Bab 5

1566 Kata
“Nah, sifat aslinya kebuka ‘kan? Kok tingkahnya kayak monyet?” Tidak salah teman Leviana berkata demikian, pasalnya Leviana tidak berhenti-berhenti tersenyum dan memamerkan cincin yang terpasang di jari manisnya. Meloncat bak anak kecil, semua orang hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ikut senang sekaligus khawatir akan kondisi Leviana. Setelah pertunangan Leviana dilangsungkan, para pria yang mengagumi Leviana merasa sedih dan mencap hari pertunangan Leviana sebagai hari patah hati untuk pengagum Leviana, si putri kesayangan. Banyak yang tidak tahu, siapa itu Aldo. Awalnya mereka—si pengagum Leviana—tidak menerima, tidak hanya mereka bahkan teman-teman Leviana pun tidak terima Leviana menikahi Aldo karena mereka tidak tahu wajah Aldo seperti apa, mungkin saja jika tahu Aldo masih mencintai mantannya mereka mendemo agar Leviana tidak menikahi pria itu. Bagi Leviana, semua orang yang ada di kantor milik Nathan adalah keluarganya. “Ya Allah Lev, cicinnya gak bakal lepas. Jangan sampai mata kamu keluar,” sindir Vanya pedas, sejujurnya Vanya ikut sebal dengan tingkah sahabatnya yang kelewat menyebalkan. Mentang-mentang sudah bertunangan, Leviana menjadi seperti ini. Entah bagaimana jika sudah menikah, bisa-bisa wanita itu benar-benar gila, bahkan Vanya pun bisa gila berada di dekat Leviana. “Cicinnya bagus ‘kan, Van? Aldo sendiri lho yang masangin cincinnya,” cerita Leviana histeris, tatapannya masih tertuju pada cicinnya. Tangan kirinya terangkat ke sana kemari, membiarkan cicinnya terlihat oleh semua orang. “Terus kalau bukan calon suami kamu, siapa lagi Leviana cewek cantik jelita. Image kamu di mana?” tanya Vanya gemas, gatal ingin mencuri cicin di jari Leviana lalu menjualnya ke toko perhiasan. “Aku gak jaga image kok, aku emang begini. Apa kamu aja yang belum kenal aku?” Eh, kok? Vanya gelagapan, bisa-bisa dia dicap sebagai sahabat buruk yang tidak mengenal sahabatnya sendiri. Dalam waktu dua tahun seharusnya Vanya bisa mengenal Leviana dengan baik bukan? Tentu saja, Vanya mengenal Leviana. Hanya saja, tingkah Leviana sedikit ... lebay. “Ini es teh manis, spesial untuk Neng Levi.” Seseorang tiba-tiba datang membawakan segelas es teh manis ke meja Leviana. Iis, penjaga kantin kantor di perusahaan Nathan. Biasa, karyawan di sini memanggilnya dengan panggilan Teh Iis. Usianya kira-kira 24 tahunan, sangat ramah kepada semua orang kecuali Vanya. Bagi Iis, Vanya adalah wanita yang patut dihindari, pasalnya wanita itu sering meminta makanan gratis di kantin. “Makasih banyak Teh Iis,” ucap Leviana sambil menunjukkan senyuman manisnya, sementara Vanya—wanita itu—memberengut kesal. “Teh, kok saya gak dibikinin? Masa Cuma Levi? Parah banget jadi penjual kantin,” protes Vanya, bibirnya maju beberapa centi ke depan. Leviana terkekeh, dia mengambil pancake lalu menempelkannya di bibir Vanya membuat Vanya makin sebal. Melihat itu, muncul gelak tawa dari Teh Iis. “Emang laknat, laknat banget kalian,” ketus Vanya marah, lebih tepatnya berpura-pura marah. Jika seandainya ada orang marah, biasanya langsung pergi meninggalkan tempat ini beda halnya dengan Vanya, wanita itu melahap habis pancake yang dipesan Leviana. Kekuatan orang lapar memang berbeda. “Kamu gak pesen, ya gak saya bikinin. Gimana si, saya juga jualan butuh duit buat makan. Saya bingung, kamu kerja masa iya kamu gak ada duit? Ngutang mulu kerjaannya,” cibir Teh Iis kesal. Tidak hanya di tempatnya Vanya menjadi langganan mengutang, di tempat lain pun begitu. Di kehidupan saat ini segala sesuatu membutuhkan uang. Makanan di dapat tidak bisa dibayar dengan satu kedipan mata, tidak hanya Vanya mentang-mentang cantik bertubuh modis membayar makanan dengan kedipan mata. Hanya Leviana yang mau berteman dengan Vanya, menerima segala kekurangan Vanya. “Pesenin satu, Teh, buat Vanya,” pesan Leviana lagi dan Vanya langsung melotot. “Aku punya utang banyak banget sama kamu, Lev. Aku jadi ngerasa gak enak hehehe.” “Hehehehe! Gak enak tapi tetep diserobot!” sindir Teh Iis melenggang pergi menyiapkan pesanan Leviana. Vanya menatap punggung Teh Iis, menunggu wanita itu pergi menjauh. “Teh Iis makin ke sini makin nyinyir ya? Padahal kemarin utang aku udah dibayar,” bisik Vanya, memunculkan bibit-bibit bahan gosip. Tubuhnya mencondong, mendekat ke arah Leviana tapi sesegera mungkin Leviana mendorong tubuh Vanya pelan. “Jangan gosip,” tegur Leviana. Vanya berdecak sebal. “Nih, dengerin ya, kalau orangnya masih ada di depan mata kita itu bukan gosip. Salah siapa dia gak denger, jadi ... ya, gak dosa dong?” Leviana menatap Vanya intens. “Jadi, kalau Teh Iis denger gak papa?” “Ya gak papa dong, dia kan nyebelin. Masa kamu doang yang dikasi minum, seharusnya inisiatif. Panas-panas gini, pengennya ngamuk,” balas Vanya, mengipas-ngipaskan tangannya ke wajah, “gila. AC di sini mati ya? Pak Nathan gimana si.” Selain mengutang, Vanya mempunyai hobi lainnya seperti memaki, mengomel dan mencaci. Tidak tahu, sedari tadi Teh Iis berdiri di belakang Vanya. Teh Iis meletakan nampan di samping Vanya, membuat Vanya sontak terkejut. “Eh, Teh Iis? Hehehe.” Vanya tertawa kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Mau ngutang aja dibaikin, kalau gak dikasi aja diomongin di belakang. Mana masih muda, jelek amat sifatnya,” sindir Teh Iis pedas. “Udahlah, Teh. Tau sendiri ‘kan Vanya gimana,” sahut Leviana melirik Vanya, terlihat jelas sekali kekesalan di wajah Vanya. “Iya, bener atuh. Ngomong-ngomong Neng Levi, saya kira Neng Levi jadinya sama Pak Nathan tapi ternyata gak jodoh ya, jodohnya sama orang lain,” ucap Teh Iis setengah berbisik, mendekat ke arah Leviana. “Kepo amat sama urusan orang,” balas Vanya sambil mendelik, langsung saja mendapat sikutan dari Leviana “Dari mata nih ya, Pak Nathan itu suka sama Neng Levi. Jujur saya sebagai fans Neng Levi kecewa, setidaknya sama Pak Nathan yang udah pasti,” keluh Teh Iis lagi. Vanya melirik Leviana sekilas lalu beralih menatap Teh Iis. “Mulut Teh Iis minta digeplak ya? Jodoh itu Tuhan yang ngatur bukan Teh Iis, sembarangan aja.” Nathan memang mencintai Leviana, dan Teh Iis ternyata bisa melihatnya. Leviana seketika merenungkan sesuatu, persahabatannya dengan Nathan sampai saat ini masih baik-baik saja tapi bagaimana perasaan pria itu? Apakah Nathan masih menganggap Leviana sebagai sahabatnya atau malah wanita yang dicintainya? Sungguh, rumitnya hubungan ini. “Ye, tapi Pak Nathan serasi banget sama Neng Levi,” sanggah Teh Iis Masih mempertahankan argumennya. Seandainya tubuh Teh Iis ini moci, maka Vanya akan menarik-nariknya lalu memakannya sampai habis. Sedari tadi, Leviana merasa tak nyaman berada di pembicaraan ini dan Vanya mengerti itu. Dengan sangat lancarnya, Teh Iis malah terus menerus membicarakan soal Nathan. Vanya membuka handphone-nya lalu menunjukkan foto seseorang ke hadapan Teh Iis. “Mampus tuh, ganteng 'kan? Ini tunangan Leviana!” Teh Iis diam sejenak, memandang foto itu. “Aldo Altenza?” tebak Teh Iis. Leviana mengernyitkan dahinya bingung, sama halnya dengan Vanya. “Teh Iis tau?” “Aku aja gak tau nama lengkapnya Aldo,” gumam Vanya tak percaya. “Jadi tunangan Neng Levi, Aldo Altenza?” tanya Teh Iis meyakinkan dibalas anggukkan oleh Leviana, “Neng tahu dia pernah problem sama keluarga konglomerat? Katanya—“ “Teh!” potong Leviana berteriak, membuat semua yang ada di kantin kaget terlebih Teh Iis, “cukup, cukup kita aja yang tahu.” “Kenapa, Lev?” tanya Vanya khawatir. Leviana memijat pelipisnya, dia tidak menyangka Teh Iis tahu soal ini. Bisa saja, bukan hanya Teh Iis yang tahu tapi semua orang tahu masa lalu Aldo. Hidup Aldo begitu rumit, kenapa bisa pria itu terlibat dengan keluarga yang bisa melakukan apa pun dalam sekejap mata. “Cukup, jangan cari tahu lebih jauh. Nanti aku cerita ke kamu, Van tapi gak sekarang ya.” Leviana bangkit dari duduknya, menepuk bahu Vanya. “Sebentar lagi masuk, jangan sampe Pak Nathan lempar barang karena gak disiplin.” *** Sore ini, saat pulang kantor hujan turun dengan sangat lebatnya. Leviana meneduh di salah satu cafe yang jaraknya tak jauh dari kantor. Sambil menunggu hujan reda, Leviana memesan satu cangkir white coffe dengan roti cokelat hangat. Dari kursi tempat duduknya, dia memandang hujan dari balik jendela. Dalam hati, dia berdoa semoga tidak ada petir. Di sini, Leviana hanya sendiri, jika dia mendengar suara petir maka entah apa yang terjadi. “Lev?” panggil seseorang membuat Leviana mendongkak. Di sana ada seorang pria jangkung berdiri di jarak 3 meter dari mejanya, rambutnya basah kuyup menambah kesan kece pada pria itu. “Pak Nathan?” Kaget Leviana, dia bangkit dari duduknya. Ya, pria itu adalah Nathan, atasan sekaligus sahabatnya. “Nathan," koreksi Nathan, menarik kursi untuknya duduk, "di luar kantor, Lev. Jangan buat aku kesel ya." Leviana tertawa kecil. "Siap Pak Nathan," candanya. "Mau aku getok ya palanya?" ancam Nathan, membuat gumpalan dari tangannya bersiap memukul kepala Leviana. Walau Leviana tahu itu hanya candaan, tapi wanita itu berpura-pura meminta ampunan. Leviana lagi-lagi tertawa, merasa aman sekarang karena ada Nathan. Banyak pertanyaan berkumpul di benaknya, semuanya tentang Nathan. Pria tampan dan berwibawa itu sebenarnya bisa memiliki dan mencintai wanita lain yang lebih-lebih dari dirinya tapi kenapa Nathan malah mencintainya? Dan, kenapa dirinya tidak bisa mencintai Nathan, padahal pria itu selalu ada untuknya. "Kamu sengaja ke sini, Nath?" Pria itu mengangguk, mengambil cangkir berisi white coffe milik Leviana lalu menyeruputnya sampai habis. Sontak saja Leviana memekik kesal, sebagai pelampiasan Leviana memukul Nathan dengan tasnya. Bukannya meminta maaf, pria itu malah menyengir seperti anak kecil yang tak mengaku telah berbuat kesalahan. "Aku liat kamu ke sini, jadi aku ke sini." "Inget lho aku udah punya calon suami, Nat," ujar Leviana memperingatkan Nathan. Nathan mengangguk pelan. "Ya, tahu. Mana mungkin aku tidak tahu itu Leviana," balas Nathan melirik cicin yang tersemat di jari Leviana, "kamu gak bisa sendirian di tengah hujan deras kayak gini, apalagi ada petir. Aku gak bisa biarin kamu syok dan ...," lanjutnya menggantung. "Dan apa?" "Dan sakit. Nanti kamu gak kerja, inget kerjaan kamu numpuk. Biasa jadi karyawan teladan sekarang malah sebaliknya, bucinnya kurangin kalau ada di kantor, bikin aku gatel pengen ngomelin kamu." Nathan perhatian, dari dulu pria itu sudah perhatian tapi ... kenapa Leviana susah sekali untuk jatuh cinta pada Nathan?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN