Dari kecil Nathan sudah diberikan kehidupan mewah. Sekolah, kuliah dan kerja di tempat yang dia mau. Bagi keluarga Ferlandes, Nathan adalah segalanya. Apa pun keinginannya selalu dituruti, kecuali masalah cinta. Mungkin Nathan bisa melakukan dan mendapatkan apa pun untuk dimiliki tapi seberapa keras Nathan berusaha mendapatkan cintanya, dia tidak akan bisa mendapatkannya dengan mudah bahkan nyaris mustahil. Hati Leviana sudah mengeras seperti batu, tidak ada celah lagi untuk dia singgah. Kelebihan apa yang Aldo punya sampai-sampai Leviana bisa tergila-gila pada sosok itu. Aldo ... yang sebenarnya tidak mencintai Leviana.
Sejak tadi pagi sampai saat ini, Nathan perhatikan Leviana tidak berhenti-berhenti menatap cincin di jarinya. Wanita itu menjaga cincin itu dengan sangat hati-hati, seolah akan ada yang merebutnya dari jari wanita itu. Kesal, marah, dan benci Nathan luapkan semua melalui sorot matanya. Dalam hati, dia berjanji, sampai kapan pun dia tidak akan rela Leviana bersama Aldo. Jika saja Aldo juga mencintai wanita yang dia cintai, mungkin dia akan mengikhlaskannya tapi rasanya tidak mungkin. Keberadaan Aldo di hidup Leviana hanya akan membawa petaka.
Nathan menatap cincin yang tersemat di jari Leviana, menatapnya serasa ingin segera memusnahkan cincin itu dari jari Leviana. Dalam mata Nathan, Leviana tidak cocok memakai cincin itu, dia hanya cocok memakai cincin pemberiannya. Kalau saja diizinkan, Nathan akan menculik Leviana dan membawanya jauh-jauh dari Aldo.
"Nath, biasa aja natapnya. Aku tahu, aku pantes banget 'kan?" Leviana bertanya seraya mengangkat tangan kirinya ke atas, memperhatikan keelokan jari manis yang tersemat cincin.
"Kamu udah mikirin mateng-mateng 'kan Lev? Jangan sampe kamu nyesel," ujar Nathan serius.
"Aku udah pikirin mateng-mateng, Nath. Aku cinta sama Aldo—"
"Cinta aja gak cukup Lev!" potong Nathan meninggikan suaranya. Mendengar itu, Leviana diam kepalanya tertunduk. Seketika keadaan menjadi hening, hanya suara derasnya air hujan yang terdengar. Nathan menghela nafasnya panjang. "Kamu cinta dia, tapi dia gak cinta sama kamu, dia cinta sama orang lain Lev."
"Bukankah cinta datang karena terbiasa? Mungkin aja setelah kami menikah nanti, Aldo akan cinta sama aku. Buktinya dia udah mulai perhatian sama aku," bela Leviana, tidak ingin Aldo hancur di mata Nathan. Keputusannya sudah bulat, jangan sampai goyah hanya karena Nathan mencoba menendang pertahanannya.
"Ibarat gini ya, Lev. Aku itu suka sama kamu, tapi kamu suka sama Aldo sama halnya kayak kamu yang suka Aldo tapi Aldo suka sama orang lain. Apa ada kesempatan Aldo buat cinta sama kamu?"
"Ada, aku yakin lambat-laun Aldo suka sama aku," balas Leviana yakin.
"Itu artinya, lambat-laun kamu juga bisa suka 'kan sama aku?"
Leviana menatap Nathan datar. "Nath, udah Nath. Kita sahabatan aja ya, aku gak mau jauhin kamu. Aku gak bisa jauhin kamu karena kamu sahabat aku, cuma kamu satu-satunya orang yang aku percaya."
"Aku cinta kamu, Lev. Aku gak mau kamu kecewa lihat kelakuan kurang ajar Aldo," ucap Nathan pilu. Begitu susahnyakah membuka hati untuknya. Dia bisa memberikan kebahagiaan untuk wanita itu. Apa pun demi kebahagiaan Leviana tapi tidak dengan merelakan wanita itu ke orang gila seperti Aldo.
"Kamu gak usah khawatir, Nath. Ini urusan aku."
Setelah itu keduanya diam, tidak ada yang mengalihkan suasana canggung di antara mereka berdua. Nathan menatap Leviana dalam diam, berpikir apakah dia siap merelakan Leviana? Dirasa tidak mungkin, Aldo tidak akan pernah berubah, sampai kapan pun pria itu tidak akan berubah. Dia ingin sekali berteriak di depan Leviana, membuat wanita itu mengerti apa yang wanita itu lakukan salah. Jalan yang diambil Leviana salah, sangat salah besar. Jalan itu akan membawa Leviana ke dalam neraka dunia.
Sementara Leviana sedang berusaha menelepon Aldo, meminta pria itu menjemputnya tapi tak kunjung diangkat. Hujan semakin deras disertai petir yang menggelegar, membuat Leviana ketakutan. Beberapa kali dia berusaha menelepon tunangannya, sama seperti tadi—tidak diangkat. Di sini ada Nathan tapi sepertinya Nathan mulai tak acuh.
Jdar
Refleks Leviana bangkit dari kursi dan memeluk Nathan erat. Tubuhnya bergetar hebat, air matanya mengalir dengan sangat deras. Nathan bangkit, membalas pelukan Leviana, menenangkan wanita itu.
"Tenang Lev, ada aku. Aku di sini, jangan takut," bisik Nathan mengeratkan pelukannya. Leviana menangis sesenggukan, tubuhnya masih bergetar dan Nathan masih bisa merasakan hal itu.
"Ta-takut, ja-jangan tinggalin aku Nath. Aku takut," lirih Leviana dengan suara bergetar.
Nathan mengusap rambut Leviana lembut. "Shtt ... jangan menangis. Kalau aku bisa menaklukkan petir, maka aku akan menghilangkan petir itu dari dunia ini. Itu 'kan yang membuat kamu takut?" Kedua sudut bibir Nathan terangkat, tangannya tak berhenti-berhenti mengelus rambut Leviana. "Kamu inget gak? Dulu waktu kecil kamu punya cita-cita ingin menghilangkan petir dari dunia ini? Rasanya aneh banget, tapi aku waktu itu bi—"
"Bilang mau bawa karung dan nangkep petir," sambung Leviana seraya melepaskan pelukannya. Dia berbalik, menghapus air matanya.
Nathan terkekeh pelan. "Dan, itu satu dari dua cita-cita aku yang belum terwujud."
"Dua?"
Nathan mengangguk. "nangkep petir dan naklukin hati kamu, yang keduanya sama-sama susah dicapai."
***
"Astaga ... Mama khawatir banget sama kamu."
Amrita—ibu kandung Leviana—memeluk putri bungsunya erat. Raut wajah khawatir terpancar di wajah wanita paruh baya itu. Nathan mengantar Leviana pulang, awalnya Leviana menolak tapi Nathan memaksanya. Dalam keadaan syok seperti itu, Leviana tidak mungkin bisa pulang sendiri. Sahabat mana yang tega meninggalkan sahabatnya sendirian dalam keadaan syok.
"Untung ada Nathan, entah gimana keadaan Levi kalau gak ada Nathan," ucap Amrita melepaskan pelukan putrinya, beralih memeluk Nathan, "makasih ya Nathan. Kamu selalu ada buat Levi."
Nathan tersenyum lebar, dia melepaskan pelukannya. "Gak tega Nathan liat Levi nangis-nangis, Tan. Dia cuma bisanya nangis di depan Nathan doang, Tan, nangis di depan orang lain mana berani."
"Apaan sih, Nath. Aib di bongkar-bongkar," sinis Leviana sambil mencebik kesal.
"Bahkan nangis di depan Tante aja bisa dihitung jari. Sebenernya ibunya itu saya atau kamu si, Nath," sahut Amrita sambil tertawa cekikikan, "yaudah yuk masuk dulu, makan malam sama kita. Udah lama 'kan gak makan malam bareng lagi?"
Pria itu melirik Leviana sekilas. "Oh, boleh Tan? Kebetulan Nathan kangen masakan Tante."
"Boleh dong, ayok masuk."
***
"Langsung dicetak ya foto pertunangannya. Padahal belum lama, tapi udah dipajang aja," kata Nathan lebih ke arah sindiran untuk Leviana, kala matanya terpusat pada sebuah bingkai foto. Di dalam foto itu ada Leviana dan Aldo sedang menunjukkan cincin mereka masing-masing. Tangannya tiba-tiba gatal, ingin melempar foto itu dari hadapannya.
"Kamu tau, Nath? Levi masang foto itu juga, tapi ukurannya lebih gede. Baru tunangan, nanti kalau udah nikah pasti penuh foto-foto pernikahan," sambar Amrita berjalan ke arah Nathan, membawakan secangkir teh untuk Nathan.
Nathan tersenyum kecut, senyuman yang dia tidak tunjukkan pada siapapun. Dia menormalkan kembali lekukan di bibirnya kemudian berbalik, menatap Amrita, kali ini dengan senyuman tulus.
"Saking cintanya ya, Tan?"
Amrita mengangguk. "Iya, Nath. Padahal Tante tuh khawatir sama Levi, jujur Tante lebih percaya sama kamu daripada sama Aldo. Andai aja kamu suka sama Levi dan Levi suka sama kamu, mungkin Tante bahagia banget.”
"Apaan si, Mah. Mama gak suka sama Aldo?" sambar Leviana marah sekaligus kesal. Ucapan ibunya akan memancing Nathan untuk kembali berusaha mendapatkan cintanya. Lihat saja, sekarang Nathan sedang tersenyum ke arahnya.
"Kamu 'kan yang suka Aldo, ya Mama bisa apa karena kebahagiaan kamu itu kebahagiaan Mama juga. Mama gak egois, Ririn aja Mama jodohin itu langsung mau padahal Mama sama papa gak pernah maksa-maksa dia begitu juga kamu, apa Mama pernah paksa-paksa kamu?"
Leviana berlari memeluk sang ibu erat. Benar, ibunya tidak pernah memaksa apa pun. Mulai dari sekolah, kampus, dan jurusan itu semuanya di pilih oleh dirinya sendiri. Mereka hanya menyarankan, jika Leviana tidak mau mereka tidak akan memaksa. Dia ingat ayahnya pernah berbicara, 'selagi itu baik, apa yang enggak?' betapa beruntungnya Leviana hidup di keluarga ini.
"Iya, Mama, Mama yang terbaik. Love you, Mom!"
"Lihat Nath, masih keliatan manja 'kan? Cuma kamu doang yang tau segalanya tentang Levi, si Aldo mana tau."
"Mama!" tegur Leviana lagi.
"Iya, Tante, cuma Nathan yang tahu apa pun tentang Levi karena Levi percaya sepenuhnya sama Nathan."
***
Nathan masuk ke dalam apartemennya dengan langkah gontai, seperti tidak ada rasa semangat dalam hidupnya. Dia membaringkan tubuhnya di kasur, mencari-cari posisi nyaman untuk beristirahat. Melupakan Leviana dalam hidupnya itu mustahil untuk dilakukan. Seperti orang yang terobsesi, Nathan memajang semua foto-foto kebersamaannya dengan Leviana. Dari zaman SMA sampai saat ini, Nathan mencintai Leviana. Dia ingat, saat masa orientasi siswa dia mulai menyadari kalau dirinya mulai mencintai Leviana. Sudah lama sekali, cinta ini, semakin lama semakin berkembang.
"Bertahun-tahun aku udah ada di samping kamu, tapi sedikit pun kamu gak ngerasain apa yang aku rasain," gumam Nathan bangkit dari posisi tidurnya. Kakinya melenggang berjalan menuju bingkai foto yang terpajang di meja.
Di foto itu terlihat Leviana kecil sedang berusaha naik ke pundak Nathan. Di tangan kecilnya ada cone es krim yang sudah kosong, kalau di lihat lebih detail sisa es krim itu ada di baju kaosnya. Tanpa sadar kedua sudut bibir Nathan terangkat, dulu Leviana tidak bisa ditinggalkan sehari pun olehnya. Dulu, bagi Leviana, dirinya adalah segalanya. Setelah mengenal cinta, ketergantungan akan dirinya lambat-laun menghilang. Mungkin saja jika dirinya pergi, Leviana tidak akan sedih.
"Siapa pun cowoknya, aku akan coba ikhlaskan tapi tolong Lev ... jangan Aldo," ucapnya seolah Leviana di dalam foto itu hidup dan sedang mendengarkan ucapannya.
Aldo itu pria gila dan pria gila tidak cocok dengan wanita seperti Leviana. Seharusnya Aldo masuk saja ke rumah sakit jiwa. Aldo terobsesi pada Raira, wanita yang hampir Aldo perkosa. Entah di mana otaknya saat ini, gila saja memperkosa orang dari keluarga yang dipandang tinggi.
"Raira," gumamnya pelan. Dia mengambil handphone-nya, dan langsung menstalker akun sosial media Raira—wanita yang sangat dicintai Aldo. Tidak lama, akun itu muncul di pencarian teratas. Setelah memastikan akun itu milik Raira, barulah dia menekan tanda pesan.
Raira Bhatia'C : Selamat Malam, saya Nathan Ferlandes bisa kita bicara pribadi?