Leona terdiam, jantungnya hampir saja berhenti berdetak. Spontan dia menoleh ke samping. “Kenapa bertanya seperti itu sih Mr?”
Alex menoleh ke samping sekilas. “Saya merasa kalau aku dekat denganmu, makanya aku ingin tahu.”
Leona mencoba untuk tidak gugup dihadapan Alex. “Aku sudah bilang kan? Kalau aku salah orang? Wajah kalian tuh sama," kata Leona.
“Bisa jadi orang yang kamu maksud itu kamu? Bahkan orangtuaku juga seperti kenal dekat sama kamu," kata Alex sekali lagi.
Leona terdiam, dia harus bicara apa kali ini. Apa dirinya harus bilang jujur pada Alex. Dia memejamkan matanya sekilas, kemudian menghembuskan napas pelan.
“Benar kan? Kalau orang yang kamu maksud itu saya?” tanya Alex sekali lagi. “Kamu dan aku ada hubungannya dengan ucapan orangtuaku?”
Leona memalingkan wajahnya sekilas. “Ah-- rumahku ada disekitar sini, nanti turunkan aku di halte bus depan saja ya Mr.”
Alex spontan mengkerutkan kening. “Baiklah, besok jangan sampai terlambat.” Pria itu menghentikan ditepi halte dan segera Leona turun dari mobil Alex.
Sungguh, Leona sangat lega sudah keluar dari mobil Alex. “Terimakasih Mr! Hati-hati dijalan!” Dia melambaikan tangannya, begitu mobil itu langsung pergi dari hadapannya.
Leona menghela napasnya kembali, dia mengecek detak jantungnya. “Astaga, benar-benar si Alex. Untung saja rumahku ada disekitar sini,” geurutunya, kemudian dia berjalan kearah gang rumahnya.
Wanita itu terus mengingat perkataan Alex dan juga orang tua Alex. Dia terus mencerna dari perkataan mereka. “Apa benar Alex tidak sengaja mempermainkanku waktu itu? Sampai-sampai Alex mengalami kecelakaan dan amnesia?” batinnya.
Leona menggelengkan kepalanya cepat. “A–ah! Tidak! Kenapa aku berpikiran seperti itu. Sudah, Leona! Sekarang fokus saja dengan pekerjaanmu, okey!” katanya untuk menyemangati dirinya sendiri tanpa memikirkan pria sinting itu.
***
Pagi ini, Leona sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Dia memakai pakaian rapi dan mengambil tas selempang di meja setelah selesai makan. “Ma, Leona berangkat dulu,” katanya sembari bersalaman dengan mamanya disana sebelum keluar dari rumah.
“Kak! Tunggu! Aku ikut!”
Leona mengkerutkan kening ya, melihat Ara yang sudah memakai pakaian rapi. “Kenapa harus ikut sama aku sih? Lagipula ada bus atau taxi kan? Jangan bikin Kakak telat kerja Ara?!”
“Ih! kakak gitu ya sekarang. Mentang-mentang sekarang punya pekerjaan tidak bisa nebengin Ara,” kata Ara. “Udah ah! Cuma sebentar doang kan?!”
Leona mengkerutkan keningnya, bisa-bisanya Ara sudah masuk ke dalam mobil. Dia menggelengkan kepalanya, kemudian dirinya segera masuk ke dalam mobil. “Kamu ini, awas saja kalau aku terlambat nanti,” katanya sedikit mengancam.
Leona menghidupkan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
“Oh ya? Apa kuliahmu itu sudah selesai?”
“Kenapa tanya-tanya? Tidak pernah dikasih uang jajan juga,” gerutu Ara. Membuat Leona melirik dari spion.
“Coba bilang sekali lagi? Biasanya siapa yang mentransfer uang di rekening kamu hah?!”
“Yakan cuma uang jajan? Bukan uang SPP kampus kan?”
Leona memejamkan matanya sekilas, menahan rasa kesal yang dirasakan saat ini. “Untung kamu jadi adik aku ya, kalau tidak mungkin sudah aku lemparkan ke jurang sekarang.”
“Gaboleh marah dong, nanti cepat tua,” gurau Ara dengan wajah polos. Leona mendengkur kesal, tak lama dia menghentikan mobilnya di depan kampus Ara.
“Wah! Cepat sekali. Terimakasih banyak Kak, see you! Jangan lupa transfer ya!” kata Ara sebelum keluar dari mobilnya itu.
Leona menepuk keningnya yang terasa pusing. “Padahal baru saja semobil sama adikku, udah pusing aja,” gumamnya.
Wanita itu mengurungkan niatnya untuk menjalankan mobilnya, karena di sana terdapat mobil yang tidak asing. Kening Leona mengkerut, kemudian melihat pria yang baru saja keluar dari mobil mewah itu.
Pria yang berjas dan memakai kacamata hitam tersebut mengantarkan seorang pria yang lebih muda. “Sebentar? Itu Alex bukan! Kenapa dia berada disini? Apa dia penguntit? A––ah, tidak mungkin. Tapi–kenapa wajah mereka sangat mirip? Apa mereka kembar?”
Leona terus memandangi Alex dan juga pria yang lebih muda dari Alex tanpa berkedip. Kenapa dirinya sangat penasaran? Akhirnya dia memutuskan untuk keluar dari mobil dan mengikuti mereka diam-diam.
Sebentar? Mereka kenapa berhenti? Leona ikut berhenti dan mencari tempat persembunyian.
“Astaga, untung saja tidka ketahuan,” batin Leona lega. Jantungnya berdegup dengan cepat. Dia mengintip dari sela tembok, wajahnya sangat bingung ketika kedua pria itu menghilang. “Apa aku salah lihat?” gumamnya.
“Kamu sedang mencari siapa, Nona?”
Suara itu? Tubuh Leona membeku seketika. Dia memejamkan mata sekilas. Kemudian berbalik badan untuk memastikan siapa yang berbicara padanya.
“Astaga, kenapa jadi seperti ini sih?” batin Leona. Dia menegukkan ludahnya susah payah karena saking gugupnya.
Alex mengkerutkan keningnya di sana, sebelum tertawa kecil. “Aku tidak percaya kalau kamu sekarang menjadi penguntit orang,” kata pria itu dengan santai.
Mata Leona membulat. “H––hah! Kata si––siapa? Enak aja aku jadi penguntit orang?!”
“Oh yah? Terus apa kalau tidak menjadi penguntit? Kamu kira dari tadi aku tidak melihatmu yang diam-diam mengikutimu heum?”
Leona menggelengkan kepalanya cepat. “A–aku bukan penguntit ya! A––aku cuma–”
“Apaansih Tante ini. Kalau suka sama Kakak aku mending tembak aja langsung. Gitu saja repot. Kak, duluan ya. Selesaikan masalahnya, kalau sudah jadian bilang ke aku,” kata pria muda itu sebelum meninggalkan mereka.
Leona sempat terdiam. Keningnya mengkerut, bingung dengan pria muda itu. “Adik? Apa dia punya adik? Perasaan dulu dia tidak pernah menceritakan kalau Alex punya adik? Kenapa tiba-tiba sekali?” batinnya.
“Biasa saja natal adik saya. Kamu sendiri ngapain di sini? Apa benar kamu ingin menjadi penguntit?”
Benar-benar si Alex. Leona menatap tajam pria itu. Tangannya mengepal, dia menghembuskan dan memejamkan mata sekilas untuk mengontrol emosinya. “Saya sedang mengantarkan adikku juga Mr. Tadi saya kaget kalau Mr di sini, jadi saya ikuti karena saking keponya. Apa–– itu tadi adik Mr?”
Alex mengkerutkan kening, dan menatap ke belakang Leona berada. “Chris? Iya dia adik aku, kenapa?”
Leona sempat mencerna apa yang diucapkan Alex barusan. “Dari kapan Alex punya adik?” batinnya.
“Saya tidak mau ribut sama kamu. Jangan sampai kamu telat, aku duluan,” kata Alex sebelum pergi dari hadapannya.
Leona masih mencerna, kemudian menatap punggung Alex yang semakin lama menghilang. “Apa aku harus bertanya kepada tante Monica? Aish! Kenapa aku jadi kepo sama keluarga Alex?”
Leona menggelengkan kepalanya, tidak mau berlama di kampus ini, akhirnya dia kembali ke mobil dan menjalankan mobil kembali.
Wanita tidak fokus berkendara karena memikirkan adik Alex tadi. Apa yang sebenarnya terjadi?
Tak lama, beberapa klakson terdengar di telinganya. Tak lama Leona menghentikan mobilnya ditepi jalan dan shocknya ada seorang yang mengetuk pintu kacanya.
“Astaga, apa yang aku lakukan?” gumam Leona. Tak mau ada masalah yang rumit, dia langsung membuka kaca mobilnya dan bertanya pada pria tua itu. “Ada apa ya Pak?”
“Ada apa, ada apa? Kamu tidak lihat kamu hampir saja mencelakai nyawa orang?! Kalau tidak bisa berkendara lebih baik naik bus atau yang lainnya?!” bentak pria tua itu.
Leona meringis kecil, sekilas dirinya menoleh ke belakang. “Begitu ya Pak? Maafkan saya ya Pak? Saya tidak fokus tadi.”
“Apa dengan kata minta maaf, masalah akan selesai hah?”
Wanita itu sempat bingung, dia terus menatap pria tua itu. “Terus?”
“Bayar seratus ribu,” kata pria tua itu menadahkan tangan.
Kening Leona semakin mengkerut, tidak mengerti apa yang dikatakan pria tua ini. “Astaga Pak! Bapak mau merampok atau bagaimana sih?”
“Ouh. Tidak mau ya? Oke! Saya akan melaporkan ke kantor polisi.”
“Ada apa bawa-bawa polisi hah?”
Kedua orang itu menoleh ke sumber suara. Wajah Leona sangat tidak percaya kalau bisa bertemu di tengah jalan seperti ini. “Apa ini suatu kebetulan?” batin Leona.
“A––alex! Kenapa kamu di–di sini?”
Alex terlihat melirik kearahnya dan mendekat kearah pria tua itu. “Bayar berapa? Biar saya yang membayarnya.”
“Engh– Mr? Alex? T–tidak Mr. S––saya hanya bercanda. Soal itu, saya sangat kesal dengan wanita itu karena tidak bisa berkendara. Kalau begitu– s–saya duluan, permisi Mr,” kata pria tua itu sebelum pergi dari hadapan mereka.
Leona nampak kagum ketika mendengarkan ucapan pria tua tersebut. Dia menuruni mobil itu dan mendekat ke arah Alex. “A–apa apaan ini? Kenapa dia sangat ketakutan denganmu?”
“Menurutmu? Tck! Bisakah kamu tidak mencari masalah lagi heum?”
“Apa masalah?!” kata Leona tidak terima. Matanya membulat seketika. “Kamu kira saya membawa masalah hah?!”
Alex mengkerutkan keningnya. “Kenapa kamu sangat berani denganku hah?”