Masalah Obat

1861 Kata
Leona menghentikan langkahnya ketika tangannya di genggam oleh Alex. Kening ya mengkerut, sekilas dia melirik ke arah Alex. “Mr? Sudah bangun?” Alex berdehem, kemudian bangun dari tempat itu. Spontan Leona membantu pria itu duduk. “Kalau belum baikan lebih baik rapatnya di undur saja Mr,” kata Leona nampak khawatir. Alex menggeleng kepala. “Saya haru rapat sekarang.” Pria itu melirik ke jam tangan yang melingkar. “Sebentar lagi akan di mulai. Antar saya ke sana,” kata Alex beranjak dari sofa. Wanita itu menahan lengan Alex. “Lebih baik Mr makan dulu, daripada nanti rapatnya tidak maksimal. Bukan begitu?” Entah kenapa, Leona sangat khawatir kalau Alex keadaanya masih lemah seperti ini. Alex melirik ke samping, kemudian menghembuskan napas pelan. “Kita makan di kantin saja.” “Eh! Saya beli goodfood tadi Mr. Sebentar, saya ambilkan dulu.” Leona mengambil bingkisan di meja dan mengeluarkan di dalam sana. “Mr suka steak bukan? Tadi syaa belikan steak dan juga piza. Biar perut Mr tidak kosong.” Alex nampak bingung dengan perlakuan yang di berikan oleh Leona. “Kenapa kamu sangat baik pada saya?” Leona terdiam sejenak, benar juga yang dikatakan Alex barusan. Kenapa dia sangat peduli pada pria yang jelas-jelas sudah menyakitinya? Apa dia sedang gila? “Leona?” Leona membuyarkan lamunannya dan menggelengkan kepalanya cepat. “A–ah iya?” “Apa sedari tadi kamu tidak mendengarkan lu?” tanya Alex. Leona menggelengkan kepalanya kembali. “Aku tidak fokus Mr, aku ke luar sebentar ya Mr?” “Tunggu!” Wanita itu hampir saja melangkahkan kakinya keluar dari ruangannya, namun niatnya terkurung saat Alex memanggilnya. Leona menoleh ke belakang. “Aku ingin makan, bisakah kamu menyuapiku? Tubuhku masih lemas. Sebentar lagi rapat juga akan di mulai.” ”Menyuapi Mr?” Alex mengulas senyuman lembut di sana. “Iya, apa kamu keberatan?” Leona mendekati pria itu kembali. “T–tidak sama sekali kok Mr. Saya bantu untuk makan ya Mr.” Tanpa berkomentar panjang lebar. Leona menyiapkan makanan yang sudah di pesan tadi dan menyuapi Alex dengan pelan. “Jangan lupa makan nasinya juga.” Alex hanya memandangi Leona tanpa berkedip sama sekali, sembari mengunyah makanan. Setelah menyadari, Leona terdiam di sana. Pipinya memerah, dia terasa malu jika di tatap oleh Alex. Spontan dirinya menundukkan wajahnya. “M––maaf Mr, apa ada yang salah?” “Tidak, kamu terlihat sangat cantik,” kata Alex. Leona terdiam. Jantungnya merasa berdetak saat ini. “Apa barusan Alex bilang kalau aku cantik?” batin Leona titdak percaya. “Apa kamu mempunyai kekasih?” tanya Alex sekali lagi. “Astaga, kenapa pertanyaan Alex membuat dirinya ingin kembali ke Masalalu?” batin Leona masih belum sadar. ”Leona? Are you okay?” Alex melambaikan tangan di depan wajah Leona. Di waktu itu juga Leona tersadar dari lamunannya. “Aegh– m–maaf Mr. Barusan Mr bicara apa?” Alex menghembuskan napas pelan. “Jadi? Sedari tadi kamu tidak mendengarkanmu?” “Lupakan?! Saya harus rapat sekarang,” kata Alex sembari meneguk minuman. Leona hanya diam di sana. “Kondisikan pipimu,” ucap pria itu sebelum keluar dari ruangan tersebut. Dia menatap Alex yang kini sudah keluar dari ruangan. Sekilas dia menghembuskan napasnya lega. “Astaga, jantung aku benar-benar tidak bisa di kontrol,” gumamnya sembari mengecek kondisi detak jantungnya. Leona beranjak dari tempat duduknya dan membersihkan bekas makanan di meja. Leona beristirahat di sofa untuk melemparkan rasa lelah karena habis membersikan ruangan dari Alex. Dia melihat jam tangan yang menunjukkan pukul tujuh malam. Ternyata dia sudah menunggu sangat lama. Leona menghela napasnya gusar, dia beranjak dari tempat duduknya dan memutuskan untuk keluar dari ruangan Alex. Kagetnya, setelah keluar ada Crystal yang menatapnya datar. Leona mengkerutkan kening. “Ada apa?” “Sepertinya kamu sangat betah di dalam ruangan Mr Alex?” kata Crystal. Kening Leona mengkerut. “Terus? Ruangan saya memang di sana kan?” “Dasar wanita bermuka dua,” desis Crystal. “Barusan kamu bicara apa?” Leona sangat tidak suka dengan ucapan Crystal barusan. “Wanita bermuka dua,” kata Crystal sembari bersedekap d**a. “Apa kamu tidak bercanda? Bukannya kamu yang wanita bermuka dua? Tck! Seharusnya saya bicara dari awal. Sejak pertama lihat kamu, aku kira kamu orang baik. Ternyata? Pikiranku tidak sesuai ekspektasi.” “Kamu seperti setan, ah–lebih pastinya lebih dari setan.” “Kau!” Crystal hampir saja melayangkan tangan ke pipi Leona. Leona spontan memejamkan matanya. Tapi tidak berasa apapun di sana. Dia membuka matanya perlahan, kemudian melirik tangan yang menahan tangan Crystal. “A–alex?” batin Leona tidak percaya. Dia melihat Alex menghempaskan tangan Crystal di sana. “Sekali lagi kamu bersikap seperti itu kepada asisten saya. Saya tidak segan-segan untuk memecatmu?!” ucap Alex dengan tegas "A–apa Mr? Di–di pecat?” kata Crystal lirih. Leona sempat shock mendengarkan ucapan Alex barusan, dia tidak tau harus berkata apa sekarang. Apa dirinya harus diam atau ikut campur dengan masalah ini? Astaga, kenapa harus berurusan dengan orang yang bekerja di sini sih? “Ya. Kesempatanmu cuma sekali saja. Jadi, kamu jangan sampai mengulang kesalahanmu lagi,” ucap Alex, kemudian melirik Leona. “Ikut saya ke ruangan,” lanjut pria itu sebelum berjalan masuk ke dalam ruangan kembali. Leona mengangguk paham, dia melirik Crystal yang nampak menahan emosi. Kemudian mengikuti Alex masuk ke dalam ruangan dan menutup pintunya kembali. “Ada yang bisa saya bantu, Mr?” ucap Leona mendekati ke meja kerja Alex. Wanita itu terdiam seketika ketika melihat pria itu memegang kepalanya. “Apa dia lagi kesakitan?” batin Leona. “Tolong ambilkan obat di laci. Saya tidak kuat lagi,” kata Alex. Leona mengangguk kecil, kemudian dia membuka laci yang berada di depan Alex. Dia melihat obat-obatan yang dikonsumsi oleh pria itu. “Sebentar? Obat ini?” batin Leona terdiam di sana. Leona mengambil obat yang di simpan oleh Alex. Dia terus menatap obat tersebut, sesekali melirik Alex yang sedang menahan sakitnya. “Astaga, siapa yang melakukan semua ini? Kenapa dia jahat sama Alex?” batin Leona. “Berikan pada saya?!” Alex beranjak dari tempat duduk untuk mengambil obat di tangan Leona. Namun Leona menghindari. “Mr? Ini obat dari siapa? Apa benar itu obat Mr?” tanya Leona sedikit khawatir. “Kamu tidak perlu tahu soal itu. Berikan pada saya?!” Alex menatap tajam. Pria itu ingin mengambil obat di tangannya, namun kondisi pria itu tidak stabil. “Mr?” Spontan Leona melepaskan obat itu dan berhamburan di lantai. Dia menahan tubuh Alex. “Mr tidak apa? Kita ke rumah sakit saja ya?” Wanita itu tidak memperdulikan apa yang dibicarakan oleh orang-orang di luar sana. Yang penting keselamatan Alex tetap terjaga. “Leona?” Leona menoleh ke samping sebelum keluar dari ruangan. Kening wanita itu mengkerut. Tangan Alex memegang pipi Leona. “Apa kamu benar-benar Leona?” Deg! Jantung Leona berhenti berdetak. Tak mau mendengarkan hal itu, Leona langsung memapah pria itu keluar dari ruangan tersebut. “Alex? Apa apa dengan dia!” seorang pria keluar dari ruangan yang berbeda dan nampak mencemaskan Alex. “Bawa dia ke mobil saya?!” Pria itu membantu memapah Alex untuk menuju ke lift. Leona hanya menuruti apa yang pria itu mau. Dia terus menatap Alex kasihan. “Sepertinya tadi rapat baik-baik saja kenapa jadi begini?” ucap seorang pria itu sembari mengotak-ngatik ponselnya. “Tadi ... Sebenarnya sudah lemas Tuan sebelum ke ruangan sebelah. Sudah dipanggilkan doktor, setelah rapat dia drop seperti ini,” ucap Leona jujur. Pria itu menatap kearah Leona. “Kamu siapa?” Leona menerjapkan mata pelan. Kemudian menundukkan kepala sekilas. “Saya Leona Tuan, asisten pribadi Mr Alex.” Pria itu hanya mengangguk kecil. “Saya Felix, saudara Alex. Bisa dibilang adik dari Alex. Saya baru saja pulang kemarin dan ikut rapat di sini untuk membantu Kakakku.” Felix menghembuskan napas pelan. “Kata mamaku, dia mengalami amnesia sementara. Dan dia harus diperhatikan kondisinya terus-menerus. Jadi, saya menetapkan untuk ke sini. Saya harap kamu bisa bekerja sama dengan saya.” Felix nampak melirik ke Leona. Leona hanya mengangguk kecil. “Saudara? Apa benar? Kenapa dulu aku tidak mengenalnya?” batin Leona masih belum percaya. Setelah sampai di parkiran. Leona membantu Felix untuk memasukkan Alex ke dalam mobil tersebut dan dirinya juga ikut masuk ke dalam untuk menjaga Alex. “Namamu Leona bukan?” tanya Felix setelah menjalankan mobil. Leona sempat terdiam, dia menoleh ke depan Untuk menatap Felix dari spion. “Iva,” jawab Leona singkat. Felix menyunggingkan senyuman mirisnya. “Saya pernah mendengarkan cerita Alex, kalau dia mempunyai kekasih bernama Leona, apa itu kamu?” Leona tidak bisa menjawabnya. Dia hanya diam di sana. “Anggap saja itu jawaban iya. Alex mengalami amnesia karena kecelakaan yang pernah dia alami. Dan dia memanggil namamu setelah dia sadar. Kemudian ... Alex tidak mengingat semuanya, bahkan keluarganya. Tapi ... Semua sudah kembali, Alex sudah mengenali keluarganya terutama saya.” Leona hanya diam, menatap Alex yang masih tertidur di pangkuannya. “Tau tidak? Kenapa dia melakukan itu semua?” Wanita itu menggelengkan kepalanya, kemudian menatap ke depan. “Saya tidak tau Tuan.” “Sebenarnya dia di ancam oleh wanita itu. Karena wanita itu tidak akan diam, jika tidak mendapatkan Alex. Alex masih mencintaimu waktu itu. Memang dia suka menggoda banyak perempuan, tapi Alex bukan tipe suka sama perempuan lainnya.” Leona mencerna apa yang dikatakan oleh Felix. Dia meringis pelan. “Lalu? Kenapa dia bisa sekamar dengan wanita dulu? Jangan bilang itu hanya terpaksa? Lucu sekali,” desisnya. “Sepertinya kamu tidak percaya akan semua itu. Tapi itu faktanya, dia hanya mencintaimu. Terus, apa dia ingat sama kamu sewaktu kerja?” Leona menghembuskan napas kasar. “Tidak, dia tidak mengenaliku. Jangan sampai dia kembali ke Alex yang dulu.” “Bukannya bagus kalian akan kembali seperti dulu lagi?” “Kamu belum tau jadi saya. Saya sudah terlanjur sakit," gumam Leona. “Saya mengerti. Sebelum Alex mengetahui semua, lebih baik kamu bersiap-siap saja,” kata Felix serius. Leona terdiam, apa yang di maksud dengan ucapan Felix barusan? Setelah sampai di rumah sakit. Leona sengaja untuk menuju ke toilet supaya tidak ditanyai oleh saudara kandung Alex itu. Dia terus menatap cermin yang berada di dalam sana. Bagaimana jika memang itu benar adanya? Akankah dirinya kembali ke Alex? Apa rasa sakitnya akan kembali jika sudah di beritahu alasan yang sebenarnya oleh Alex? Wanita itu menghembuskan napasnya kasar. Dia membasuh wajahnya dengan air, kemudian mengusap dengan lap yang sudah disediakan di sana. “Asistennya Alex bukan?” Suara itu membuat Leona menoleh ke samping. Dia mengkerutkan keningnya ketika melihat wanita yang pernah dia lihat bersama Alex di dalam ruangan Alex. “Apa karena kamu sehingga membuat Alex berubah total? Biasanya Alex tidak pernah menolak apa yang aku inginkan,” kata wanita itu dengan nada dinginnya. Leona mengkerutkan kening. Tak lama dia mengangguk paham. “Maaf Nyonya, mungkin saja jadwal Mr Alex sangatlah padat. Nyonya tahu sendiri kan kalau Mr Alex itu CEO? Tidak mungkin jika Mr Alex membiarkan pekerjaannya ditinggalkan karena Nyonya?” “Aku tidak percaya sama kamu?! Bilang saja kalau kamu ingin mengambil Alex dari aku, yakan?!” Wanita itu menarik rambut Leona dengan erat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN