Perasaan senang karena Aldo mengajaknya kencan hancur seketika. Saking senangnya Leviana bertindak bodoh, kali ini image sebagai karyawan teladan dan bisa diandalkan benar-benar hancur di hadapan semua karyawan terutama Nathan. Bukan Nathan sahabatnya yang tadi dia temui, tapi sesosok monster berwujud manusia bertameng ‘CEO’ perusahaan. Tiada hal lain yang lebih menyeramkan dari kemarahan sesosok monster berwujud CEO itu.
Memaki diri sendiri tidak ada gunanya, hanya menimbulkan penyakit hati yang tidak ada obatnya. Perbuatan dirinya tadi, menimbulkan petaka bagi semua orang. Jika Tuhan menciptakan otak untuk berpikir, kenapa Leviana tidak berpikir dua kali sebelum pergi ke luar ruangan Nathan dan memeluk pria itu. Kemarahan Nathan begitu menakutkan, apalagi karyawan lain juga ikut menjadi sasaran. Lihatlah sekarang, Leviana sedang ditatap murka oleh semua karyawan termasuk Vanya.
“Leviana ... sayang, jangan dipikirin. Anggap mereka semua botol sampah yang patut dibuang.” Seorang pria bertubuh kurus berdiri di samping Leviana, berusaha menenangkan wanita itu. Pria itu menunjuk satu persatu karyawan yang sejak tadi menatap Leviana sinis, sesekali membetulkan kacamata tipis yang dia gunakan. Yudiska Pratomo—karyawan yang baru beberapa bulan bekerja di sini—membalas setiap tatapan sinis yang tertuju pada Leviana.
“Sampah!” seru Vanya sambil menunjuk wajah Yudi geram, dia melotot bak kuntilanak yang sedang memarahi anaknya. Bukannya ketakutan Yudi malah pura-pura meraup bola mata Vanya, lalu memasukkannya ke dalam kantung jas seolah telah memasukkan bola bata Vanya sungguhan.
“Kalian semua botol-botol sampah, kecuali aku dan Leviana cantik hahaha,” tegas Yudi setalah itu tertawa terbahak-bahak.
“Oh, berarti Pak Nathan juga sampah?”
Yudi melirik ke segala arah lalu melangkah, sedikit mendekati Vanya. “Sampah dong, kamu juga kayaknya setuju ‘kan? Aku tau kamu jadi langganan Pak Nathan.”
“Langganan?” beo seorang wanita berjilbab, yang sedari tadi menguping pembicaraan. Leviana tidak selera mendengarkan perdebatan tak berfaedah mereka, dia hanya duduk diam berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya. Mereka bisa bersantai dan bergosip ria saat jam istirahat, jika tidak pengawas atau Nathan sendiri yang akan memarahi mereka melalu pengeras suara.
“Udah Fit, tidur aja sana,” usir Vanya mendorong wanita berjilbab itu, menjauh dari tempat mereka. Fitya—wanita berjilbab dengan wajah tirus itu mendengkus kesal, dia kembali lagi setelah Vanya usir.
“Langganan apa?”
Yudi tertawa keras. “Itu Fit, itu.”
“Apa Mas? Langganan apa? Emang Pak Nathan jualan?” tanya Fitya penasaran.
Berpura-pura bekerja pun tidak ada gunanya, percakapan mereka bertiga masih terdengar di telinga Leviana. Kenapa setengah karyawan di sini tidak waras semua? Leviana jadi ikut bergabung ke dalam perkumpulan tidak waras. Selama ini, Leviana selalu terhibur dengan percakapan tidak jelas Vanya, dan karyawan abnormal lainnya tapi kali ini kepalanya hampir meledak.
Leviana menatap Fitya gemas. “Vanya langganan semprotan Pak Nathan,” jawab Leviana jujur, setelah dijawab oleh Leviana barulah Fitya mengerti.
“Oh, iya. Kalau aku disemprot Pak Nathan suka nangis,” ceritanya jujur, “mangkanya aku kerja sebaik mungkin. Yaudah, aku balik ke tempat ya.” Setelah itu, Fitya kembali ke tempatnya semula. Dari kejauhan wanita itu melirik ke kanan dan ke kiri, tangannya masuk ke dalam laci meja lalu mengambil sesuatu.
Permen karet! Fitya sudah melanggar aturan! Melihat itu, refleks keduanya—Yudi dan Vanya saling bertatapan. Di perusahaan ini, tidak ada yang boleh memakan permen karet atau membawa makanan ringan ke dalam kantor apalagi dimakan saat bekerja.
“Iki siki ningis kili disimprit pik nithin,” ucap Vanya menye-menye, menirukan suara Fitya.
Yudi terkekeh pelan. “Pas ngomong ‘langganan’ pasti kamu belingsatan dalem hati?” tuduh Yudi.
“Belingsatan kenapa? Ngajak ribut?”
“Otak kamu pasti langsung m***m, jangan-jangan mikirin tidur sama Pak Nathan ya,” tuduh Yudi lagi, langsung mendapatkan tinjuan dari Vanya.
“Sembarang!”
“Kembali ke tempat masing-masing, Van, Yud. 1 menit lagi masuk,” usir Leviana halus, tapi sepertinya mereka tidak menggubris ucapan Leviana. Mereka masih berada cekcok, menuduh satu sama lain. Leviana mengembuskan nafasnya panjang, dia tidak memedulikan mereka lagi, biarkan saja monster perusahaan Ferlandes yang menggebrak mereka.
“Selamat siang, saya sudah berikan waktu yang cukup untuk beristirahat. Jika masih kurang, silakan pulang dan beristirahat di rumah untuk selama-lamanya.”
Suara Nathan di mikrofon menggema, membuat Vanya dan Yudi kelimpungan, mereka berdua berlarian ke tempat mereka masing-masing. Leviana memutar bola matanya malas, muak juga mendengar suara Nathan. Tiada hari tanpa marah-marah.
“Oh, monster Ferlandes ....”
***
“Nath!” panggil Leviana sedari mengejar Nathan.
Nathan menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Leviana datar setelah itu beralih menatap sekitar. Leviana menepuk keningnya pelan, lagi-lagi dia melupakan sesuatu. Ini masih di dalam kantor, seharusnya dia memanggil Nathan dengan embel-embel.
“Ma-maaf, Pak Nathan.”
“Sudahlah, Lev. Ini Nathan sahabatmu, bukan atasanmu. Jam kerja sudah selesai.”
“Ma-maaf ya, Nath soal tadi,” ucap Leviana gugup. Dia memilin-milin ujung pakaiannya, masih sedikit kaget dengan teriakan Nathan tadi.
Pria itu berdecak. “Minta maaf sama Pak Nathan, si monster Ferlandes itu.”
Sebentar, kenapa Nathan bisa tahu soal julukannya untuk Nathan? Apa mungkin Nathan mendengar umpatannya? Leviana makin tak enak hati, pasalnya banyak masalah yang sudah dia perbuat hari ini.
“Ka-kamu kan monster Ferlandes, Nath. Ngomong-ngomong kenapa kamu tahu soal itu?”
Nathan tertawa pelan, pria itu berjalan santai yang mau tak mau Leviana mengikutinya dari samping. Lama terdiam, Nathan tiba-tiba menghentikan langkahnya, menatap Leviana sambil tersenyum. Tatapan Nathan begitu aneh, pria itu menatap wajah Leviana sesekali menatap ke arah lain sambil tertawa kecil. Leviana mengusap wajahnya, merasa ada sesuatu hal di wajahnya sampai-sampai Nathan tertawa seperti itu.
“Si monster Ferlandes itu bilang ke aku, katanya tolong bilangin ke Leviana makiannya kurang kenceng. Asal kamu tau, monster Ferlandes itu punya pendengaran yang tajam,” jawab Nathan bercanda. Tidak kaku seperti di kantor, benar Nathan ini adalah Nathan sahabatnya bukan si monster Ferlandes.
Mendengar itu Leviana ikut tertawa. “Aku takut buat minta maaf ke Pak Nathan, jadi aku nitip pesen aja ya ke kamu buat Pak Nathan.”
Sebelah alis Nathan terangkat, kakinya kembali melangkah santai. “Titip pesan apa? Nanti aku sampein ke Pak Nathan.”
Leviana berjalan di samping Nathan, wanita itu mengetuk-ketukkan jarinya di dagu seolah dia sedang berpikir keras. “Aku mau minta maaf, karena aku udah lancang sama Pak Nathan. Aku gak sadar kalau itu Pak Nathan, karena kamu sama Pak Nathan gak ada bedanya. Sama-sama nyebelin.”
“Aku bisa lapor lho ke Pak Nathan, biar kamu dimarahin,” ancam Nathan bergurau.
“Laporlah, aku gak peduli. Emangnya dia siapa yang seenak jidatnya marah-marah ke semua orang. Aku yang salah, yang kena semua orang,” cibir Levania, melirik Nathan tajam. Saat pria itu balik menatapnya cepat-cepat Levania mengalihkan pandangannya ke arah lain, berpura-pura menatap sesuatu.
“Bukannya bagus ya? Itu yang namanya kekompakan.”
“Kimpik,” balas Levania menye-menye, mengikuti gaya bicara Nathan, “gara-gara si monster Ferlandes itu aku disinisin semua karyawan.”
“Lama-lama kamu jadi kayak Vanya ya?”
“Berisik gak usah ngomong.”
“Kamu mau bareng sama aku?” tawar Nathan.
Leviana menggeleng keras. “Enggak tuh.”
“Terus kenapa ngikutin aku sampe parkiran?”
Leviana melongo, dia menatap ke segala arah. Keasyikan mengobrol sampai tidak sadar Nathan mengajaknya ke parkiran. Nathan tersenyum, pria itu membukakan pintu mobil untuk Leviana masuk. “Tutup mulutnya, ayok masuk aku anterin sampe rumah.”
“T-tapi—“
“Takut amat, aku Nathan sahabat kamu bukan monster Ferlandes. Kalau sekarang aku jadi Pak Nathan mungkin kamu udah aku dorong paksa masuk ke dalam mobil.”
“Jadi Pak Nathan mau culik aku?”
“Iya, kan itu Pak Nathan bukan Nathan. Ayoklah, resek banget gratis juga!” Nathan menarik lengan Leviana kemudian memasukkannya ke dalam mobil. “Culik cewek kayak Leviana dapet apa?”
“Nathan Ferlandes!!!”
***
Memiliki sahabat seperti Nathan mempunyai keuntungan berlipat-lipat ganda. Leviana sendiri tidak ingin memanfaatkan Nathan, tapi sering kali Nathan yang menawarkan bantuan. Hal yang dibenci dan disukai Leviana, semuanya Nathan tahu. Susah senang Leviana ungkapkan semuanya pada Nathan, bahkan aib wanita itu pun Nathan tahu.
Sehabis pulang dari kantor, Nathan mengajak Leviana ke suatu tempat yang tak jauh dari rumahnya. Sebuah taman bermain, yang penuh dengan kenangan. Waktu kecil, mereka berdua sering menghabiskan waktunya di sini sampai tidak ingat waktu dari pagi sampai petang. Taman ini sangat spesial bagi mereka berdua, tak jauh dari taman ada rumah pohon. Itu hadiah Nathan untuk Leviana saat usia Leviana menginjak angka 15 tahun. Rumah pohon itu hanya boleh di datangi mereka berdua, tidak ada yang boleh datang selain mereka.
“Nath, aku gak bisa lama-lama lho. Aku mau kencan sama Aldo nanti malem.”
“Malem ‘kan? Gak sekarang?”
Leviana mengangguk kikuk. “I-iya, lagian kenapa kita ke sini?”
“Aku kangen tempat ini, aku kangen kenangan dulu. Kalau aku bisa kembali ke masa lalu, aku lebih baik pergi ke masa lalu. Masa-masa di mana kita Cuma tahu makan, bermain dan tidur,” ucap Nathan, nadanya begitu pilu berhasil membuat d**a Leviana sesak.
Leviana menepuk bahu Nathan pelan. “Kita udah dewasa, Nath. Waktunya memilih jalan masing-masing, kita gak bakal sama terus kayak gini.”
Pria itu tersenyum miring. “Kata orang kamu yang paling butuhin aku, tapi ternyata aku yang paling butuhin kamu. Aku belum siap kamu pergi, dan ngelepas kamu.”
“Nathan, aku yakin suatu hari nanti kamu akan ketemu sama seseorang yang buat kamu ngerasa nya—“
“Gimana kalau itu kamu?”
“Nathan! Udah dong, bercandanya.”
Nathan menggelengkan kepalanya pelan. “Aku sama sekali gak bercanda.”
Keduanya diam, di bawah rumah pohon. Angin sepoi-sepoi mengibas rambut Leviana yang sengaja terurai. Langit berubah menjadi hitam, matahari mulai menyembunyikan wujudnya. Leviana tersenyum tipis, dia menggenggam tangan Nathan erat.
“Aku pulang dulu ya? Kamu langsung pulang ke rumah,” pamit Leviana melepaskan genggaman tangannya, kemudian pergi. Sebelum pergi, tiba-tiba handphone-nya berdering.
Nama kontak ‘Aldo?’ tertera di layar handphone-nya. Cepat-cepat dia mengangkatnya, senyuman lebarnya langsung terbentuk tatkala suara berat Aldo terdengar di seberang sana.
“Halo Al?”
“Sorry Lev, kita gak jadi keluar malam ini. Aku ada urusan mendadak.”
Leviana menelan salivanya kasar. “U-urusan? Urusan apa?”
“Kamu gak perlu tahu, sekali lagi maaf.”