Perdebatan dengan wanita gila tadi membuat Leona merasa pusing. Ternyata kekasih Alex sangatlah egois, bahkan wanita itu menginginkan Alex mengikuti kemauannya.
Leona memijat keningnya pelan dan berjalan ke arah ruangan Alex. Dia melihat Felix di sana, segera dirinya mendekat.
“Bagaimana kondisinya Tuan?”
“Alex sudah membaik, sebentar lagi dia akan sadar. Oh ya? Bisa kamu memanggilku dengan sebutan nama?” ucap Felix.
Leona terdiam sejenak. “Oh okey, Felix?”
“Lebih baik seperti itu. Oh ya? Kalau boleh tahu, kita seumuran juga. Cuma tua aku sedikit.”
Wanita itu memungutkan kepalanya pelan.
Leona menatap Alex yang sudah terbangun dari pingsan. Dia melirik ke Felix sekilas.
“Aku keluar sebentar, kamu bicara sama dia dulu," ucap Felix sebelum keluar dari ruangan tersebut.
Leona mengangguk pelan. Dia menahan Alex ketika ingin bangun dari brankar. “Mr istirahat saja ya? Mr belum sembuh sepenuhnya.”
Alex nampak menatapnya bingung. Seperti pernah melihat dirinya, kemudian pria itu kembali berbaring di sana.
Rasa gugup dan juga takut bercampur jadi satu. Dia sangat ingat jika tadi Alex memanggilnya dan seperti kenal dengan dirinya.
“Leona? Apa kamu yang membawaku ke sini?”
Leona menerjapkan matanya, menyadarkan lamunan. “Engh– i–iya, Mr. Tadi sama saudara Mr yang membantu.”
Alex mengangguk mengerti. “Saya sangat berterimakasih sama kamu. Aku ingin balas budi dengan kamu, kamu mau apa? Akan aku kabulkan,” ucap Alex.
Mata Leona membulat seketika, tidak percaya kalau seorang Alex akan berbicara seperti itu barusan. “Mr? Apa serius? T–tapi kali ini saya tidak menginginkan apa-apa.”
“Lain kali, kalau kamu butuh bantuan saya, saya akan membantu kamu,” ucap Alex kemudian.
Leona terdiam seketika, sebelum mengangguk kecil. “B–baiklah, Mr.”
“Apa kamu sudah baikan Alex?” tanya seorang pria yang tiba-tiba masuk ke dalam. Siapa lagi kalau bukan Felix.
Mereka berdua menoleh ke sumber suara. “Sudah, kenapa kamu ikutan ke sini juga? Apa karena ada Leona? Katamu dia cantik, kalau kamu suka kenapa tidak memacarinya saja?” kata Alex dengan wajah polos.
Felix nampak kesal karena ucapan Alex barusan. “Bisa tidak usah membuka kartu merahku?” desis pria itu.
Leona melirik Felix dari samping. Sebenarnya apa benar yang di katakan oleh Alex barusan? Kenapa jadi seperti ini sih?
Wanita itu nampak canggung di depan dua pria itu. Dia menghembuskan napas pelan. “Lebih baik Mr istirahat saja, tidak usah debat. Lagipula kondisi Mr juga belum sepenuhnya pulih kan?”
Kedua pria itu menoleh ke Leona. “Apa kamu tidak sibuk setelah ini?”
Leona mengkerutkan alisnya. Kenapa Alex berbicara seperti ini? Bahkan, hari ini adalah jam kerjanya. Kenapa Alex bertanya yang tidak sepantasnya yang dia tanyakan?
“Alex? Bagaimana dia bekerja jika kamu masih di sini?”
Alex menatap ke arah Felix. “Acara keluargaku belum selesai. Leona harusnya menyelesaikan apa yang harus dia kerjakan. Beberapa kali acaranya tertunda karena ada meeting mendadak. Dan ... Saya harap Nona Leona menyelesaikan dengan cepat.”
Leona menghembuskan napas pelan, dia mengangguk kecil. “Jadi, apa Mr di sini sendiri? Siapa yang menjaga Mr jika saya balik ke kantor?”
“Aku!” Seorang wanita masuk ke ruangan tersebut tiba-tiba. Mereka menoleh ke sumber suara. Leona sempat tercengo melihat wanita yang tadi berada di toilet berada di sini.
“Aku yang menjaga Alex dia kekasihku dan aku bertanggung jawab atas semuanya. Jadi, lebih baik kalian keluar sekarang juga,” kata wanita itu mendekat ke arah Alex. “Are you okay, baby?” tanya wanita itu nampak khawatir.
Leona meringis kecil ketika wanita itu berbicara seperti itu kepada Alex. “Kenapa telingaku agak gatal ya?” batin Leona merinding. Dia mengusap telinganya sekilas.
“Leona, kita balik saja. Saya juga ada kerjaan di kantor,” kata Felix kemudian. Leona menoleh ke Felix, dia tersenyum lembut.
“Mr? Kalah begitu kami duluan ya? Saya akan mengerjakan semua yang Mr maksud.”
Alex mengangguk kecil. “Kalian hati-hati ya? Saya akan kembali.”
“Baik Mr, cepat sembuh,” kata Leona sebelum kekuar dari tempat itu.
Dia menghembuskan napas lega. “Bagaimana bisa aku seruangan dengan wanita gila itu?” batin Leona sembari mengusap dadanya sekilas.
“Kita balik sekarang saja, nanti kamu di marahi sama Alex,” kata Felix sebelum berjalan terlebih dahulu. Leona terdiam sejenak dia melirik ke ruangan sekilas sebelum mengikuti Felix dari belakang.
“Felix?! Apa kamu serius meninggalkan Alex di sana dengan wanita itu?!” Leona nampak menjajarkan tubuhnya dengan Felix.
Felix menoleh ke samping, kening pria itu mengkerut. “Lalu kenapa? Kan dia kekasih Alex kan? Saya juga tidak bisa menahan wanita itu. Lagian, Alex juga tidak berkata apapun,” ucap Felix.
Tapi, benar juga. Kalau memang Alex tidak nyaman. Pasti pria itu akan menyuruh untuk keluar.
“Ayo masuk,” suruh Felix sembari membukakan pintu untuk Leona.
Leona sempat terdiam, melihat sikap Felix kali ini. “Terimakasih Felix,” ucapnya sembari mengulas senyuman di bibirnya.
Baru saja dirinya ingin masuk ke dalam mobil tersebut. Namun ada seorang wanita yang tak sengaja menabraknya.
Spontan, Felix menangkap tubuh Leona. “Apa kamu tidak apa?” Pria itu bertanya pada Leona. Namun, Leona tidka meresponnya karena saking shocknya.
“Hei! Kamu bisa hati-hati tidak kakau jalan?!” teriak Felix. Di saat itu juga Leona tersadar dan segera dia bangun dari sana.
“Ma–makasih, Felix.” Leona segera masuk ke dalam. Wajahnya kini memerah, dia memegang dadanya yang terasa berdetak di dalam sana. “Astaga, kenapa jantungku berdetak? Masa iya aku suka Felix dalam waktu sedikit?” batin Leona dengan wajah cemas.
Di sepanjang perjalanan, Leona memilih untuk diam. Banyak yang ingin dibicarakan oleh Felix, namun dia hanya mengulas senyuman saja.
“Kalau boleh tau, apa kamu masih mencintai Alex?” tanya Felix memasang wajah tak berdosa.
Leona menoleh ke samping, keningnya mengkerut seketika. “Apa itu sangat penting? Lebih baik kamu fokus mengendarai, aku juga harus menyelesaikan pekerjaanku di kantor,” katanya.
“Baiklah, kalau bisa lain kali kamu harus menjawabnya. Aku sangat penasaran, mungkin saja aku bisa menggantikan Alex nanti,” kata Felix lagi.
Leona menghembuskan napasnya pelan, dia mengalihkan pandangan ke luar mobil. Entah perasaan apa ini, dia tak ingin kalau dirinya berkencan dengan keluarga Alex, apalagi dia saudara Alex sendiri.
Leona takut kalau Alex nanti akan bertengkar jika ingatan pria itu kembali ke setelah pabrik.
Lagi-lagi Leona menghembuskan napas pelan.
“Lupakan saja, anggap saja aku tidak bertanya seperti itu sama kamu,” kata Felix.
Wanita itu menoleh ke samping, rasa tak enak mendadak menelusuri badannya. “M–maaf, saya tidak bisa menjawabnya Felix.”
“No problem, itu tidak masalah besar. Lupakan saja. Saya tau pasti itu pertanyaan sangat berat untuk kamu.”
Setelah sampai di kantor, Leona segera keluar dari mobil itu. Tentunya Felix ikut turun dan mendekat kearahnya.
“Apa kamu mau ke dalam juga?” tanya Leona.
Felix mengangguk kecil, kemudian menarik lembut tangannya. Leona sepontan mengikuti pria itu. Dia melirik tangan yang di genggam oleh pria itu. “Kenapa harus Felix?” batin Leona.