudian duduk di kursinya sendiri. Dia melirik ke tempat kerja milik Alex.
“Apa kamu mengharapkan Alex ke sini?” tanya Felix setelah fokus dengan pandangannya.
Leona menggelengkan kepala cepat. “Tidak, aku hanya kasihan pada Alex,” katanya.
“Aku tidak percaya itu. Kalau di lihat-lihat sepertinya Alex masih merasakan kalau kalian dekat. Tapi–– dia tidak mengingatnya,” kata Felix menyandarkan tubuhnya di meja Leona.
Leona melirik Felix dari sudut mata, kemudian menghembuskan napas pelan. “Aku tidak tahu soal itu," jawabnya dengan cepat.
“Kalau kamu tidak sama Alex, lebih baik sama aku saja bagaimana?” Felix seperti mendaftarkan diri kepada Leona.
Leona menggelengkan kepala cepat. “Maaf Felix, bukannya aku menolaknya. Tapi ... Kita baru saja kenal.”
Wanita itu menghentikan kegiatannya. Kemudian menatap ke arah Felix. “Apa kamu benar-benar tidak mempunyai kekasih?”
Felix melirik ke arah Leona, keningnya mengkerut. “Aku baru saja putus karena ada problem.”
“Problem? Apa kamu yang mencari masalah pada kekasihmu itu?”
Felix meringis kecil. “Bukan ... Dia sendiri yang mencari masalah denganku. Dia bermain dengan pria lain dan dia tidak mengakuinya. Aku tidak mau melanjutkannya, banyak wanita di luar sana. Lebih baik aku mencarinya lagi.”
Leona menghembuskan napas pelan. “Sepertinya masalahnya tentang perselingkuhan semua. Aku sangat benci itu,” gumamnya, kemudian membuka laptopnya.
“Aku juga. Oh ya? Kamu mau bantuan? Biar aku bantu,” kata Felix mendekat ke arah Leona.
Leona menggelengkan kepala cepat. “Tidak usah, aku hanya merevisi ini saja. Kemarin sebenarnya ada pertemuan keluarga Alex. Tapi Alex mendadak ada urusan, jadi aku akan menggantinya.”
Felix mengangguk kecil. “Lebih baik di tanggal 6 Juni aja. Alex sepertinya bakalan istirahat di waktu itu,” kata pria itu menyarankan.
Leona menoleh ke samping. “Apa kamu serius? Tapi ... Bagaimana dengan keluarga Alex?”
“Aku akan mengurus semuanya. Mereka bakalan mau bertemu, jika ada kamu,” kata Felix di selingi dengan kekehan kecilnya.
Leona sempat terdiam, dia menopang kepalanya di tangan. Menatap laptop yang menyala di meja kerjanya. “Bagaimana ya? Apa aku harus meminta bantuanmu?”
“Memangnya kenapa? Aku juga bekerja di sini dan aku cuma membantumu kan? Apa salahnya?”
Leona melirik ke Felix. “Huft ... Tapi kamu tidak akan meminta apapun sama aku kan? Aku tidak punya apa-apa.”
“Astaga ... Leona, kenapa kamu berbicara seperti itu sih? Aku tidak akan meminta apapun dari kamu.”
“Kalau kamu tidak keberatan, aku terima bantuanmu,” ucap Leona kemudian.
“Nah, dari tadi kan enak. Aku kembali ke kantorku dulu, kamu lanjutkan bekerja, nanti aku beritahu bagaimana kelanjutan acara keluarga Alex.” Felix berbicara dengan santainya sebelum keluar dari ruangan itu.
Leona terdiam di tempat, dia menyandarkan kepalanya di kursi kerja. Matanya masih menatap kursi Alex yang tak jauh dari tempatnya. “Dia sedang apa sekarang?” gumamnya.
***
Langit sudah mulai gelap, Leona segera membersihkan meja kerjanya sebelum dia pulang. Kemudian berjalan kearah meja kerja Alex, dia mengambil obat yang berada di lacinya yang sempat dia lihat tadi.
“Sebenarnya ini obat apa? Sepertinya aku harus ke rumah sakit untuk mengecek obat ini,” gumamnya. Kemudian wanita itu segera keluar dari ruangannya.
“Mau pulang? Aku akan mengantarkanmu,” ucap Felix tiba-tiba membuat Leona terkejut.
Leona segera memasukkan obat itu ke tas selempangnya. “T–tidak usah, aku ada urusan sama temanku. Terimakasih tawarannya, aku harus buru-buru. Duluan ya Felix," ucap Leona sembari menundukkan kepalanya sopan sebelum meninggalkan pria itu di sana.
Leona sedikit kesal karena mamanya ingin memakai mobilnya. Namun akhirnya Leona menitipkan kunci mobil dan menyuruh mamanya itu mengambil kuncinya ke satpam kantor.
Kini wanita itu menunggu taxi di depan gedung itu, tak lama taxi tersebut datang dan segera dia masuk ke dalam taxi itu. “Pak, ke rumah sakit Dr. Ryn ya.”
“Baik Mbak.” Supir taxi itu mengiyakan sebelum menjalankan mobil.
Leona mengambil ponselnya dan segera mencari nomor Dr. Ryn. Kemudian menelponnya.
Tak lama, panggilannya diangkat di sana. “H–halo Dr. Ryn?”
[Ah ya, Leona? Ada apa ya?] tanya Dr. Ryn berada di sana.
“Apa Dr sibuk? Saya ingin ke sana untuk mengecek obat. Apa bisa?” tanya Leona.
[Oh, kebetulan aku sekarang lagi free. Langsung ke ruanganku ya. Aku tunggu di sana.]
“Baik Dr, terimakasih banyak,” kata Leona sebelum mematikan ponselnya. Dia menghela napas lega, kemudian mengambil obat dari tasnya kembali.
Wanita itu terus memandangi beberapa obat yang berada di tangannya kali ini.
Beberapa lama kemudian, akhirnya Leona sampai di rumah sakit Dr.Ryn. Dia segera turun dari taxi sesudah membayarnya. Kemudian berjalan dengan cepat untuk ke ruangan Dr. Ryn.
Setelah sampai di dalam ruangan Dr. Ryn. Leona segera menutupnya kembali dan melihat Dr. Ryn yang sepertinya menunggu di kursi sana.
“Hallo, Leona. Lama tidak bertemu. Silakan duduk,” suruh seorang pria yang memakai jas putih.
Leona menghembuskan napas pelan, kemudian melangkahkan kakinya untuk duduk di hadapan Dr. Ryn.
“Ada yang bisa aku bantu?” tanya Ryn dengan wajah serius.
Leona mengambil beberapa obat dan meletakkan di meja tepatnya di hadapan Dr. Ryn. “Ini Dok, beberapa obat dari temanku. Temanku sudah minum obat ini, tapi kenapa dia masih sakit? Bahkan sekarang di rawat di rumah sakit,” jelas Leona.
Ryn mengambil obat dan melihatnya. Pria itu melirik ke arah Leona seperti berbicara 'apa kamu serius?'.
“Apa teman kamu itu meminum obat ini?” tanya Dr. Ryn.
Leona mengangguk pelan.
“Ini obat untuk menenangkan pikirannya. Apa dia mengalami amnesia? Kenapa harus pakai obat ini? Apa temanmu itu mau mati? Semakin banyak dia meminum obat ini, semakin besar taruhan nyawanya. Seharusnya dia tidak mengonsumsinya obat ini, ini membuat temanmu itu tidak bisa mengenal siapapun,” jelas Ryn kemudian.
Mata Leona membulat seketika. “S–serius kamu? Terus? Apa aku harus bicara dengan dia?”
“Memangnya siapa temanmu itu? Aku akan mengecek kondisinya saat ini,” ucap Ryn.
Wanita itu terdiam sejenak. “A–alex,” jawabnya sedikit kikuk.
Ryn mengkerutkan keningnya, kemudian tertawa kecil. “Astaga ... Ternyata mantan kekasihmu dulu? Kamu sangat mengkhawatirkannya bukan?” kata Ryn di selingi kekehan kecilnya.
Leona mengkerutkan bibirnya. “Tidak, aku hanya membantunya.”
“Hati kamu terbuat dari apa sih? Aku heran sama kamu, sudah di sakiti, tapi kamu masih ingin membantunya,” ucap Ryn menatapnya lekat.
Leona melirik ke arah Ryn. “Kan sudah aku bilang. Aku hanya membantu dia Ryn!”
Ryn tertawa kecil. “Oke, untuk sekarang mungkin iya, lihat saja nanti.”
Leona memutarkan bola matanya jengah. “Jadi? apa aku boleh minta obat selain ini?”
Ryn memungutkan kepalanya. “Boleh, tapi cium dulu baru aku berikan obatnya.”