Darren memijit pelipisnya. Ada lebih dari 1 jam dia terkurung dalam ocehan kedua orangtuanya yang kini berada di ruangan kantornya. Mereka menentang habis-habisan pernikahan Darren dengan Annabelle yang notabenenya sudah mengandung anak Darren.
"Mommy sudah mencarikanmu calon istri yang berkelas dan tahu asal usulnya. Sedangkan perempuan yang kau bawa kemarin bukanlah orang yang tepat, Darren!! Tidak ada jalang yang akan mengakui jika dirinya jalang!"
"Hentikan itu!!" Teriak Darren kesal. Dia menatap ibunya dengan marah. "Mom tahu apa soal Anna? Mom sudah berapa lama memangnya mengenal dia?? Aku baru membawanya kemarin dan mom sudah mencapnya seperti itu."
"Mom tahu segalanya apalagi yang dipikirkan oleh kebanyakan wanita. Dia hanya menginginkan hartamu, Darren!!"
"Oh, tahu segalanya? Apa mom bahkan tahu jika wanita yang kemarin mom bawa sudah menjajakan dirinya kepada pengusaha lainnya agar dinikahi?? Apa mom tahu berapa kali wanita itu menjalin dan memutus perjodohan?? Apa mom bahkan tahu jika wanita itu sering memoroti semua pria dan bahkan berhubungan dengan lelaki yang sudah beristri??"
"Itu hanya masa lalu, Darren..."
"Mom tahu dan masih ingin menjodohkannya denganku???" Potong Darren cepat dengan senyum sinis.
Raline menghela napas panjang. Dia yang kali ini memijit pelipisnya akibat kepalanya yang pusing. "Apa wanita yang kau bawa kemarin mengancam akan menuntutmu ke pengadilan?"
"Mom!!!"
"Mom akan mencarikan pengacara yang handal untukmu jika memang dia melakukannya, Darren."
Darren mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia barangkali sering menghina Annabelle habis-habisan, namun melihat Annabelle ditekan oleh ibunya kemarin membuat Darren hilang akal. Annabelle bahkan tidak berbicara sampai Darren pulang dari mengantarkannya ke rumah. Dan sampai saat ini, Darren belum tahu kabar Annabelle karena ibunya yang mampir ke kantor di pagi buta bersama ayahnya.
"Mom begini karena mom peduli padamu, Darren." Kata Raline dengan raut wajah sedih.
Darren menggelengkan kepalanya kuat. "Mom hanya mengikuti keinginan egois mom yang ingin mempunyai menantu kaya raya dan sederajat denganku. Mom tidak pernah peduli padaku. Hanya uang yang mom pikirkan."
"Darren!!" Bastien membuka suara. Dia berdiri, menatap Darren tajam dengan aura dingin yang mengintimidasinya.
Sedangkan Raline sendiri hanya berdiri dengan tubuh bergetar akibat terguncang. Matanya berkaca-kaca menatap wajah Darren dengan lekat. "Mom sudah punya banyak uang. Dari ayahmu, dari bisnis mom, dan bahkan darimu. Kenapa mom masih harus memikirkan uang setelah apa yang sudah mom punyai?"
Tanpa rasa belas kasih, Darren balas menatap ibunya dingin. "Manusia tidak pernah puas dalam segala hal, mom. Dan mom salah satunya."
"Anak kurang ajar!!!" Bastien akan menghampiri Darren dan menghajarnya jika saja Raline tidak segera memeluk suaminya dari samping.
Mata Raline menatap tidak percaya pada Darren. "Kau puteraku, Darren. Aku hanyalah seorang ibu normal yang menginginkan yang terbaik untuk anaknya."
"Aku sudah besar. Aku tahu yang terbaik untuk diriku sendiri."
Raline menggelengkan kepalanya dengan putus asa. Tanpa kata lagi, dia berbalik dan meninggalkan ruangan dengan air matanya yang mulai turun.
Bastien yang masih berada di dalam ruangan, menatap Darren dengan marah. "Kau mencuri perhatian istriku dulu. Dan sekarang kau membuatnya menangis. Kau memang anakku namun jika kau membuat orang yang kucintai menangis, aku takkan peduli lagi jika kau adalah anakku." Katanya, kemudian berlalu dari ruangan dengan tangan mengepal kuat.
Darren mendengus. "Sejak kapan kau peduli, dad?"
Helaan napas lelah kemudian keluar dari mulut Darren. Dia membuka layar ponselnya dan mendapati sebuah pesan di sana.
Tom
Nona Annabelle tidak ada di tempat kerjanya, tuan. Saya sudah mencari di setiap sudut rumah sakit.
Darren menghela napas panjang. Dia mengunci layar ponselnya dan mengambil jas yang tersampir di kursi. Darren segera menggunakannya sambil berjalan santai ke luar dari ruangannya. Dia disapa oleh seorang petugas vallet yang menyerahkan kunci mobil Darren yang mobilnya sudah terparkir rapi di lobi.
Darren masuk ke dalam mobilnya tanpa seorang supir yang mengantarnya. Darren memang sedang tidak membutuhkan supir. Berbeda dengan Alarick yang menggunakan supir ke mana pun, Darren hanya membutuhkan supir saat ada urusan kantor saja.
Darren melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Dia sampai di rumah sewaan yang biasanya ditempati Annabelle, kini kosong tanpa ada tanda-tanda kehidupan di dalam sana.
Darren menghela napas panjang. Dia turun dari dalam mobil dan berjalan mendekat ke rumah sewaan itu. Mata Darren mencari-cari keberadaan Annabelle. Dia mengintip dari jendela atau celah yang dapat membuatnya melihat isi dalam rumah tersebut.
"Pencuri!!!"
Darren berjengit. Dia berbalik dan menatap anak laki-laki kecil yang sedang balas menatap Darren dengan tatapan marah.
"Om! Om mau nyuri ya??" Tanya anak tersebut dengan suara cempreng.
Darren melotot sambil menyimpan jari telunjuknya di bibir. "Syutt kau jangan berteriak, nanti orang salah paham. Dan kenapa juga kau bertanya pada seseorang yang kau pikir seorang pencuri?? Kau seharusnya kabur, bocah!"
"Kenapa aku harus kabur? Aku tidak takut pencuri! Aku akan menangkapnya!"
Darren menggeleng dengan lelah. "Aku bukan pencuri. Aku orang kaya. Aku juga pintar dan memiliki IQ di atas rata-rata dan hampir menyusul IQ milik Rudi Habibie."
"Siapa itu Rudi Habibie?"
"Alright, dan kau bertanya dengan santainya pada orang yang kau anggap pencuri."
"Om pencuri???"
Darren mendelik kesal. Dia mendekati anak kecil itu dan berjongkok agar dirinya dan anak itu bisa bertatapan. "Hei kid, kau kenal pemilik rumah ini?"
Anak lelaki kecil itu mengangguk. "Annabelle? Kenapa kau mencari calon istriku?"
Darren memelototi anak tersebut. "Enak saja!!! Dia calon istriku!!!" Teriaknya kuat.
Anak kecil tersebut tersentak. Matanya berkaca-kaca dan sedetik kemudian dia menangis kencang. "HUAA MOMMY DIA MEMARAHIKU!!!"
Darren melotot kaget. Dia panik sendiri menenangkan anak itu. "Hey, hey, tenanglah."
"HUAAA!!!"
Darren menggaruk kepalanya dengan frustasi. "Berhentilah menangis. Kau ingin uang? Hah? Ingin berapa?"
Anak itu sudah sesegukan namun mendengar kata uang dia berhenti menangis juga. "Benarkah? Om akan memberikan berapapun?"
Darren mengangkat sebelah alisnya. "Kau sudah berhenti menangis. Kenapa aku harus memberimu—"
"HUAAA MOMMY DIA MEMBOHONGIKU!!"
Darren berdecak. "Baiklah, 1 dollar jika kau memberitahu keberadaan Annabelle."
Seketika, anak itu berhenti menangis. "20 dollar."
Darren mendelik. "Terserah."
Anak tersebut tersenyum lebar. "Uangnya dulu," katanya, dan senyumnya semakin lebar saja ketika Darren memberikannya uang yang dia inginkan.
"Sekarang jawab."
Anak kecil tersebut segera menyimpan uangnya ke saku. "Anna bilang dia akan menemui adiknya di luar negeri."
"Apa kau tahu di mana?"
"Aku hanya ingat kata “I” dan “sia” yang diucapkannya."
Darren mengerutkan alis dengan bingung. "I dan sia? Negara mana itu?"
Kringgg
Darren tersentak. Dia berdiri dan segera merogoh saku celananya. Nama Makiel tertera di layar ponselnya. "Ada apa?" Tanya Darren kesal.
"Oh Darren, tumben kau mengangkat panggilanku? Hahahaha Lix, lihat si Bungsu mengangkat panggilan—"
"Aku tutup jika kau tidak pada intinya."
"Baiklah, baik. Sekretaris pribadiku berkata ada pengumuman dari ayahmu jika kau bukan lagi pemilik perusahaan keluarga Reinhard."
Mata Darren melotot lebar. Alisnya mengernyit tidak nyman. "Apa maksudnya?? Bukankah perusahaan sudah pindah tangan padaku saat ulangtahunku yang ke-25?"
"Entahlah Darren, aku hanya ingin memastikannya. Jika kau sudah bangkrut sekarang. Hahaha Lix, aku yakin ini adalah saat di mana Darren akan mengejar kita untuk uang. Aku tak sabar untuk mencampakannya."
Darren mendelik. "Lebih baik, jika merencanakan sebuah kegiatan kriminal, rencanakanlah di tempat yang sepi dan bukannya di saat kau sedang menelfon korbanmu, kawan."
"Kau benar. Baiklah Darren, aku akan merencanakannya dahulu dengan Fel—"
Darren segera memutus sambungan. Dia pergi dari sana tanpa memikirkan lagi tangisan anak kecil itu yang meminta uang 100 dollar. Dari mana juga anak itu belajar memalak orang lain?
***
"Apa maksudmu dengan aku yang bukan lagi pemegang sah seluruh aset keluarga Reinhard?? Kau berkata jika semua dokumen sudah kutandatangani!!" Seru Darren kesal pada ayahnya.
Bastien sendiri hanya duduk menonton kemarahan Darren yang menggebu di ruang kerjanya. "Aku hanya mengatakannya dan tidak memperlihatkan dokumennya kepadamu."
"Tapi aku memiliki salinannya!!!"
"Aku menandatangani di dokumen salinannya dan menyalinnya kembali untuk menipumu. Aku tak pernah menandatanganinya di yang asli, nak. Kau seharusnya lebih pintar dari ini."
"Apa??? Kenapa kau melakukan itu???" Teriak Darren murka. Jika seperti ini, bagaimana dia mencari Annabelle dan bagaimana dia akan mengancam Annabelle lagi untuk mau menikah dengannya?
"Aku hanya berjaga-jaga jika kau akan berulah nantinya. Dengan mudah, aku akan mengambil segalanya darimu, Darren."
"Tidak sekarang, dad. Tidak sekarang."
"Oh ya, dan aku sudah memblokir semua kartu ATM-mu—"
"KAU MENGACAUKAN SEGALANYA!!"
Brugh!!!
Darren menendang meja yang berada di tengah ruangan dan membiarkan meja itu terguling akibat tendangannya. "AAARGH!!" teriaknya kuat dan pergi dari sana dengan bantingan pintu kuat.
Percuma saja. Jika bermain dengan Bastien, Darren selalu saja kalah.
Inilah Bastien. Pria yang sangat mencintai istrinya dan membenci anaknya kandungnya sendiri hanya karena Darren kecil selalu menyita perhatian Raline.
***
Darren ditertawakan habis-habisan ketika ia menanyakan keberadaan Felix dan Makiel dan menghampiri mereka berdua ke sebuah kelab malam di Los Angeles.
Mereka tertawa puas ketika melihat wajah tersiksa milik Darren.
"Kenapa ini bisa terjadi, bung?" Tanya Makiel yang sedari tadi puas menertawai Darren. "Apa yang kau punya sekarang, kawan?"
Darren menatap Makiel serius. "Aku pinjam uangmu."
"HAHAHAHA!" Tawa Makiel dan Felix. Makiel memukuli bahu Felix dengan tawanya yang tak pernah berhenti. "Felix, aku tidak menyangka jika kesialan kawanku adalah kebahagiaan tersendiri bagiku."
Felix mengangguk dengan tawanya. "Kau benar. Melihatnya menderita membuat kesenangan tersendiri."
Darren menghela napas panjang. "Ayolah kawan, aku harus mencaritahu negara dengan kata I dan sia."
Felix menghentikan tawanya. "Memangnya ada negara dengan gabungan kata itu? Apa kau tidak salah? Mungkin maksudnya Italia."
Makiel kali ini menabok kepala belakang Felix. "Di mana otakmu?? Kau orang Indonesia tapi tidak terpikirkan nama negaramu sendiri."
Felix mengangguk dengan mulut yang membulat. "Indonesia?" Ucapnya pada Darren.
Darren berdecak kesal. "Sial, kenapa aku tidak terpikirkan negara itu? Padahal aku pintar dan memiliki IQ di atas rata-rata para b*****h ini."
"b*****h? Apa itu kita?" Tanya Felix.
"Kau sudah tahu itu kita, kenapa masih harus menanyakannya, Lix?" Tanya Makiel dengan kekehan.
Tiba-tiba, ada seseorang yang baru saja datang dan duduk di kumpulan mereka. Ketiga orang itu menoleh dan menemukan Alarick di sana.
Makiel segera tertawa lebar dan merangkul Alarick. "Ow how wow, lihat teman kita saat ini. Dia yang biasanya menghina bar ini, kini duduk tanpa harus mendebat tentang kaos kakinya yang lebih mahal dari kursi yang di dudukinya."
"Ck, diamlah!" kesal Alarick sambil mendorong Makiel menjauh.
Felix, yang sering-sering disebut kembaran Makiel yang tidak identik dan beda orangtua itu, ikut merangkul Alarick. "Oww, dude. Ada apa dengan wajah jelekmu yang mirip dengan Darren itu?" tanya Felix sambil menunjuk Darren yang hanya diam sambil minum minumannya. "Apa kau dipecat dari ahli warisan juga?"
Alarick menuangkan botol minuman ke dalam sloki sambil menghela napas lelah. "Kau dipecat dari ahli waris? Kau bukan pewaris lagi, Darren? Keluarlah dari kelompok The Devils. Kau sudah tidak kaya lagi, kan?"
Darren melirik sinis. "Sejak kapan aku masuk kelompok ini? Bukannya kalian yang selalu menempeliku?"
"Kau benar-benar dipecat dari ahli waris??? Sungguh, keluarlah dari kelompok ini. Kau menurunkan standar kita, dude!"
"Ck, diamlah! Aku hanya dipecat dari perusahaan Ayahku karena keukeuh menikahi Annabelle."
"Lalu? Bukannya kau pemilik perusahaan?"
"Tadinya. Namun ternyata masih menjadi milik Ayahku."
"Dan kau akan turun derajat jadi karyawan??"
"Ya."
Felix, Makiel dan Alarick memberikan reaksi berlebihan dengan syok sambil menutup mulutnya dengan kedua tangan. Mata mereka melotot. "Ar-ar-are you serious?????"
Darren menggelengkan kepalanya pelan, bukan untuk menjawab pertanyaan namun karena tidak habis pikir dengan teman-temannya. "Semoga aku benar-benar keluar dari kelompok ini dan tidak ditempeli oleh orang-orang seperti mereka lagi."
"Apa maksudmu seperti kita??" kesal Makiel. "Semua pria bahkan berharap menjadi bagian dari kelompok ini."
"Tidak denganku. Pertama kali bertemu, aku sudah tahu jika kalian hanya kumpulan orang idiot."
"Hey! Kami kumpulan orang tampan." Kata Felix.
"Masih ada yang lebih tampan lagi dari kita. Kita ini hanya sekumpulan orang-orang yang memiliki jabatan tinggi dan uang. Kumpulan i***t sombong yang semacam Alarick."
"Oh Darren, itu terdengar seperti pujian untukku." Kata Alarick sambil menepuk bahu Darren. "Berkerjalah di perusahaanku sebagai CEO."
"Lalu kau? Apa yang akan kau lakukan jika Darren menjadi CEO perusahaanmu?" tanya Felix.
"Aku tidak mau." Jawab Darren langsung.
"Felix, apa kau bodoh? Aku ya pemilik perusahaan dan Darren karyawanku. Oh ya Darren, bawa CV ke kantorku besok sebagai formalitas."
"Aku tidak akan melakukannya." Kata Darren.
"Kalau aku tak ada, titipkan pada resepsionis."
"Sudah kubilang, aku tidak mau."
"Sudah, tak usah berterimakasih. Aku hanya tak ingin memiliki teman dari kaum rendahan."
"Kalau begitu, tidak usah berteman denganku! Aku tidak mau! Apa kau tuli??"
"Sudahlah terima nasib, kau sudah terlanjur menjadi temanku. Nama kita berempat sering disandingkan."
"Aku tidak mau!!"
"Ck, Ya Tuhan." Makiel tumben-tumbenan menyebut Tuhan. Dia merangkul Darren. "Kau ini, Darren. Apa kau tidak sadar jika teman kita yang gengsinya setinggi langit ini sedang mencoba membantu dan bersikap baik??"
"Aku tidak sedang bersikap baik! Aku hanya tidak ingin memiliki teman dari kasta rendahan!!"
"Err, kurang-kurangilah gengsimu itu! Gara-gara gengsi setinggi langit dan tingkat kesombongan setinggi awan, kau jadi kehilangan sekretarismu!"
Alarick melotot. Dia berdiri dan mencengkram kerah pakaian Makiel. "Kau meniduri sekretaris penggantiku?? Bagaimana kau bisa tahu tentang Valerie??"
Makiel melepaskan tangan Alarick dari kerah kemejanya. "Aku tidak tidur dengan sekretaris penggantimu. Apa kau gila?? Dia sudah berumur sebaya almarhum Nenekku!"
"Lalu?? Darimana kau tahu??"
"Aku tidur dengan office girl-mu."
"Kau meniduri perempuan yang sebaya almarhum ibumu???"
"Memangnya kenapa?? Dia masih memiliki ketertarikan padaku. Umurku dengan dia hanya berbeda 15 tahun."
"Kau!! Ck! Sudahlah, apa yang dia katakan?"
"Dia mendengar desas desus bahwa kau menyukai Valerie dan Valerie mengundurkan diri karena dipaksa kawin olehmu."
"Apa??? Alarick, kau memaksa kawin dengan sekretarismu??" seru Felix heboh.
"Ck, aku tahu si i***t ini akan berbuat makin gila." Timpal Darren.
"Aku tidak menyukainya!!" balas Alarick salah sambung.
Felix menyentuh bahu Makiel. "Apa lagi yang dikatakan wanita yang kau tiduri yang berumur 15 tahun lebih tua darimu itu?"
"Hanya sebatas itu saja. Saat aku menanyakan di mana rumor itu berasal, wanita yang aku tiduri yang berumur 15 tahun lebih tua dariku itu mengatakan jika setelah Valerie keluar, Alarick mencari Valerie dan wajahnya terlihat seperti pria yang ditolak wanita."
"Aku tidak menyukai Valerie!!" timpal Alarick, salah sambung lagi.
Felix tertawa. "Chill, dude. Apa kau begini karena belum menemukannya?"
Alarick mendengus kesal, lalu kembali duduk di kursinya. "Sudah."
"Benarkah??" tanya ketiga sahabatnya, kaget. Alarick hanya menganggukan kepalanya.
"Lalu kenapa kau masih di sini??" tanya Felix.
"Ya! Apa kau benar-benar ditolak dan tidak berani menampakkan wajah memalukanmu di depannya?" tanya Makiel.
"Di mana dia sekarang?" tanya Darren, normal.
Alarick menghela napas panjang dan menuangkan minumannya lagi ke gelas seloki. "Dia di Indonesia. Hanya saja..." Alarick menjeda ucapannya dan teman-temannya terdiam menahan napas, menunggu Alarick melanjutkan ucapannya. "Hanya saja..."
"HANYA SAJA APA?? LANJUTKAN UCAPANMU!!" seru teman-temannya, emosi.
Alarick berjengit kaget sampai gelasnya tumpah-tumpah. "Hanya saja..." teman-temannya melotot. "Hanya saja aku tidak tahu apa yang akan kukatakan padanya nanti!! Dan apa alasanku untuk menampakkan wajah di depannya!! God damn it! Dia hanya wanita biasa!! Dia hanya salah satu karyawanku yang mengundurkan diri!! Apa masuk akal bagi kalian, seorang CEO sekaligus pemilik perusahaan terbesar se-Eropa menyusul karyawannya yang mengundurkan diri?? Katakan padaku, apa masuk akal?? Aku tidak menyukainya!"
Hening sejenak. Alarick yang emosi menatap teman-temannya yang menatap Alarick dengan amat sangat serius. Suara jangkrik di malam hari seolah mengalahkan dentuman suara DJ dan terasa bersuara tepat di telinga Alarick saking heningnya.
"Masuk akal." Darren yang pertama menjawab.
"Ya. Kau benar. Itu masuk akal." Timpal Felix.
"Ck, itu masuk akal karena kau bukan hanya menyukainya, tapi sangat menyukainya, dude." Tambah Makiel.
"Sudah kukatakan, AKU TIDAK MENYUKAINYA!!!"
"Ck, dia tidak mau mengakuinya sampai akhir."
"Ya. Gengsinya setinggi langit."
"Makan tuh gengsi, Pria b******k!"