Cold 9 : Menikah Dengan Musuh

2023 Kata
AKU MENANG, k*****t!! Makiel Zander McKennedy added Felix Barachandra Phillips and Darren Valentino Reinhard to the group Makiel Zander McKennedy Aku menang!!!!! Aku menang yuhu!!!! Felix Barachandra Phillips Apa maksudmu berengsek?? Darren Valentino Reinhard Kiel, sudah kubilang jangan mengundangku ke grup tidak penting Makiel Zander McKennedy Aku memenangkan taruhan kita, Phillips Alarick akan pergi ke Indonesia hari ini juga Untuk menemui Valerie YUHUUUU CIUMAN GRATIS DARI VALERIE DAN JANGAN LUPAKAN UNTUK MENJADI TAMENGKU KEPARAT Felix Barachandra Phillips Apa maksudmu? Dari mana kau mendapatkan infonya? Darren Valentino Reinhard Indonesia? Hari ini? Makiel Zander McKennedy Dari orang yang kutiduri kemarin Sudah kuduga Wanita yang kutiduri yang umurnya lebih tua 10 tahun dariku itu sangat berguna untukku AKU MENANG!!! RASAKAN ITU PECUNDANG Darren Valentino Reinhard Dan aku tidak diacuhkan Dan bukan nya wanita itu 15 tahun lebih tua darimu, Kiel? Felix Barachandra Phillips Sial Sungguhkah ucapanmu itu, Kiel? Bagaimana jika ternyata kau tipu-tipu aku? Makiel Zander McKennedy Bagaimana jika kita ikut Alarick saja Untuk membuktikan Dan untuk mengambil hadiah taruhan ku dengan segera HAHAHAHA BIBIR VALERIE AKU DATANG Felix Barachandra Phillips Kau gila? Alarick akan mengamuk jika kita mengikutinya Darren Valentino Reinhard Aku setuju dengan Kiel Felix Barachandra Phillips Kau setuju karena ada Anna si Boneka Iblismu di sana Makiel Zander McKennedy Apapun alasannya pokoknya kalian harus ikut denganku ke Indonesia bersama Alarick sekarang Felix Barachandra Phillips Tapi Kiel Bagaimana kita tahu jika Alarick benar-benar ke Indonesia? Kau tahu sendiri jika dia anti Indonesia Makiel Zander McKennedy Aku ada ide Bagaimana jika kita ikut pesawat jet Al saja? Jadi kita tahu apakah tujuannya Indonesia atau bukan Felix Barachandra Phillips Dan jika bukan? Darren Valentino Reinhard Tidak apa Kita anggap liburan saja The Devils kan jarang sekali berlibur Kita juga sudah lama tidak foto bersama Felix Barachandra Phillips Darren membelamu, Kiel Makiel Zander McKennedy Dia juga memberikan saran Felix Barachandra Phillips Dan untuk pertama kalinya Dia mengatakan jika dia termasuk kelompok The Devils Apa kau tahu yang kupikirkan, Kiel? Makiel Zander McKennedy Ya Miskin membuatnya sadar diri Darren Valentino Reinhard Kutunggu kalian di depan kantor Alarick Darren Valentino Reinhard has left the group Makiel Zander McKennedy Hey Apakah si miskin itu punya ongkos taksi? Kukira dia akan mengemis pinjam uang padaku Jika begini Bagaimana caranya agar aku membuatnya makin menderita??? Felix Barachandra Phillips has left the group Makiel Zander McKennedy Ya ampun felix Kau nih ya Mentang-mentang kalah Bisa seenaknya saja tidak minta izin saat keluar Si dingin saja izin Kau yang panas tidak izin untuk keluar Tapi tunggu Dengan siapa aku bicara di sini sendiri?? Dan kenapa aku masih bertanya Dan bertanya lagi Apakah aku gila? Dan aku bertanya kembali pada grup yang isinya hanya aku saja *** "Aku tidak tahu kalian mengetahui info dari siapa jika aku akan ke Indonesia. Hanya saja..." Alarick menghela napas panjang. "Kenapa kalian mengekoriku???" tanyanya sambil melotot pada 3 orang lainnya yang berada dalam pesawat jet pribadinya. Felix dan Makiel nyengir lebar sedangkan Darren hanya berdeham pelan. Alarick melotot pada Darren. "Kau juga! Tumben-tumbenan ikut mengangguku. Menjadi miskin membuatmu teringat memiliki teman huh??" Darren balas memelototi Alarick. "Kapan aku melakukannya?? Aku di sini karena terpaksa!!" "Bohong! Dia bohong!" seru Felix dan Darren cepat. "Darren mengikut kita karena Boneka Setan itu ada di Indonesia!" tambah Makiel. "Boneka Setan?" tanya Alarick. "Bukan. Dia Boneka Iblis." Koreksi Felix. "Kalian berdua!!" geram Darren. "Darren, kau bisa menggeram marah juga?" tanya Alarick. "Oh ya, kau benar Alarick. Sejak miskin dia menjadi memiliki berbagai macam ekspresi." Timpal Makiel. "Kurasa, bukan karena itu. Darren sepertinya terkena santet Annabelle Si Boneka Iblis." Felix ikut menimpali. Darren segera melompat dari kursi dan mencengkam kerah kaus Makiel dan Felix. "Aku akan menghajarmu di sini!" "Wow Darren bisa marah." "Ya. Alarick, siapkan kamera. Kita harus mengabadikan keajaiban ini." "Kau pikir aku pesuruhmu??? Ck, enak saja memerintahku!! Sebentar, aku akan panggilkan pramugari. Aku juga ingin masuk frame." Darren melepaskan tangannya dari kerah kaos dua kembar tidak identik itu, lalu kembali duduk di kursinya. "Hey, aku baru saja akan memanggilkan pramugari!" "Ck, kalian ini kekanakan sekali!" Balas Darren. "Aku hanya ingin berlibur ke Indonesia. Aku tak punya uang lagi untuk membeli tiket pesawat." "Haha." Tawa Alarick datar. "Kau pikir aku akan percaya? Kau selalu berkata panjang jika sedang membuat alasan! Darren yang kukenal hanya akan mengatakan: aku ingin berlibur. Ya! Tiga kata itu saja tanpa koma, tanda seru, dan tanda tanya! Kau membuat alasan, dan itu artinya kau berbohong!!" "Err, terserahlah." Darren mengibaskan tangannya dengan tidak peduli. Dia memejamkan matanya dan pura-pura tidur karena ketahuan berbohong. Alarick beralih menatap Makiel dan Felix. "Kalau kalian, apa urusan kalian menempeliku? Dan kenapa kalian tidak menggunakan jet pribadi kalian sendiri hah??? Kalian ini seorang CEO tapi seperti pengangguran, tahu?? Benar-benar tidak ada kerjaan! Lihatlah aku! Aku lebih sibuk daripada karyawanku. Pulang pergi ke luar negeri. Sedangkan kalian? Kerjaan kalian hanya bermain dan menggangguku!" "Kami hanya ingin berada dalam satu pesawat yang sama dengan sahabat kami. Benarkan Felix??" Felix menganggukan kepala atas pertanyaan Makiel. "Benar. Kami hanya rindu masa muda. Kau ingat kan? Kita bagai 4 bayi kembar siam yang tidak terpisahkan dulu." "Ew." Respon 3 orang lainnya atas ucapan berlebihan Felix. "Kenapa?" tanya Felix. Semuanya menggeleng. "Mereka berbohong. Sebenarnya, Felix dan Makiel taruhan untuk..." "Darren!!" seru Makiel dan Felix. "Apa? Ada apa?" tanya Alarick. Darren mengedikan bahunya. "Tidak tahu." Makiel dan Felix menghela napas lega. "Yang kutahu mereka hanya bertaruh tentang mencium Valerie di depanmu." Lanjut Darren. "Darren!!!" Alarick melotot pada Felix dan Makiel. "KALIAN, APA???" Felix segera menggelengkan kepala dengan cepat dan mengangkat tangannya ke atas. "Aku kalah dalam taruhannya! Makiel yang menang dan ingin ikut ke Indonesia untuk mencium Valerie." "Felix! Kau!! Dasar Sahabat Biadab!!" seru Makiel panik saat Alarick menatapnya bak banteng yang siap menyeruduk dan mencabik-cabik tubuhnya. Alhasil, Makiel mendapatkan beberapa bogem dari Alarick atas pengkhianatan sang sahabat biadab yang kembar namun tidak identik karena Felix lebih tampan. *** "Kakek!!" Mr. Damian mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang ia baca. Makiel dan Felix masuk ke dalam ruang kerjanya dengan tangan terentang seolah ingin memeluk Mr. Damian yang sedang duduk di balik meja kerjanya. "Kalian?? Bagaimana kalian bisa masuk?? Valerie, tolong panggil keamanan dan suruh mereka seret keluar 4 anak j*****m ini." Perintah Mr. Damian. Valerie yang kubikelnya berada satu ruangan dengan Mr. Damian, langsung menganggukan kepalanya. "Baik, Sir." "Sudah kubilang jangan memanggilku begitu!! Aku merasa tua!" "Kau kan memang tua, Kek." Timpal Alarick. "Dan Vale, Kakekku tidak serius. Jangan dituruti." "Diam kau! Kenapa kau berada di negara yang sangat kau benci ini??" "Kata benci terlalu kasar, Kek. Aku hanya tidak menyukai negara ini." "Itu sama saja." "Itu berbeda!" "Oh, Darren. Ku dengar kau sudah miskin?" tanya Mr. Damian santai pada Darren. Darren berdecak kesal. "Like Grand father, like Grand son." Mr. Damian hanya tertawa pelan. "Jadilah Direktur di perusahaan Alarick." "Aku tidak mau." "Kenapa? Kurang tinggi jabatannya? Kalau begitu, mintalah menjadi wakil presdir." "Dia akan menjadi CEO perusahaanku, Kek." Timpal Alarick. "Aku tidak pernah menyetujuinya!!" "Lalu kau? Kau akan bekerja sebagai apa?" tanya Mr. Damian pada Alarick. "Pemilik perusahaan, tentu saja. Seperti Bill Gates, aku hanya akan menerima uang mengalir ke rekeningku dan bersantai. HAHAHA!" "Enak saja!! Sejak kapan aku mendidikmu menjadi pengangguran hah??" "Memangnya kenapa?? Aku pemilik perusahaanku. Terserah padaku akan melakukan apa pada perusahaanku!" Sementara orang-orang itu berdebat tentang hal yang tidak penting, Darren segera merogoh celananya dan membuka gulungan kertas yang tertera sebuah alamat di sana. Tanpa berkata apapun, Darren pergi dari ruang kerja Kakek Dami dan pergi menggunakan taxi untuk sampai di alamat yang dia tuju. Untung saja, sebelum Darren dicoret dari ahli waris, dia sempat mencaritahu tentang Annabelle. Sehingga, hal itu mempermudahnya untuk menemukan di mana keberadaan Annabelle di Indonesia ini. *** Annabelle tiduran malas di atas kasur dengan keripik kentang yang berada di sisi tubuhnya. Annabelle menghela napas lelah. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia sangat senang menempeli kasur. Alex bilang itu karena hormon kehamilan. Dan Annabelle yang merupakan dokter bedah tak tahu menahu soal apapun tentang kehamilan. Annabelle tidak tahu jika kehamilan bisa membuat dirinya menjadi pemalas, dan sangat sensitif. Sangat bukan Annabelle. Apalagi saat Alex menyarankan agar Annabelle membaca buku tentang kehamilan, yang ada Annabelle malah tertidur dengan buku yang menutupi wajahnya. Tak ada gairah untuk melakukan aktifitas selain gairah karena merindukan sentuhan Darren. Ting tong Annabelle melirik jam yang berada tepat di atas televisinya. Dia mengernyit bingung melihat waktu yang bukanlah jadwal pulang Valerie. Annabelle pun makin bingung karena Valerie tidak langsung masuk saja ke dalam apartemen. Annabelle segera melompat turun dari kasur dan berlari kecil ke arah pintu. Dia membuka pintunya dan mengernyit bingung melihat seseorang yang berada di depannya. "Darren?" Tanya Annabelle terkejut dengan kedatangannya. "Apa yang kau lakukan di sini??" "Anna." Panggil Darren seolah memastikan jika orang yang berada di hadapannya benar-benar Annabelle. Annabelle bersidekap d**a dan menatap marah pada Darren. "Darimana kau tahu aku ada di sini?? Tidak bisakah kau membiarkanku sendiri??? Kenapa kau selalu ada di manapun???" "Dari cara bicaramu, kau adalah Annabelle." "Haha lucu sekali, Kulkas. Kau belum menjawab pertanyaanku!" "Kau kabur. Aku menyusulmu." "Dan kenapa juga kau harus menyusulku?? Dan aku tidak kabur! Aku hanya liburan! Malas sekali bertemu dengan seorang pemaksa." "Setelah kulkas, sekarang pemaksa." "Jangan tersinggung, semua keburukan memang ada pada dirimu." "Lebih buruk mana dari seseorang yang mengajak tamu mengobrol di luar?" Annabelle mendelik. "Kau bukan tamuku. Hanya seorang penyusup." "Penyusup?" Tanya Darren dengan alis naik sebelah. "Ya! Penysup." "Aku mengetuk pintu, berbeda dengan penysup. Mereka langsung..." Darren segera menyelinap masuk ke dalam apartemen dan menutup pintunya. "...masuk tanpa izin tuan rumah." "Hey!! Ini bukan apartemenku!!" Seru Annabelle kuat. Darren mendekati Annabelle dan menyudutkan Annabelle ke tembok. Dia mengurung tubuh Annabelle dengan tubuh tinggi kokohnya agar Annabelle tidak bisa kabur. Tangan Darren mengangkat dagu Annabelle hingga wajahnya mendongak ke atas. "Kenapa kau kabur, Anna?" Tanya Darren dengan bisikan seduktif. Annabelle memalingkan wajahnya dari Darren. "Aku sudah bilang aku hanya liburan." Darren makin mendekatkan tubuhnya pada Annabelle dan membuat Annabelle harus menahan napasnya ketika merasakan napas Darren menyentuh wajahnya. "Kau kabur di saat aku sebelumnya berkata jika besoknya kita akan fitting pakaian pernikahan." Annabelle mendesah ketika napas Darren menggelitik telinganya. "A-aku..." "Kau?" Annabelle berdecak melihat seringai di wajah Darren yang biasanya terlihat dingin itu. "Aku hanya tidak ingin disiram oleh ibumu di depan orang banyak karena bersikukuh menikah dengan anaknya." Darren terkekeh kecil. "Mommy tidak sedrama itu. Tapi jika dia hanya menamparmu dan memberikan sekoper uang, itu mungkin saja." "Darren!!!" "Aw!" Ringis Darren ketika Annabelle mencubit pinggangnya. Darren tertawa. "Kenapa kau mencubitku? Aku hanya mengungkapkan fakta." Annabelle berdecak kembali dan menghentakan kakinya dengan kesal. "Menikah denganmu itu rumit, Darren. Aku harus hamil dulu, mencoba menikah dengan Alex, dan sekarang ditentang orangtuamu. Apa aku tidak mengerti dengan tanda-tanda ini, Darren? Tuhan tidak mengizinkan kita untuk bersama!" "Aku yang mengizinkan apapun yang kulakukan, bukan tuhan." "Darren!!" "Anna, aku sudah memilihmu. Jangan membuatku menyesal dengan keputusanku untuk menikahimu dan membuatku harus dihapus dari ahli waris." "Apa?" Tanya Annabelle, benar-benar terkejut. Matanya menatap manik mata Darren dalam. "Apa maksud ucapanmu?" "Aku memilihmu. Aku meninggalkan semua hartaku dan mungkin juga dengan nama Reinhard dariku." Mulut Annabelle menganga mendengar ucapan Darren. "Sinting!! Di mana otakmu hah???" Bentaknya kuat. Alis Darren mengernyit tidak suka. "Apa kau baru saja mengatakan jika keputusanku untuk memilihmu adalah sebuah kesalahan?" "Salah!!! Kau bodoh!!!" Jerit Annabelle sambil mendorong d**a Darren dengan kuat hingga kurungannya terlepas. "Kau pikir apa yang kaulakukan hah??? Meninggalkan duniamu demi menikah denganku?!?" "Kenapa memangnya??? Kau tidak suka juga jika aku miskin???" Bentak Darren, ikut tersulut emosi. "Apa benar yang mommyku katakan, Anna?? Kau hanya ingin uangku!??" Annabelle menatap Darren tidak percaya. "Kau bertanya seolah aku benar-benar wanita materialistis, Darren." "Lalu apa alasanmu marah-marah seperti ini???" "Karena restu adalah segalanya!!! Kita takkan bahagia tanpa restu kedua orangtuamu, Darren!!" "Kenapa kita membutuhkan kebahagiaan sedangkan aku menikahimu hanya karena anak itu?" Annabelle tersentak. Matanya menatap lurus pada manik mata Darren. Kalimat yang Darren lontarkan sukses membuatnya merasakan sakit di d**a. Kenapa Annabelle bisa lupa bahwa yang dinikahinya adalah orang yang membenci dan dibencinya? Orang yang tidak membutuhkan kebahagiaan dan hanya menginginkan anak yang dikandung Annabelle. Orang yang bahkan tidak membela saat Annabelle direndahkan sedemikian rupa. Annabelle menggigit bibir bawahnya ketika mata dan hidungnya terasa panas. Ya tuhan, benarkah Annabelle harus menikah dengan lelaki di hadapannya ini?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN