Wanita itu terdiam mencerna apa yang dikatakan pria ini barusan, lalu membulatkan matanya. Kenapa manusia satu ini labil sekali?
“Apa kata Mr? Maksudnya ada orang lain yang menggantikan saya begitu?! Bisa-bisanya Mr menarik ulur ucapan Mr hah?” Leona nampak tidak terima apa yang dikatakan oleh Alex.
“Calm down, baby. Saya belum melanjutkan ucapan saya.” Alex menyuruhnya untuk tenang terlebih dahulu dan duduk kembali. Leona mendengkus kesal dan memutarkan bolamatanya.
“Maksud saya kamu tidak bekerja sebagai karyawan disini. Kamu di terima menjadi asisten pribadi saya. Saya membutuhkanmu untuk mengurus urusanku saja. Besok malam ada meeting dan kamu harus ikut saya,” lanjut Alex menjelaskan.
“E--eh serius, Mr? Kenapa mendadak sekali?” Wajah Leona nampak tidak percaya.
“Apa kamu akan menolak itu semua?” tanya Alex penasaran.
Leona menggelengkan kepalanya. Ini kesempatan bagus juga. Tapi, bagaimana dengan sekretarisnya?
“Tapi, sekretaris Mr bagaimana?” tanya Leona.
“Besok Agnes akan cuti beberapa hari karena dia mau menikah. Jadi saya perlu asisten pribadi untuk sementara waktu. Dan semoga saja kamu bisa membantu saya,” kata Alex dengan serius. Leona mengangguk mengerti.
“Apa itu sangat lama?” tanya Leona lagi.
Alex berdehem pelan. “Sepertinya begitu, yang saya takutkan Agnes tidak kembali lagi di sini alias resign. Jadi kalau dia keluar, saya mempunyai cadangan,” kata Alex.
Dikira barang apa cadangan? Leona sempat mengumpat dalam hati.
“Tapi asal kamu tau. Kamu bukan hanya bekerja untuk pribadi saja, tapi di kantor juga. Tau kan, tugas asisten itu apa?” tanya pria itu.
Leona mengangguk kecil.
“Kamu harus ikut dengan saya setiap detik, menyiapkan waktu untuk pribadi, jam kerja, menyiapkan saya kopi kalau sudah waktunya, memberikan yang saya mau. Kalau kamu tidak bisa bekerja dengan baik, saya akan memotong gajimu!” terang Alex.
Mata Leona membulat seketika ketika Alex akan memotong gajinya saat kerjanya tidak benar. Yang benar saja? Astaga kenapa sangat repot bekerja dengan mantan yang super menyebalkan ini.
“Apa kamu siap?” tanya Alex.
Leona mendengkus pelan, lalu menganggukkan kepalanya. “Ya Mr. Saya siap.”
“Baiklah, kalau begitu untuk besok kamu harus datang lebih pagi dari karyawan lainnya,” kata Alex.
Leona hanya mengangguk terus. “Kalau begitu saya boleh keluar?”
“Silakan.” Alex mempersilakannya.
Wanita menghela napasnya lega. Akhirnya dia bisa keluar dari penjara. Dia beranjak dari tempat duduknya.
Baru saja dia mau melangkahkan kakinya. Namun kakinya terlilit dan hampir saja terjatuh. Untungnya Alex langsung menahannya. Dengan reflek, tangan Leona memegang pundak pria tersebut.
Mata Leona terpejam, belum mengerti kalau Alex menahan tubuhnya dengan spontan. Tak lama, mata wanita itu terbuka. Dia menatap manik-manik mata Alex yang nampak bersinar disana. Jantungnya kembali berdetak.
“Astaga, tampan sekali dia. Kenapa jantungku berdetak lagi? Apa aku masih menyukainya? A--ah tidak! Kamu tidak boleh menyukai pria playboy seperti dia. Dia pasti menyakitimu lagi nanti kalau memang kamu kembali lagi. Bersikap seperti orang biasa, Leona!” Sedari tadi Leona terus membatin.
“Kamu tidak apa-apa kan?” tanya Alex dengan wajah khawatir.
Suara itu membuat Leona tersadar. Dia mengerjapkan matanya, lalu cepat-cepat untuk mensejajarkan tubuhnya. "T—tidak apa-apa. Teri—makasih, Mr." Leona menjawabnya dengan perasaan gugup.
Astaga, kenapa bisa jadi seperti ini? Leona tidak ingin kalau dia kembali menaruh rasa dengan pria pernah menyakitinya.
Alex hanya tersenyum tipis, sedetik pula senyuman itu memudar. “Lain kali hati-hati, dan—“ ucapan pria itu menggantung.
Mata Alex teralih ke lehernya. Merasa heran, Leona melirik kearah lehernya juga. “Apa yang dia lihat?” batin wanita itu.
“Kenapa Mr?”
“Sebentar. Itu kalungmu?” Alex mengulurkan tangan untuk memegang kalungnya yang berbentuk setengah hati.
Leona spontan memegang kalung yang berada di lehernya. Dia mengerjapkan matanya kikuk. “I--iya Mr. Kenapa ya?”
Alex mendekat ke arahnya, dia menatap lekat kalungnya itu tanpa jeda. Tak lama pria itu menatap ke arahnya.
“Dari mana kamu mempunyai kalung itu?” tanya Alex penasaran.
Leona terdiam, menahan napas karena jarak mereka terlalu dekat. Dia terlihat salah tingkah, apalagi Alex kini menatapnya. “Aku-- aku membelinya di toko perhiasan kemarin. I--iya.”
Kening pria itu mengkerut mendengarkan ucapannya barusan. “Are you serious? Kenapa wajahmu itu tidak mencerminkan itu semua?”
Wajah Leona nampak merah. “M--maaf, saya harus pulang sekarang, Mr.” Reflek dia langsung mendorong pria itu pelan, lalu berlari keluar dari ruangan tersebut.
Demi apapun, jantung Leona seakan mau keluar tadi, bahkan wajahnya pasti memerah.
Dia berjalan secepat mungkin untuk menghindar dari semua pertanyaan yang keluar dari mulut Alex. “Astaga, kenapa dia seperti tau sesuatu?” gerutunya. “Dan—kenapa jantungku berdetak saat menatap Alex?” lanjutnya.
Leona mengatur napasnya, sesekali memegang dadanya yang masih berdebar disana. “Aish! Tidak ... Aku tidak boleh menyukai pria br*ngsek itu lagi,” gerutunya, dia berjalan ditepi jalanan, sesekali mengecheck ponselnya.
“Benar-benar ini si Ara, belum sehari saja udah habis uang jajannya,” gerutu wanita itu saat melihat beberapa pesan dari adik kandungnya. Dia mencebikkan bibirnya, lalu menduduki kursi yang berada di halte untuk menunggu bus.
Tiba-tiba saja ada yang menelponnya. Leona berdecak kesal, bisa-bisanya banyak orang yang mengganggunya sekarang. Wanita itu mengambil ponselnya di tas ransel, lalu mengangkat teleponnya tanpa melihat layar. “Ya? Kenapa lagi Ara! Kamu ini benar-benar. Bisa tidak sih kalau jajan dilihat-lihat dulu!”
[Hallo? Kamu berbicara dengan siapa ya?]
“Oh sial, siapa yang berbicara sekarang?” batinnya. Mata Leona terbelalak ketika melihat layar ponselnya itu. Nomor baru, suaranya juga seperti suara Alex di sana? Astaga, kenapa dia benar-benar sangat sial saat ini?
“O—oh ma—maaf Mr. Saya tidak bermaksud tadi," kata Leona sembari mengumpat disana.
[Siapa Ara?]
Wanita itu menggigit bibirnya gugup. Sungguh, seharusnya dirinya melihat layar ponselnya terlebih dahulu. “D—dia adik saya Mr. Saya kira adik saya tadi," kata Leona.
[Kamu di mana sekarang? Ada barang yang jatuh tadi, aku akan mengembalikannya.]
Leona sangat kikuk, dia melihat ke tas ranselnya untuk mengecek barang apa yang hilang dari ranselnya itu. “Barang apa Mr? Biar saya ambil saja.”
[Katakan saja, kamu di mana sekarang? Aku kesana,] kata pria itu dengan cepat.
Wanita itu menghela napasnya sekilas. “Saya di halte Mr, sedang menunggu bus.”
[Saya tidak tanya kenapa kamu disana. Saya kesana sekarang, tunggu di sana!]
Tak lama pria itu mematikan panggilan tersebut. Mata Leona sempat membulat mendengar ucapan pria itu tadi. “Sialan dia, sudah dijawab juga,” gerutunya.
Leona mengedarkan pandangannya ke jalan raya. Sudah beberapa bus yang melewatinya, namun dia belum saja masuk ke dalam sana. Dia melihat jam tangannya sekilas. “Tck! Alex bener-bener bodohi aku atau bagaimana sih!” gerutunya.
“Awas saja! Kalau memang dia bohongin aku. Aku cekik tuh leher!” Wanita itu menggerutu pelan, tangannya seperti ingin dipatahkan.
"Barusan kamu berbicara sama siapa Leona?" kata seorang pria tiba-tiba mengejutkannya. Wanita itu benar-benar shock ketika melihat Alex yang sudah berada di hadapannya saat ini.
“Apa Alex mendengarkan ucapanku barusan?” batin Leona.