Cold 10 : Darren

2031 Kata
Dosa ditanggung sendiri hahaha "Setelah mengatakan hal pedas padaku, dengan seenaknya kau menyuruhku menyiapkan makanan untukmu??? Apakah kau tidak punya malu, Darren???" Gerutuan itu datang dari Annabelle yang sedang merusuh di dapur apartemen itu sambil menyiapkan beberapa makanan untuk Darren. Setelah Darren mengatakan hal-hal yang membuat mata Annabelle sukses berkaca-kaca, perut Darren keroncngan dan setelahnya Darren meminta makan pada Annabelle. "Aku berada di dalam pesawat yang memiliki perjalanan lebih dari 17 jam, Anna. Dan saat aku tiba, aku langsung menemuimu. Wajar bukan jika perutku demo?" "Ohh, si Kulkas bisa cerewet juga saat lapar." Darren mendelik kesal. "Terserah padamu. Aku butuh makan. Segera." "Kau pikir aku pembantumu??" "Itu sudah tugas seorang istri, Anna." "Siapa bilang aku jadi menikah dengan Pria Kulkas Berengsek dan bermulut pedas sepertimu??? Walaupun stok orang tampan di dunia hanya kau saja, aku tak sudi menikah denganmu!" "Aku lapar, Anna. Berikan aku makan." "Makan saja otakmu!" "Kau pikir aku vampir??" "Zombie, bodoh. Mana ada vampir makan otak." "Kau benar. Lapar membuatku bodoh." "Kau memang bodoh sejak lahir. Bodohmu murni hingga ke tulang-tulang." Darren tertawa mendengarnya. "Leluconmu lucu." "Apakah jika aku memasukan racun ke dalam makananmu, kau masih menganggapnya lelucon?" Darren kembali tertawa mendengarnya. Annabelle yang kini sudah membawa makanan dan menghampiri Darren, mendelikan matanya. "Padahal itu bukan candaan." Makanan yang hanya seadanya itu sudah tersimpan di atas permukaan meja, tepat di hadapan Darren. Hidung Darren mengendus-endus aroma yang berbeda itu. "Kau benar-benar memasukkan racun ke dalamnya? Aku mencium bau asing, sepertinya." "Aku memasukkan sayur petai." Jawab Annabelle santai. Darren mengerjapkan matanya. "Petai?" Tanyanya dan memperhatikan hijau-hijau yang tercampur di sana. "Nama yang tidak asing. Apakah petai juga ada di LA?" "Tentu saja." "Oh ya? Kenapa aku baru melihatnya?" "Orang kaya yang sering dilayani apapun kebutuhannya mana tahu jika petai juga tumbuh di LA." Darren mendelik mendengar hinaan Annabelle. "Aku bukan anak manja, Anna." "Katakan itu pada lelaki yang kabur dari rumah dan tidak mau berjuang secara jantan kepada orangtuanya." "Aku bukannya kabur—" "Aku tidak sedang membicarakanmu, Tuan. Cepatlah makan agar kau bisa pergi dari hadapanku secepatnya!!" Darren bungkam di tempatnya. Ia makan dengan tenang dan lahap. Saat mencoba memakan petai, ada perasaan ragu yang menghampiri. Namun melihat wajah Annabelle dan perjuangan Annabelle sebelumnya membuat Darren mau tak mau memakan petai hijau itu. Merasa agak aneh namun enak juga, Darren meneruskan makannya dengan tenang. Annabelle sendiri diam saja dan menatap Darren dengan aura dendam dan kesal yang kentara. Saat makanan Darren hampir habis, Annabelle dengan perhatiannya berdiri dan mengambilkan minuman untuk Darren. "Minumlah, setelah itu, aku ingin bicara." Kata Annabelle sambil menyimpan gelas di hadapan Darren. "Apa?" Tanya Darren penasaran. "Habiskan dulu makan dan minumannya." Darren menurut dan menghabiskan makanan dan minumnya dengan segera. Dentingan sendok yang beradu dengan piring membuat Annabelle menegapkan tubuhnya. Dia menatap Darren serius dan dibalas tatapan datar Darren. "Darren, kau bilang, kau meninggalkan nama Reinhard dan hartamu demi memilihku, bukan?" Tanya Annabelle hati-hati dan dibalas anggukkan Darren. "Kau tidak punya apa-apa, sekarang?" Darren mengangguk dengan alis yang agak mengernyit heran. "Kenapa? Kau benar-benar tak akan menikah jika aku miskin? Kau tenang saja, aku masih memiliki—" "Itu berarti kau tidak memiliki akses untuk memecat dan mengambil lisensi Alex, bukan?" Tatapan Darren berubah tajam seketika. Tangannya yang berada di atas meja mengepal kuat. "Kau akan menikah dengan Alex?" "Darren—" "Kau pikir aku akan membiarkannya? Membiarkan anakku diasuh pria lain???" "Aku akan merawatnya sendirian." Kata Annabelle langsung. "Tanpa suami. Tanpa Alex. Tanpa dirimu. Tanpa pira manapun." "Anna..." Geram Darren. Annabelle menghela napas panjang. "Kembalilah pada keluargamu, Darren." "Tidak semudah itu, Anna." "Kau hanya perlu berkata jika kau tidak jadi menikahiku." "Tidak semudah itu, Annabelle." "Kau yang mempersulitnya, Darren!!" Rahang Darren makin mengeras. "Bukannya hormonmu meningkat akhir-akhir ini?" Alis Annabelle mengerut bingung. "Apa hubungannya?" Darren berdiri tegap. Dia memundurkan kursinya serta menggeser meja dengan 1 tangan hingga meja itu tidak berada di antara mereka. Annabelle mengerutkan alisnya dengan bingung. Kepalanya mendongak menatap Darren yang berjalan ke arahnya, melewatinya dan berada tepat di belakang Annabelle. Bulu kuduk Annabelle meremang ketika bahu Annabelle diusap dengan lembut dan seduktif, lalu turun dan mengusap lengan Annabelle hingga Darren harus membungkukkan badannya di belakang Annabelle. Napas Darren terasa di samping wajah Annabelle membuat Annabelle menahan napasnya kuat ketika hal itu malah membuat tubuhnya panas dingin akibat ulah Darren. "Saat hormonmu meningkat, Anna. Kau akan membutuhkan sentuhanku," bisiknya serak tepat di telinga Annabelle. Tangan Darren naik ka atas dan berhenti di pipi Annabelle, mengusapnya dengan pelan dan seduktif. "Kau akan membutuhkan belaianku." Ucapnya serak. Pelan dan dalam, Darren mengecupi pipi Annabelle dan menjilat telinganya dengan dalam dan mengecup pelan. "Kau akan membutuhkan ciumanku," bisiknya menimbulkan kedutan di kewanitaan Annabelle. "Apa kau, bisa menahan itu, Annabelle?" Annabelle menelan ludah dengan susah payah. Dia sebenarnya menginginkan hal yang Darren tawarkan. Namun bagaimana lagi? Ini lebih serius daripada kebutuhan Annabelle saat ini. "Darren, aku tak bisa menikah tanpa—" BRUKK Kursi yang sebelumnya Annabelle duduki terbanting ke bawah ketika Darren menarik tangan Annabelle dan memutar tubuh Annabelle hingga Annabelle berbalik menghadapnya. Tanpa bisa memekik, Annabelle sudah dibungkam oleh bibir Darren dan pelukan Darren di pinggangnya. Darren melumat bibir Annabelle dengan terburu dan menuntut, membuat kedutan di kewanitaan Annabelle makin menjadi. Annabelle mengaku kalah kala ia melingkarkan tangannya di leher Darren dan memperdalam ciuman keduanya. Jemari Annabelle menjambak rambut Darren kala lidah Darren masuk ke dalam mulutnya. Rasa kenyal, hangat, dan basah itu terasa nikmat kala menyentuh mulut atasnya, gigi-giginya dan juga menekan lidahnya dengan dalam. Darren menghisap lidah Annabelle dalam dan menelan saliva keduanya yang telah bercampur. Darren melepaskan bibirnya dari tautan bibir Annabelle. Mulutnya beralih menciumi seluruh wajah Annabelle, menjilat telinga hingga leher Annabelle. "Ah..." Desah Annabelle kuat. Darren tersenyum miring dan menghisap leher jenjang Annabelle kuat. "I win." Katanya sambil menjilati seluruh leher hingga tulang selangka Annabelle. "Darren!!" Pekik Annabelle kala tubuhnya terangkat dan digendong Darren dari depan. "Apa-ap—hmph." Darren kembali menciumi Annabelle dan berjalan menuju kasur yang 1 ruangan dengan ruang makan. Darren membaringkan tubuh Annabelle dengan perlahan tanpa menghentikan ciumannya. Dia mendesah tepat di hadapan wajah Annabelle. Mata keduanya menggelap dan berkaca-kaca. Napas keduanya tak beraturan dan d**a mereka naik turun. Darren menurunkan ciumannya. Dia menciumi leher jenjang Annabelle dan turun ke belahan d**a Annabelle. "Jangan disobek." Seolah tahu tujuan Darren, Annabelle memperingati Darren terlebih dahulu ketika tangan Darren sudah berada di kerah kaus yang digunakan Annabelle. Darren menatap Annabelle penuh perhitungan. "Tapi akan lama." Katanya polos. Annabelle menggeram kesal. Dia membuka kausnya sendiri dan menyisakan bra yang melindungi payudaranya. Mata Darren makin menggelap ketika melihat d**a yang membusung ke arahnya itu. Dengan cepat, Darren menerjang p******a Annabelle dan menciuminya. Dengan susah payah, ia harus melepaskan bra yang digunakan Annabelle yang untungnya kaitannya berada di depan. "Ah!!" Desah Annabelle kala Darren mengulum puncak payudaranya sambil meremas-remas dengan kedua tangan dan mencubiti puncak payudaranya dengan jari. Annabelle mendesah kuat. Tubuhnya bergerak tak karuan kala tangan Darren turun dan mengusap kewanitaannya dari luar. Tubuh Annabelle sudah sangat panas. Keringat turun dari pelipisnya karena apartemen yang ditempatinya tidak memiliki AC. Ciuman Darren turun ke perut sedangkan 1 tangannya masih meremas-remas p******a Annabelle dan memainkan kewanitaan Annabelle dari luar. Lidah Darren terulur dan menjilati sekitar perut Annabelle dan pusarnya, membuat Annabelle mendesah. Sedangkan tangan Darren sibuk membuka celana Annabelle sambil membuat perut Annabelle banjir oleh salivanya. Ruangan itu hanya terdengar suara desahan dan decapan dari kedua orang yang sedang berada di atas kasur itu. Darren membuka celana Annabelle dengan cepat. Baru saja ia akan membuka celana dalam Annabelle, Annabelle segera menahannya walaupun dia sangat ingin Darren menyentuhnya di sana. "Aku takkan menyobek celana dalammu." Kata Darren polos. Annabelle menggeleng kuat. "Kau masih menggunakan pakaianmu. Aku sudah hampir telanjang. Ini tidak adil untukku." Tanpa kata, dan hampir membuat Annabelle tertawa, Darren melepaskan kaos dan celana hingga celana dalamnya dalam sekali tarikan, membuat tubuh Darren telanjang bulat seketika. Darren menjilat bibirnya dengan lidah dan membuka celana Annabelle dalam sekali tarikan. Kaki Annabelle ditekuk oleh Darren dan dilebarkan ke samping. "Darren!!" Pekik Annabelle kala Darren langsung melahap kewanitaannya dengan ganas tanpa aba-aba. "AHH!" Tubuh Annabelle menggeliat tak karuan. Pinggulnya bergerak menjauhi rasa geli di kewanitaannya akibat kelakuan Darren. "Ahh..." Lidah Darren menjilati lubangnya dengan lincah. Tangan Annabelle meremas kuat seprai dan kakinya bergerak tak karuan. "Ahh..." Annabelle mendesah kuat kala Darren menghisap kewanitaannya dalam dan membuat tubuh Annabelle gemetar kuat akibat gairah. "Darren..." Desah Annabelle lemas. Kewanitaannya sungguh ngilu. Namun Annabelle tak dapat memungkiri jika apa yang dilakukan Darren sungguh nikmat dan membuat gairahnya meninggi. Pinggul Annabelle dicengkeram oleh kedua tangan Darren dan ketika lidah Darren masuk, napas Annabelle seolah ditarik dan pinggulnya melengkung meminta lebih. Kedua kaki Annabelle mengalung di leher Darren. Tangan Annabelle mencengkram kuat rambut Darren demi menyalurkan kenikmatan yang tertahankan. Sungguh intim. Annabelle tak dapat bernapas benar dan hanya dapat mendesah terus menerus merasakan kenikmatan yang diberikan Darren. "Darren..." Desahnya ketika lidah Darren lincah menelusuri lubangnya. Memutar, menjilat, dan masuk keluar di dalam sana. Tubuh Annabelle gemetar kepanasan. Perutnya berguncang ketika pelepasannya datang. "Darren!!" Teriaknya tak tertahankan kala dirinya meledak di dalam mulut Darren. Napas Annabelle tak beraturan. Namun sebelum ia dapat berkata-kata kembali, Darren sudah berada di atasnya dan menancapkan kejantanannya dalam-dalam di lubang Annabelle. Napas Annabelle tersendat kuat. Tangannya mencengkram bahu Darren kala merasakan betapa besarnya kejantanan Darren di dalamnya. "Ow f**k!" Umpat Annabelle dengan desahannya. Darren menggenggam kedua tangan Annabelle dan menaikannya ke atas. Mata mereka beradu seperti d**a kedua insan itu yang hampir menempel. Darren membuka lebar kaki Annabelle dengan kedua lututnya. Dia memajukan pinggulnya dan memasukkan kejantanannya dalam-dalam di lubang Annabelle. Mulut Annabelle menganga lebar merasakan kepala kejantanan Darren yang menyentuh titik terdalamnya. Pelan, Darren memajukan tubuhnya dengan hentakan kuat. Setelahnya, ruangan itu diisi oleh desahan kedua insan itu yang melakukannya hingga 2 ronde. ∞ ∞ ∞ "Okey, aku seperti gigolo sekarang." Gerutu Darren ketika Annabelle memakaikan pakaiannya kembali. Darren sungguh malas memakai pakaiannya lagi. Dia ingin berada di sini hingga pagi dan bercinta hingga pagi juga. "Habis manis, sepah dibuang. Cocok sekali untukku." "Sudah kubilang ini bukan apartemenku. Valerie yang memilikinya." Ucap Annabelle ketika ia menaikan celana Darren. Darren seperti anak kecil yang butuh diasuh sekarang. "Valerie sekretaris Alarick?" "Mantan." "Sama saja, Anna. Bagaimana kau mengenalnya?" Annabelle merapikan kasur dengan cepat dan menata bantalnya. "Teman lama yang kembali berhubungan sekarang. Aku bahkan tidak menyangka kami bisa sedekat ini lagi." "Dan bagaimana kau mengenalnya?" "Bukan urusanmu." Darren berdecak kesal ketika Annabelle mendorong tubuh Darren agar menuju pintu. "Kita ini akan menikah, Anna. Sudah seharusnya kau menceritakan kehidupanmu padaku." "Jangan tersinggung, tapi aku benar-benar tidak ingin menikahimu. Apalagi jika itu malah merugikan dirimu sendiri." Darren serta Annabelle kini berada di luar dan Darren segera berbalik menatap Annabelle ketika lagi-lagi itu yang dibahas Annabelle. "Aku akan menikahimu, dengan atau tanpa persetujuanmu." Annabelle menghela napas panjang. Dia melipat tangannya di depan d**a, dan mendongak menatap Darren dengan datar. "Kalau begitu, katakan alasan yang tepat kenapa aku harus menikah denganmu. Kau sudah tidak memiliki akses di rumah sakit. Aku juga tidak akan menikah dengan Alex. Jadi, apa masalahnya, Darren? Apa alasanku harus menikah denganmu?" "Anakmu. Itu jelas." "Aku akan merawatnya sendiri." "Jelas, aku takkan membiarkannya." Annabelle menghela napas panjang. "Restu adalah segalanya, Darren." "Yang menentukan jalanku, adalah diriku sendiri." Annabelle menatap tidak percaya pada Darren yang mengucapkannya tanpa beban. Dengusan sinis terdengar dari Annabelle. "Hidupmu mudah sekali ya, Darren? Belum pernahkah kau direndahkan karena keadaan?" Darren mengerutkan alisnya dengan heran. "Apa maksudmu?" Tanyanya dengan mata memincing. "Apakah kau pernah direndahkan oleh keadaan?" Annabelle diam. Begitupun dengan Darren. "Huaa Anna, hiks." Darren dan Annabelle sama-sama tersentak kala Valerie tiba-tiba datang dan memeluk Annabelle sambil menangis kencang. "Vale? Kenapa menangis?" tanya Annabelle sambil membalas pelukan Valerie dan mengusap punggungnya. "Mr. Damian. Dia sakit parah. Huaa hiks." "Hah? Kenapa bisa?" "Aku tidak tahu. Hik hik, dia sakit jantung saat 3 bulan yang lalu." "Ah, seperti itu rupanya. Yasudah, kita bicarakan di dalam." Kata Annabelle santai, dan masuk ke dalam sambil masih memeluk Valerie, tidak mengacuhkan Darren seolah Darren tadinya tidak berada di sana. Sedangkan Darren sendiri, dia hanya mengernyit bingung di tempatnya. Baru dia sadari, tentang kenapa adik Annabelle berada di Indonesia dan kenapa Annabelle tidak tinggal dengan adiknya saja. Kenapa otak Darren yang IQ-nya besar tidak memikirkan tentang hal itu sebelumnya? TBC Sorry gak edit. Soalnya lagi males engas
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN