Leona mengerjapkan matanya untuk menyadarkan lamunannya, lalu beranjak dari duduknya dan menundukkan kepalanya sekilas. “H—hallo Mr.”
Alex hanya menggelengkan kepalanya pelan, pria memberikan sebuah foto Alex dan juga Leona yang berukuran sedang. “Ini punya kamu kan?”
Leona mengerjapkan matanya, dia langsung mengambil dari tangan Alex tanpa banyak bicara. “Astaga! Makasih banget loh Mr. Untung aja Mr tadi menemukannya.” Dia langsung menyimpan di tasnya.
“Benar katamu, dia mirip sama saya,” kata Alex tiba-tiba.
Sontak membuat Leona menoleh ke arah pria tersebut, dia terdiam sejenak. Kemudian dia menghela napasnya pelan dan tersenyum paksa di hadapan pria itu.
“Memang dia kamu, Alex! Bodoh sekali,” batin Leona dengan perasaan yang kesal.
“Kan sudah saya bilang Mr, kalau tidak, mungkin saya tidak akan bertanya dengan Mr,” alibi Leona.
Alex mengangguk kecil dan tersenyum ke arahnya. “Lain kali hati-hati kalau membawa barang berharga," kata Alex.
Leona terdiam, kemudian dia mengangguk kecil. Tangannya di mainkan di bawah sana untuk menahan rasa gugupnya.
Tak lama kemudian, bus datang di hadapannya. “Eh ya, saya duluan ya Mr. Busnya sudah datang, mari Mr.” Leona kembali menundukkan kepalanya sopan, lalu berjalan cepat masuk ke dalam busnya.
Wanita itu menghela napas lega. Akhirnya dirinya sudah meninggalkan pria itu. Dia menduduki salah satu kursi dekat jendela. Tak sadar Leona menatap keluar sana, ternyata Alex masih memandangnya dan melambaikan tangan ke arahnya. Spontan dia tersenyum kecil.
Leona mengambil sebuah foto tadi. “Perlakuanmu memang sangat manis, Alex. Tapi, kamu juga sangat jahat kalau bermain dengan wanita,” ringisnya.
“Andai kamu tidak melakukan itu padaku, mungkin saja aku masih bersamamu sekarang,” gumamnya kemudian dia mengembalikan foto itu di tas selempangnya. Kepalanya disandarkan di kaca bus tersebut. Dia juga mengingat tadi sewaktu Alex dengan perempuan berciuman.
“Ternyata sikapmu masih melekat, meskipun kamu tidak kenal siapa aku. Dasar buaya,” kata Leona sembari terkekeh kecil.
“Jangan sampai kamu mengambil hatiku lagi Alex. Aku tidak mau kembali ke masa laluku yang pernah kamu hancurkan,” kata Leona lagi.
“Aku tidak akan terkena dengan perlakuanmu itu,” desisnya.
Beberapa menit kemudian, Leona sampai di tujuannya yaitu halte dekat rumahnya itu. Dia langsung menuruni bus dan berjalan kaki menuju ke rumah. Sebenarnya malas juga, pulang-pergi naik bus atau tidak taxi. Paling benar seharusnya dia memakai mobil pribadi.
Leona mengetuk pintu rumahnya, kemudian masuk ke dalam. “Leona pulang!” teriaknya. Dia langsung berjalan sempoyongan ke kamarnya.
“Kak! Mana uangnya?! Katanya ditransfer!" kata Ara mendekati ke arahnya. Membuat langkah kakinya terhentikan. Leona memutarkan bola matanya jengah.
“Ma! Mending Mama kasih uang dulu deh Ara! Pusing aku kalau dia minta-minta terus sama aku!”
Ara adalah adik kandung Leona, hanya selisih dua tahun saja darinya. Namun dia sangatlah menyebalkan untuknya.
“Apasih Ma, kan Ara cuma minta uang jajan. Maksudnya, uang simpanan,” ucap Ara dengan mengerucutkan bibir.
“Tadi sudah Mama kasih loh, Leona. Kebiasaan minta kamu, makannya dia minta kamu terus,” kata Mamanya yang berteriak dari arah dapur.
Leona menghela napasnya pelan. “Ya sudah, nanti kirim nomor rekeningnya. Kakak mau istirahat dulu,” katanya sebelum masuk ke dalam kamarnya.
“Yes! Terimakasih Kakak cantik!” kata Ara teriak kegirangan.
Tiba-tiba saja ada suara pecahan dari luar. Belum saja Leona meletakkan tas selempangnya, dia langsung keluar. Begitu shock melihat vas kesayangannya itu jatuh.
“Vas kesayanganku!” Mata Leona membulat, dia menatap Ara yang hanya menyengir kuda kearahnya. “Ara!”
“Ma--maaf Kak, aku tidak sengaja serius?!” Ara mengacungkan dua jari tangan kepadanya.
Leona memejamkan matanya sekilas untuk menahan rasa amarahnya itu. “Sudah Kakak bilang kan! Hati-hati kalau jalan! Ceroboh sekali sih kamu!?”
“Sudahlah Leona, jangan memarahi adik kamu terus,” kata mamanya mendekati mereka.
“Tuhkan, dengerin tuh. Jangan marahin adik kamu terus. Nanti kualat!” Ara ikut membelah diri sendiri.
Leona tidak terima. Namun dirinya tidak ingin berlanjut. Akhirnya dia masuk ke dalam dan menutup pintunya dengan keras.
Wanita itu menghempaskan tubuhnya di kasur dan memejamkan matanya. “Astaga, baru saja pulang. Sudah bikin naik darah saja,” gumamnya.
Tiba-tiba Leona terpikirkan tadi sewaktu di kantor. Alex sepertinya tau sesuatu tentang kalungnya? Dia memegang kalungnya itu. “Apa Alex ingat sesuatu tentang kalung ini? Kalau memang iya kenapa dia berpura-pura bodoh di depanku?”
Leona bersikeras untuk memikirkan hal yang membuatnya kebingungan.
***
Hari ini adalah hari pertama untuk Leona kerja. Sebelum kerja dia memakan roti yang sudah disiapkan dan juga s**u putihnya yang berada di meja sana.
Dia tidak makan sendiri disana. Namun ada mamanya dan juga adiknya. Papanya sudah berangkat terlebih dahulu untuk kerja.
“Aku duluan ya Ma? Leona disuruh untuk berangkat lebih awal soalnya,” kata Leona. Dia langsung bersalaman dengan mamanya itu dan berjalan cepat keluar dari rumahnya itu.
“Hati-hati di jalan! Tidak usah tergesa-gesa!” teriak mamanya itu dari dalam.
“Iya Ma!” teriaknya. Dia berjalan lebih cepat supaya sampai di halte untuk menunggu bus datang. Setelah sampai di bus ternyata disana belum ada bus yang lewat.
Leona melihat jam tangannya yang menunjukkan pukul tujuh lebih. “Astaga sudah jam segini, apa Alex akan memarahiku nanti?” gumamnya. Dia langsung mengotak-atik ponselnya untuk memesan grab.
“Semoga saja bapaknya bisa lebih cepat kesini,” gumamnya. Tak lama ada yang menelponnya, dia meringis pelan ketika melihat nama Alex di sana. “Tuhkan! Sudah ada firasat buruk dari tadi,” gumamnya.
“Hallo? Mr?” Leona langsung menjawab telepon dari Alex setelah lama tidak diangkat dari tadi.
[Kamu ke mana saja? Harusnya kamu sampai di kantor sekarang,] kata Alex bicara sedikit keras.
Leona meringis kecil, ponselnya agak dimundurkan dari telinganya.
“Y--ya-- saya akan segera sampai. Tunggu sebentar ya, Mr?”
[Harusnya kamu datang jam enam kurang, Leona! Kamu tidak melihat jam atau bagaimana hah?! Aku menunggumu. Jangan lama,] ucap Alex sebelum menutup panggilan di sana.
Leona menghela napasnya pelan. Dia menatap layar ponselnya, akhirnya pria itu sudah mematikan dari sana. Tak butuh waktu lama, grab yang di pesan sampai dengan tepat waktu. Dia segera masuk ke dalam dan menyuruh supir taxinya untuk berjalan agak cepat menuju ke arah kantor.
“Kalau bukan bos mungkin sudah aku injek-injek,” gumam Leona sembari membenarkan make-upnya di dalam mobil tersebut.
Setelah sampai di kantor, Leona segera turun dari mobil itu dan tak lupa untuk membayarnya. Dia berjalan cepat masuk ke koridor kantor tersebut, banyak orang yang memandanginya kagum.
Tapi, saat ingin masuk ke dalam lift. Ada segerombolan orang yang keluar lift dengan tergesa-gesa sehingga membuat tubuh Leona tidak bisa menyeimbangkannya. Untungnya di belakang ada yang menahan dirinya.
“Huh! Kurang ajar mereka,” gumamnya. Dia melirik ke arah tangan yang sudah menahan tubuhnya.
Tangan yang tidak asing, dia menoleh ke belakang. Shock bukan main kalau Alexlah yang menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh.
Leona segera mensejajarkan tubuhnya. Wajah gugup dan kikuk bercampur jadi satu. Tak mau bosnya itu marah, akhirnya dia menundukkan tubuhnya sembilan puluh derajat untuk menyapa Alex. “Selamat pagi, Mr,” sapa Leona diselingi dengan senyuman khasnya.
Alex menghembuskan napasnya disana, kemudian masuk ke dalam lift tersebut. Tentunya Leona ikut masuk ke dalam juga.
“Bagaimana Mr? Apa saya telat sangat lama?” Leona mencoba untuk mencairkan pembicaraan. Alex langsung menoleh ke samping.
“Menurutmu?” Kening pria itu dikerutkan. Ucapan Alex seperti ingin menyuruhnya peka dengan keadaan.
“Kamu sudah telat setengah lebih, Leona. Coba lihat jam tanganmu, kamu punya jam tangan tapi tidak pernah kamu tidak tau kegunaan jam itu?” ucap Alex seperti menyindir.
Leona mengerjapkan matanya pelan, dia melirik jam tangannya sekilas. Lalu menyunggingkan cengirannya. “M--maaf, Mr. Tadi saya makan dulu, habis itu menunggu bus yang tidak datang-datang. Ya-- akhirnya saya memesan grab tadi,” katanya dengan jujur. Nampak terlihat kalau pria itu sedang menghela napasnya kasar.
“Kalau tau begitu, kenapa kau tidak mencari grab atau taxi dari awal, Leona?” ucap seorang Alex dengan kesal.
Leona mengangkat bahunya pelan.
“Lupakan?!” Alex langsung keluar dari lift tersebut setelah sampai di lantai atas. Leona pun langsung keluar mengikuti bosnya itu kemanapun pergi.
“Kenapa karyawan itu terus mengikuti Mr Alex? Bukannya di tempat kerjanya?”
“Ya, seharusnya begitu.”
“Tapi dengar-dengar dia ganti posisi tau sebagai asisten Mr Alex?”
Beberapa ucapan orang-orang yang berada di sana membuat dirinya kesal. Tanpa merespon mereka, dia terus mengikuti Alex.