Hari ini adalah hari kesialan Leviana. Setelah dibentak-bentak Nathan, diusir Nathan dari ruangannya, kini dia ketahuan melamun saat bekerja. Seperti kesempatan emas Nathan langsung menariknya, membuat wanita itu segera fokus. Setiap ancaman yang diberikan oleh Nathan diterima Leviana dengan senang hati. Semakin Nathan memarahinya, Leviana semakin kesenangan. Kapan lagi ‘kan Nathan memarahinya? Setelah dia menikah nanti, dia akan jarang bertemu Nathan. Leviana dimarahi bukan karena disengaja, hanya orang bodoh saja yang mempermainkan pekerjaan. Sedari tadi Nathan mondar-mandir bak cacing kepanasan, sesekali berhenti menatap Leviana marah. Untuk menghormati atasan, Leviana hanya diam dengan kepalanya tertunduk. “Kamu sakit hati huh? Dimarahi saya?” tanya Nathan menghentikan langkahnya tep

