Nathan berhasil meminta nomor Raira, alasannya simpel Nathan ingin mengatakan sesuatu hal yang penting dan Raira langsung memberikan nomornya. Raira bilang, nomornya sangat privasi jadi wanita itu berharap Nathan tidak menyebar nomor itu ke siapa pun.
Besoknya, Nathan menelepon Raira. Beberapa kali mencoba, Raira tak kunjung mengangkat. Akhirnya dia menyerah dan akan mencobanya lagi nanti. Mungkin saja wanita itu sibuk, ya, tentu wanita itu sangat sibuk.
“Selamat pagi, Pak Nathan. Semoga hari ini jadi hari yang menyenangkan,” sapa Vanya—salah satu karyawannya—membungkukkan sedikit badannya saat Nathan datang. Tidak hanya Vanya beberapa karyawan lain ikut menyapa.
“Hidup saya sudah suram, kamu mau meledek saya?!” tanya Nathan sedikit ketus, membuat Vanya dan karyawan yang mendengarnya kaget. Vanya masih diam di tempatnya, sementara yang lain sudah kembali ke mejanya masing-masing.
“Sensi amat, Pak. Nanti jomblo terus lho,” goda Vanya lagi sambil tergelak. Selain Levania, manusia yang tidak ada takut-takutnya itu Vanya. Untunglah Vanya sedikit tidak bermasalah soal pekerjaan, hanya adu cekcok saja yang sering membuatnya jengkel setengah mati.
“Kerja dan kembali ke tempat! Jangan bercanda atau kalian semua yang tanggung akibatnya!” ancam Nathan serius, aura dingin di wajah pria itu keluar membuat semua karyawan termasuk Vanya kembali ke pekerjaannya. Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya lalu melenggang pergi menuju ruangannya, sebelum masuk ke dalam ruangannya Nathan masih melihat Leviana yang masih berkutat dengan handphone.
Brak brak brak!
Nathan menggebrak pintu ruangannya, sontak saja Leviana melempar handphone-nya kaget. Wanita itu berdiri menundukkan kepalanya. Leviana memang sahabat Nathan, tapi di kantor Nathan bersikap profesional—tidak membeda-bedakan siapa pun. Entah itu keluarganya sendiri, sahabat atau pun teman, jika salah Nathan akan menggertaknya.
“Matikan handphone-nya dan kembali bekerja. Bisa-bisa kamu tergeser oleh orang lain, makin ke sini kamu makin males aja kerjanya. Sebenernya kamu niat gak? Kalau gak niat, pulang dan ajukan surat pengunduran diri,” tegas Nathan menatap Leviana serius.
Leviana memberanikan diri menatap Nathan. “Maaf, Pak saya tidak akan mengulanginya lagi. Sekali lagi maaf,” ucap Leviana merasa bersalah. Leviana tidak merasa sakit hati telah digertak oleh Nathan, hal seperti ini sering terjadi bukan ke dirinya saja tetapi ke semua karyawan yang menurut pria itu salah. Hari ini sepertinya Nathan sedikit berbeda, kemarahan ini bukan hanya berasal dari dirinya—bermain handphone saat bekerja, sepertinya ada hal lain yang membuat Nathan marah.
“Baiklah, jangan ulangi.” Nathan berbalik, hendak masuk ke dalam ruangannya tapi tiba-tiba seseorang meneleponnya. Sedikit dia mengintip ke arah layar handphone-nya, ternyata Raira. Cepat-cepat dia angkat seraya masuk ke dalam ruangan Nathan.
“Halo selamat pagi, Nyonya Raira,” sapa Nathan sopan.
“Selamat pagi, iya? Dengan Tuan Nathan Ferlandes ya?”
Refleks kepalanya mengangguk. “Iya betul. Bisa kita berbicara empat mata? Kapan saja, saya tidak bisa memaksa Anda untuk berbicara sekarang juga.”
Sejenak Raira di seberang sana terdiam. “Sekarang saya bisa, tapi mungkin tidak akan lama. Bisa saya saja yang memilih tempat bertemu?”
“Iya, baik. Tidak masalah.”
“Cafe Melati, dekat Bhatia High School. Saya akan langsung ke sana.”
“Baik, saya akan ke sana sekarang juga. Terima kasih, Nyonya Raira.”
***
Sesuai perjanjian, Nathan datang ke cafe yang tadi disebutkan oleh Raira. Dia masuk ke dalam cafe dengan tergesa-gesa, matanya langsung tertuju pada seorang wanita berpakaian rapi khas seorang guru bertaraf internasional—duduk di dekat jendela. Sedikit berlari, Nathan menghampiri wanita itu.
“Nyonya Raira?”
Wanita bernama Raira itu bangkit dari duduknya, menatap Nathan lalu mengangguk. Wanita itu mempersilakan Nathan duduk. Raira sangat berwibawa, terlihat cantik dan anggun dengan pakaian formal seperti yang digunakan wanita itu. Aldo sangat tergila-gila pada Raira, tidak salah lagi. Pantas saja Aldo bisa sampai gila mencintai wanita ini.
“Kita langsung bicara saya ya? Kakak saya sedang ada di sekolah, jangan sampai dia melihat saya ada di sini.”
Kakaknya? Ya, Nathan pernah mendengar dari Leviana kalau kakak Raira yang tidak menyetujui hubungan antara Aldo dan Raira, sampai Aldo bertindak nekat. Nathan jadi penasaran, seberapa menyeramkan kakak kandung Raira.
“Sebelumnya maaf sudah menganggu waktu, Anda. Saya ke sini ingin membicarakan sesuatu, soal ... Aldo Altenza.”
Raira seketika terdiam, wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan. Aldo yang melihat perubahan raut wajah wanita itu pun langsung merasa bersalah. Tidak seharusnya dia bertemu dengan Raira dan membicarakan masa lalunya. Ini sangat privasi.
“Ada apa dengan Aldo?” tanya Raira dengan sangat tenang, di luar dugaan Nathan yang mengira Raira akan marah dan pergi meninggalkan cafe.
“Dia mau menikah dengan sahabat saya, tapi saya tahu Aldo masih mencintai Anda. Apa Anda masih mencintainya?”
Wanita itu tersenyum tipis, lalu menggeleng. “Saya sudah bersuami, dan sekarang saya mencintai suami saya. Aldo hanya masa lalu yang sudah saya lupakan.”
“Bisa Anda bertemu dengan Aldo dan menjelaskannya? Dia keras kepala, dia sangat mencintai Anda. Saya tidak mau Anda menjadi bayang-bayang di kehidupan sahabat saya nanti.”
“Saya ingin sekali membantu tapi saya trauma melihat wajah Aldo Altenza. Lagi pula saya sudah berjanji di depan semua kakak saya untuk tidak bertemu dengan Aldo, kalau sampai saya melanggar janji itu mungkin mereka akan marah.” Raira menghela nafasnya panjang. “Apa hanya itu yang Anda akan bicarakan?” Wanita itu bangkit dari duduknya.
“Tunggu!” sergah Nathan membuat Raira terduduk kembali.
Raira tersenyum tipis, menatap Nathan. “Kamu mencintai sahabatmu ‘kan? Tapi sahabatmu mencintai Aldo?” tebaknya.
“Anda—“
“Hm, bisa kita bicara santai saja? Ini bukan bisnis,” potong Raira.
Nathan menghela nafasnya panjang, mencoba untuk bersikap santai di depan Raira. “Bagaimana kamu bisa tahu? Saya tidak pernah memberitahu siapa pun kecuali sahabat saya sendiri.”
“Terlihat jelas di matamu. Saran saya, jika kamu ingin mengejar, kerja dengan cara baik-baik jangan seperti Aldo. Saya turut prihatin atas kondisi Aldo, saya pikir dia sudah berubah dan mencoba untuk membuka lembaran baru tapi ternyata tidak. Semoga saja, Aldo bisa berubah dan mulai mencintai sahabatmu,” ucap Raira bijak, “kadang, kita harus mencoba ikhlas untuk kebahagiaan seseorang. Cukup lihat dan jalani, jangan merasa terbebani.”
“Saya akan ikhlas, kalau saja orang yang dicintai sahabat saya itu bukan Aldo. Dia masih terobsesi padamu dan dia tidak mungkin melupakanmu begitu saja.”
“Saya akan menyiapkan diri, tidak sekarang mungkin nanti. Untuk itu saya tidak bisa berjanji, memperbaiki keadaan. Hubungi saya lagi, jika kamu merasa membutuhkan bantuan saya.”
***
Sejak kemarin saat Leviana ada di cafe bersama Nathan, Aldo tidak menghubunginya sekadar untuk bertanya soal keadaannya. Harapan yang telah dia rakit semalaman hancur begitu saja. Dia berharap Aldo akan menghubunginya, bertanya soal keadaannya dengan nada khawatir tapi—jangankan bertanya, membalas pesannya saja tidak.
Tidak adakah secuil rasa khawatir di dalam diri Aldo terhadapnya? Jika pria itu sedang sibuk, setidaknya bertanya lewat pesan saja. Hanya butuh satu sampai dua menit untuk mengetikkan sebuah pesan, apalagi dengan gaya Aldo mengirim pesan yang singkat, dirasa tidak akan memakan waktu tidak
Baru saja dipikirkan, tiba-tiba Aldo meneleponnya. Leviana meneguk salivanya kasar, dia mengerjap-ngerjapkan matanya tak percaya. “A-Aldo telepon? Serius?” tanya Leviana histeris. Tidak ingin menunggu lebih lama lagi, dia langsung mengangkat panggilannya.
“Ana, sorry ... apa yang terjadi padamu kemarin malam? Kamu baik-baik saja ‘kan?”
Leviana tersenyum senang, dia tak bisa menyembunyikan seberapa senangnya dia di telepon Aldo. Sesuai ekpektasi, Aldo mengkhawatirkannya. Walau terlambat, tapi setidaknya Aldo mengabarinya. Cukup, ini saja membuat mood-nya kembali bagus.
“Aku baik, Al. Kemarin aku berharap kamu jemput aku, tapi kayaknya kamu sibuk.”
“Hari ini sibuk?”
Jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Senyumannya bertambah lebar, sangat-sangat lebar sampai senyuman itu ingin lepas dari wajah cantik Leviana. Dia mencengkeram dadanya kuat, berusaha untuk menormalkan kembali detakkan jantungnya.
“Ana?”
“Enggak, hari ini aku gak sibuk!”
“Oh, baguslah. Bunda menyuruhku untuk mengajakmu keluar malam ini.”
Ah, bundanya ternyata ....
“Ana? Kenapa diam? Kalau kamu gak mau aku bisa bicara dengan bunda.”
“Eh, enggak Al! Aku mau, hm ... kita ngedate?”
“Ya, semacam itu. Tapi jangan berharap terlalu banyak, aku bukan pria romantis.”
Leviana tertawa pelan. “Iya, Al. Aku tahu itu, kamu pria kaku dan dingin.”
“Baiklah, sampai ketemu nanti malam. Aku menjemputmu.”
Tut
Sambungan terputus, refleks saat itu Leviana meloncat-loncat bak anak kecil. Dia menarik Vanya dari kursinya, lalu memeluknya erat. Vanya hanya pasrah, diajak meloncat, menari, dan berjinjit-jinjit seperti habis memenangkan sebuah undian besar.
“Lev, ada apa? Ada kabar baik?” tanya Vanya menghentikan gerakan Levania.
Leviana menatap Vanya serius lalu sedikit mendekat ke arah Vanya. “Aldo ngajak kencan!!” seru Leviana kesenangan. Saking senangnya, Leviana memberitahu kabar ini kepada semua orang. Wanita itu berlari ke arah ruangan Nathan, dia masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Dia melupakan sesuatu, ini masih jam kerja.
“Nathan! Aldo ngajak aku kencan! Malam ini aku kencan!” teriak Leviana berlari memeluk tubuh Nathan erat. Sementara Nathan hanya diam, tak membalas pelukan Leviana. Kedua tangannya mengepal kuat, emosi tiba-tiba menyerang pria itu.
“Malam ini aku kencan!” seru Leviana lagi.
Nathan melepaskan pelukan Leviana kasar. Dadanya naik turun, sekuat tenaga dia tidak membentak Leviana. Kelakuan wanita itu telah memancing kemarahannya. Banyak alasan untuk memarahi Leviana hari ini. Sebenarnya benda ghaib apa yang sudah membuat Leviana menjadi wanita seperti ini, wanita itu sudah tergila-gila.
“Leviana! Ini di dalam kantor!” bentak Nathan, kali ini dia tidak bisa menahan amarahnya. Leviana diam, baru menyadari kekonyolannya. Nathan menggeleng-gelengkan kepalanya, memutari tubuh Leviana. “Kamu sebahagia ini soal kencan? Kelakuan kamu itu norak, di sini saya itu atasan kamu. Hargai saya sebagai atasan kamu, mengerti?”
Leviana menundukkan kepalanya takut. “Ma-maaf, Pak.”
“Bersikaplah profesional, ini tempat kerja bukan tempat romansa. Untung saja kamu itu karyawan terbaik perusahaan ini, jika tidak saya sudah menyemprotmu habis-habisan.” Nathan menarik nafasnya panjang lalu mengembuskannya perlahan. “Sekarang bekerja dengan benar, jika ini terulang kembali saya tidak akan memberikanmu kesempatan lagi. Ingat itu Leviana.” Setelah mengatakan itu, Nathan kembali duduk di kursinya.
“Ba-baik, Pak. Sekali lagi maaf,” ucap Leviana, mati-matian dia tidak mengeluarkan air matanya. Wanita itu berbalik dan berjalan keluar dari ruangan Nathan.
“Leviana bodoh, bodoh, bodoh!” makinya pelan.