Bertemu Ayah Alex

1337 Kata
Leona nampak kikuk, dia melirik Alex yang sudah duduk manis dikursinya. "B--belum," jawabnya dengan gugup. Bodohnya kalau dirinya berharap kalau Alex akan menjawab semua itu. "Astaga apa yang aku pikirkan?" umpat Leona dalam hati. "Bagusdong, kalau tidak punya kekasih. Aku akan daftar," gurau Leo sebelum melanjutkan pembicaraan. "Silakan duduk," suruh pria itu. Tanpa berbicara, Leona langsung duduk di kursi samping Alex. "Bisa langsung ke pointnya? Jangan ganggu asisten saya, dia hanya menemani saya disini," kata Alex tiba-tiba. Leona spontan menoleh ke samping, dia menerjapkan matanya sekilas, lalu menatap Leo dengan perasaan tidak enak. "Ahh okey, maafkan saya. Kalian mau pesan apa? Pesan dulu baru kita bicarakan soal kerjasama kita," kata Leo. Alex nampak menghela napasnya, seperti pria itu tidak terlalu suka bertemu dengan orang-orang luar. Seperti yang dilihat kalau pria yang berada disampingnya ini mempunyai MBTI intovert. Tidak salah lagi kalau dia lebih diam di depan orang lain, kecuali orang penting. "Baiklah, kamu pesan apa? Lihat menunya, nanti saya bayar," kata Alex memberikan menu makanan kepada Leona. Leona tersenyum kecil, dia melihat beberapa menu disana. "Saya jus jeruk saja Mr," kata Leona setelahnya. "Baiklah, kalau kau Leo? Biar saya pesankan saja." "Eh biar saya saja Alex. Bentar saya panggilkan mbaknya dulu," kata Leo sebelum memanggil pelayan yang bekerja disana. "Mau pesan apa Mas, Mbak?" "Jus jeruk, coffe, sama ....." ucapan Alex menggantung sembari melirik Leo untuk menunggu jawaban dari pria itu. "Saya juga coffe," kata Leo setelahnya. "Itu saja?" tanya Alex menatap Leo dari samping. Leona menghembuskan napas pelan. Kemudian menganggukkan kepala pelan. "Itu saja Mbak, saya tunggu," kata Alex, kemudian meletakkan menunya di samping. "Baik, tunggu beberapa menit ya," kata pelayan perempuan itu sebelum pergi dari tempat mereka. Leona hanya tersenyum, dia terus menatap punggung perempuan itu. Ternyata ada juga yang bekerja disini. Biasanya waktu dirinya kesini, kebanyakan pria yang bekerja. "Kamu tidak apa?" tanya Alex tiba-tiba. Leona menoleh ke samping, kemudian menggelengkan kepalanya cepat. "T--tidak kok," jawab Leona spontan. Leona merasa bosan jika terus menunggu dua orang ini berbciara, ah bukan dua orang tapi tiga orang. Ayah Alex juga ikut berbicara dengan mereka, bahkan beberapa pertanyaan sempat ditanyakan kepada Leona soal Alex. “Ah ya, Leona? Apa kamu tidak keberatan jika kita minum wine disini?” ttanya ayah Alex itu dengan nada sopan. Leona sempat diam, sekilas dia melirik Alex yang kini sedang menatapnya. “Engh—tidak apa kok Om, silakan,” kata Leona seikit kiku. Bukan urusan dia lagi sih, tapi takuntya kalau Alex minum banyak dan dia tidak bisa mengantarkan Alex ke rumah. “Kita bisa minum terlebih dahulu, biar kalian tidak terlalu pusing. Saya akan membayarnya,” kata ayah Alex sebelum berlalu dari hadapan mereka. Leona terdiam, sekilas dia melirik Alex yang memandangnya. “Sepertinya orangtuamu kenal dekat dengan asisten cantikmu ini ya?” Leo berkata yang sejujurnya. Leona dan juga Alex saling pandang. “Apa begitu? Sepertinya ayahku tipe orang yang mudah care sama seseorang,” kata pria itu dengan santai. Wanita yang berada di samping Alex hanya tersenyum lembut. "Bodoh sekali Alex sekarang, memang aku kenal dekat dengan keluarga dia, bagaimana tidak akrab?" batinnya. "Oh ya? Kata mamamu kamu akan membuat acara buat kita? Apa ada--" papa Alex melirik kearah Leona sebelum melanjutkan pembicaraan. "Leona?" Alex nampak bingung, sekilas dia melihat apa yang ditatap oleh ayahnya itu. Dia tertawa kecil. "Ya jelaslah, dia kan asisten Alex. Tidak mungkin Alex membiarkan dia pulang terlebih dahulu sebelum acara keluarga Alex berjalan dengan lancar." "Apa kamu akan melamar dia dihadapan keluarga kamu?" gurau ayah Alex sebelum duduk kembali. Leona terbatuk mendengarkan ucapan dari ayah Alex. "Apa kamu tidak apa?" tanya Alex memastikan. Leona tersenyum kikuk, dia menutup mulutnya supaya batuknya tidak mengenai mereka. "Aku tidak apa-apa Mr." "Dia sangat lucu, kenapa kamu tidak menikahinya saja Alex? Ayah sangat menyukai dia, ayah berharap kamu menikah dengan Leona." “Najis banget, menikah dengan buaya seperti Alex,” batin Leona. Alex menoleh kearahnya, Leona tersenyum kikuk setelah itu. “Aku menikah dengan Leona? Ayah ini sangat lucu sekali,” kekeh Alex sembari menggelengkan kepalanya cepat. “Aku tidak mencintai Leona, bagaimana bisa aku menikahi wanita seperti dia?” “Untuk sekarang kan? Mungkin saja kamu akan menyukai Leona beberapa minggu kemudian, Ayah akan menunggunya, nak,” kata ayah Alex diselingi kekehan kecil. Leona menghembuskan napas pelan. Tidak lama pesanan wine yang dipesan tadi diletakkan di meja mereka. Leona disana hanya memandang tiga pria itu yang kini sedang meminum.alkoh berkadar kecil itu. “Apa kamu mau Nak Leona?” tanya ayah Alex sembari memberikan satu gelas untuknya. Leona menunduk sopan. “Tidak, saya takut kalau Mr nanti terlalu mabuk. Jadi saya tidak ingin masuk,” katanya setelahnya. Ayah Alex mengangguk kecil, seperti mengerti apa yang dikatakan olehnya barusan. “Aku suka menantu seperti Leona. Selain cantik, dia sangat perhatian. Tidak seharusnya kamu melupakan dia Alex,” ucap ayah Alex sedikit melatur. Leona meringis pelan, bisa-bisanya dirinya bersama beberapa pria yang sedang masuk disini. Dia melirik kearah Alex yang kini tengah menatapnya. Leona mengkerutkan keningnya heran. “Kenapa Mr?” Alex menggelengkan kepala. “Aku-- sepertinya pernah lihat kamu. Tapi--” Leona spontan terdiam, kemudian dia tertawa kecil. “Yang bener saja Mr, mungkin salah orang kali,” katanya diselingi kekehan kecilnya. “Saya serius, apa kita pernah bertemu?” tanya Alex kemudian. Leona menatap pria itu datar. Sesekali melirik kearah ayah Alex dan juga Leo memastikan kalau mereka tidak mendengarkannya. “Mr sedang mabuk kan?” dia memegang kening Alex tanpa rasa takut sama sekali. Alex segera menepis tangan Leona. “Aku hanya minum setengah gelas dan aku bukan orang yang seperti diluar. Aku akan meminum sedikit jika aku bersama dengan orang lain,” kata pria itu. Leona menghembuskan napasnya pelan, dia melirik pergelangan tangannya. “Sama saja, lebih baik kita balik saja. Mr juga harus berkerja besok.” Alex melepaskan tangannya dari Leona, kemudian memalingkan wajah. Nampak jelas, jika pria itu kini sedang tidak baik-baik saja. “Aku ke toilet sebentar. Ayah? Apa Ayah bisa pulang sendiri?” “Tidak masalah Alex, nanti ada supir Ayah kesini. Saya akan pulang dengan supir Ayah,” kata ayah Alex sembari tertawa kecil. Leona melirik kearah Alex. “Saya tunggu disini.” Alex mengangguk kecil, kemudian pria itu beranjak dari tempat tersebut. Leona menghembuskan napasnya lega, dia mengusap wajahnya kasar. “Aku tidak siap kalau Alex mengenalku. Lebih baik seperti ini.” “Leona? Apa kamu pulang sekarang?” Leona menatap kearah Leo. “Iya.” “Sayang sekali, harusnya kita bersenang-senang hari ini,” kata Leo diselingi dengan kekehan kecil. Wanita menghembuskan napas berat. Gila kali ya, kalau ikutan mereka? Dia bukan tipe wanita seperti yang diluar sana. “Kita balik sekarang, kalian hati-hati dijalan ya,” kata Alex setelah kembali dari toilet. Sontak membuat Leona menoleh ke sumber suara, kemudian beranjak dari kursi. “Kita duluan ya, Om, Leo," ucapnya sebelum keluar dari restoran itu dengan Alex. “Apa kamu tidak nyaman dengan mereka?” tanya Alex tiba-tiba. Leona menoleh ke samping, dia tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Sepertinya begitu,” katanya. “Semoga kejadian barusan tidak akan membuat kamu mengundurkan diri,” desis Alex. Kemudian pria itu membukakan pintu untuk Leona. “Ayo masuk, saya akan mengantarkanmu pulang.” Leona mengangguk dan masuk ke dalam mobil Alex. Setelah itu Alex juga ikut masuk dan menjalankan mobil dari tempat tersebut. Disetiap perjalanan tidak ada pembicaraan diantara mereka. Leona yang merasa tidak biasa, dia langsung membuka ponselnya untuk mencari kegiatan. “Oh ya? Soal acara keluarga apa kamu sudah mempersiapkan semuanya?” tanya Alex. Leona menoleh ke samping, lalu menggelengkan kepalanya. “Belum, nanti saya pikirkan di rumah saja. Kalau boleh tau, saya sekarang boleh pulang?” “Sepertinya untuk sekarang kamu bisa pulang, makanya aku mengantarkanmu pulang. Besok kembali bekerja lagi, seperti biasa jangan sampai kamu terlambat,” kata Alex tidak seperti biasanya. “Bagusdeh, aku bisa istirahat,” gerutunya. Tatapannya menuju ke depan untuk menatap beberapa kendaraan yang melintas. “Leona?” Leona hanya berdehem tidak memandangi Alex. “Apa kamu yakin kalau foto yang kemarin itu foto orang lain?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN