Mita kembali ke kampus dengan wajah berbinar-binar usai memeriksakan kandungannya di rumah sakit bersama Jefry. Sebelum mobil Jefry masuk ke area kampus, Mita meminta diturunkan di jalan terlebih dulu. Katanya, ia belum siap menjadi pusat perhatian. “Ya udah, kalau gitu aku masuk dulu.” Pamit lelaki itu kemudian. Beberapa menit setelah Jefry memasuki ruangan, Mita baru saja sampai. Perempuan itu tampak mengetuk pintu perlahan. “Masuk.” Kata Jefry mengkulum senyum. Tepat seperti perkiraannya. Lelaki itu pun mendongak, menatap perempuan kesayangannya yang kini sudah berdiri di hadapannya sambil memilin jari. “Emb… Pak, maaf saya telat.” Ucap perempuan itu layaknya seorang lakon wayang yang sedang memerankan drama dengan baik. Karena jelas, keduanya sama-sama tau dengan situasi yang seb

