Tanda-tanda

1243 Kata
Pria itu mendekat kearahnya. Membuat Leona memundurkan tubuhnya dengan spontan. "Astaga, kenapa aku tidak bisa mengontrol diri sih?" batin Leona. Dia terus menggerutu di dalam benaknya. Sebentar? Kenapa dia tidak bisa mundur lagi? Leona menoleh ke belakang dan ternyata dia sudah mentok di mobilnya sendiri. "Dasar wanita aneh! Cepat kamu lanjutkan perjalanannya. Jangan sampai kamu membuat masalah lagi di jalan. Aku akan menunggumu di kantor," kata Alex sebelum pergi dari sana. Leona menghembuskan napas lega, dia menatap punggung Alex yang semakin menghilang dari pandangannya. Dan mobil Alex kini berjalan terlatih dahulu darinya. "Sialan Alex. Kenapa dia membuat jantungku ikut senam sih?" Leona mendengus pelan, kemudian dirinya masuk ke dalam mobil supaya bisa cepat sampai di tujuan utamanya. Selang beberapa menit Leona sampai di tempat kerjanya. Dia melihat jam tangan yang sudah menunjukkan pukul delapan tepat. Wanita itu terburu-buru untuk masuk ke dalam gedung. "Astaga, kenapa aku tidak melihat jam tadi? Tidak seharusnya aku berhenti tadi tck!" "Leona! Disuruh Mr Alex buat coffe. Pakai gula yang banyak," kata Crystal dengan wajah datarnya. Leona spontan menghentikan langkahnya, menatap Crystal heran. "Masih pagi loh ini? Nanti lambung Mr Alex kumat bagaimana sih?" "Kamu menolak perintah Mr Alex? Saya yang disuruh untuk memberitahu kamu?!" Leona sedikit meringis kecil. Dia hanya mengangguk kecil. "B-baiklah Crystal. Saya akan membuatkan minuman buat Mr Alex" katanya sebelum pergi dari hadapan Crystal. "Seharusnya Mr Alex tidak mengonsumsi coffe di waktu pagi. Dia masih ingat dengan lambungnya tidak sih?" gumamnya. Setelah sampai di dapur sana. Leona meracik coffe. Tak mau lambung Alex sakit, dia memesan makanan grabfood untuk mengganjal perut pria itu. "Setidaknya dia memakan nasi sebelum minum coffe." Ponsel Leona tiba-tiba berdering. Dia mengambil ponselnya di tas dan mengangkatnya tanpa melihat nama dilayar. "Ya, hallo?" 'Leona! Kamu di mana hah! Bukannya datang ke kantor, malah sekarang keluyuran?' "Hah? Maksud Mr? Kan Mr sendiri yang menyuruh aku membuatkan minuman untuk Mr?" Leona menghentikan mengaduk coffenya itu. 'Siapa yang menyuruhmu? Aku tidak menyuruhmu untuk membuatkan ku minuman. Sekarang ada keluargaku ke sini, saya mau kamu menunggu di sini. Saya ada rapat,' jelas Alex sebelum mematikan ponsel dari sana. Mata Leona sontak membulat, dia melihat layar ponselnya sekilas. Sungguh, dia ingin marah kali ini. Bagaimana bisa dirinya dimarahi oleh Alex terus-menerus. "Sepertinya aku dibodohi sama orang sok jadi pendiam itu?" batin Leona. Leona berjalan dengan cepat ketika ada notifikasi dari grabfood. Dia mengambil pesanannya dan juga kembali ke dapur untuk mengambil coffe dan juga minuman untuk keluarga Alex nanti. Setelah sampai di depan ruangan Alex. Leona menghembuskan napas untuk menahan rasa gugupnya. Kemudian membuka pintu ruangan Alex dengan pelan. "Permisi," ucapnya diselingi dengan senyuman singkat yang diberikan kepada beberapa orang yang berada di dalam sana, kemudian meletakkan nampan yang berisi minuman dan juga goodfood yang sudah di pesan tadi. "M-maaf Tante, Om, saya baru saja di bawah menunggu pesanan untuk Mr. Takutnya lambung dia sakit kalau minum coffe pagi-pagi." "Astaga, Leona ... Kamu sangat perhatian sekali sama Alex? Makasih sekali ya." Leona hanya tersenyum kecil. Dia kemudian melirik ke arah Alex yang sedang fokus bermain laptop di sana. "Mr? Apa kamu mau rapat sekarang? Mr makan dulu saja. Sebelum rapat," suruhnya dengan nada sopan. Alex nampak melirik ke arahnya dengan tatapan datar. "Saya buru-buru. Temani Mama saya dan juga Ayah." Pria itu menutup laptopnya dan mengambil berkas yang dibutuhkan. Leona mendekat ke arah Alex. "Hiar saya bantu." Alex melirik kearahnya. "Saya sudah bilang kan? Kamu tetap di sini dengan mereka. Sekalian kalian bahas tentang acara yang sudah di cencel kemarin," kata Alex sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar. Leona menghembuskan napas pelan, kenapa dirinya sangat kecewa karena makanannya di tolak oleh pria br*ngsek itu? Wanita itu mengkerutkan keningnya ketika Alex berhenti di ambang pintu dengan menundukkan kepalanya. "Astaga, Mr?!" Leona langsung berlari dan menahan tubuh kekar Alex. "Mr? Are you okay?" tanyanya dengan wajah cemas. Pria itu menoleh kearahnya sembari memincingkan mata. "Leona? Argh!?" Alex meremas rambutnya dengan kencang. "Astaga, biar saya bantu Leona. Kamu di sini saja." Christian, selaku ayah Alex langsung bertindak dan memapah tubuh Alex ke dalam. "Telepon dokter untuk ke sini?!" Leona segera mengambil ponselnya dan mencari dokter yang berada di kontaknya. Kemudian menelpon dokter itu. "H--halo Dok? Bisa ke sini? Mr Alex sedang sakit. Dan dia tidak mungkin ke sana karena ada rapat setelah ini. B-baik Dok, terimakasih sebelumnya. Saya akan mengirim alamatnya." Wanita itu dengan cepat mengirim lokasinya saat ini. Dia berjalan mendekati Alex yang sudah tertidur di sofa sana. "Astaga, Alex? Kenapa bisa seperti ini?" batin Leona. Setelah lama menunggu. Akhirnya dokter datang untuk memeriksa keadaan Alex. Leona terus menunggu dan melihat Alex yang terbaring lemas disana. "Bagamana keadaan anak saya Dok?" tanya tant Monica nampak cemas. "Dia tidak apa-apa. Cuma ingatan dia sepertinya akan kembali dalam beberapa waktu ini, jadi sudah biasa kalau dia mengalami sakit kepala ringan," jelas sang doktor. "Syukurlah kalau dia tidak kenapa-kenapa," kata Tante Monica. "Saya sudah kasih suntikan untuk menenangkan pikiran dia. Kalau bisa jangan sampai kelelahan," kata doktor itu. "Kalau begitu saya duluan, ada pasien lain yang menunggu saya." "Biar saya yang mengantarkan Doktor," kata Leona sembari emngikuti doktor itu dari belakang. Disetiap koridor, Leona menatap doktor Fenly dari samping. Jujur saja dia sangat ingin bertanya keadaan Alex lagi. "Em ... Dok? Boleh tanya sesuatu?" Doktor Fenly menoleh ke samping. Keningnya nampak mengkerut. "Ya? Apa yang perlu ditanyakan?" "Apa ingatan Mr Alex akan pulih dalam waktu seminggu ini?" Doktor Fenly menganggukkan kepalanya. "Mungkin, ada tanda-tanda seperti itu. Apa Mr Alex pernah merasakan sakit kepala?" Leona menggelengkan kepalanya cepat. "Sepertinya tidak Dok. Kemarin sewaktu sama saya, keadaannya baik-baik saja. Makanya saya kaget waktu Mr Alex kesakitan sampai bisa tidak sadarkan diri." Dokter Fenly tertawa kecil. "Kamu tidak perlu khawatir. Sudah saya beri obat untuk Mr Alex. Baiklah ... Sudah sampai sini, saya duluan. Terimakasih sudah mengantarkan sampai parkiran," kata doktor Fenly dengan sopan sebelum pergi dari hadapan Leona. Leona tersenyum lembut, dia menatap punggung doktor Fenly yang sudah menghilang dari pandangannya dan menatap mobil yang sudah berjalan keluar dari sana. Setelah melihat mobil doktor Fenly sudah tak ada di sana. Leonapun langsung kembali ke dalam dan berjalan menuju ke ruangan Alex. Leona terdiam melihat Alex yang masih terbaring di sofa. Apa sesakit itu? Pandangan matanya menuju ke tante Monica dan juga Christian. "Tan, Om? Kalian balik saja. Kita bicarakan acara ini di lain waktu. Pasti kalian sibuk?" "Tapi ... Alex?" Leona menghembuskan napasnya pelan. "Biarkan saya yang menjaga Mr Alex, Tant. Tante tidak perlu khawatir." "Serius Leona? Tante tidak mau merepotkan kamu Sayang," kata Tante Monica. Leona tersenyum tipis. "Ini- tidak merepotkan Leona kok, Tante tidak perlu khawatir." Tante Monica nampak menghembuskan napas dan mengkode Christian. "Kalau begitu, kami balik dulu ya? Tolong jaga Alex," ucap Tante Monica sebelum pergi dari tempat itu. Leona terdiam, menatap pintu yang sudah tertutup di sana. Dia segera duduk di tepi sofa, kemudian memegang kening Alex yang terasa panas. "Panas, tck! Ternyata Mr Alex yang super menyebalkan bisa sakit juga?" desisnya. Kalau dilihat-lihat lelah juga menunggu orang yang belum sadar. Akhirnya Leona memutuskan untuk ke dapur menyiapkan kompres dan kembali ke ruangan Alex. Wanita itu meletakkan kompres di kening Alex. Dia menghembuskan napasnya sekali lagi. "Kenapa aku merasa peduli sama Alex? Padahal baru sakit seperti ini saja?" gumamnya sembari menatap wajah Alex. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Anggap saja itu perhatian kecil untuk Alex, bukan berarti aku menyukainya kan?" dia menyingkirkan beberapa pikiran di otaknya. Setelah selesai mengompres, Leona ingin beranjak dari tempat duduknya itu. Namun, tiba-tiba saja ada tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. "Mau ke mana?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN