“Aku anterin sampai sini aja ya,” Kama menghentikan motor matik yang dikendarainya di depan sebuah rumah bercat putih. Mita turun lalu berdiri di samping cowok itu.
“Yakin, nggak mau masuk dulu?” tanya Mita menawarkan. Sedangkan Kama tampak fokus melepas helm yang dipakai Mita.
“Nggak deh, aku mau langsung balikin motor ini ke pemiliknya.” Jawabnya sambil menyantolkan helm tersebut ke lengannya.
Disertai helaan napas berat, Mita pada akhirnya mengangguk. “Ya udah deh,” katanya dengan bibir mengerucut. “Tapi kamu sering-sering dong, main kesini, biar aku nggak dianggap jomblo sama ibu bapakku.” Gerutunya menahan lengan Kama. Seolah tak rela cowok itu akan pergi begitu saja.
“Iya…” balas Kama kembali mengusap puncak kepala Mita, membuat gadis itu merasa menjadi gadis paling beruntung.
“Janji ya,” kata Mita lagi dengan senyum lebarnya, yang selalu membuat Kama candu.
“Iya…” Kama balas tersenyum lebar, kemudian men-starter motornya dan segera melesat tak lupa melambaikan tangannya pada Mita hingga kemudian dia pun menghilang dari pandangan.
Aroma harum, serta lezat menyapa ruang penciuman Mita begitu gadis itu menginjakkan kedua kakinya dalam rumah. Instingnya membawa kedua kakinya untuk melangkah menuju dapur. Disana tampak Mak Anggi dibantu oleh dua saudaranya memasak banyak sekali makanan.
“Banyak banget Mak, masaknya, mau ada arisan?” tanya gadis itu seraya menyomot gorengan lalu menggigitnya, bahkan lupa jika saat ini sedang kesal dengan ibunya.
“Iya nih, mau ada arisan.” Jawab Bi Mawar, adik bungsu Mak Anggi yang saat itu terlihat sedang sibuk menata makanan ke piring saji.
“Arisan sama calon besan,” sambung Bi Azizah, si anak tengah sambil mengerlingkan kedua alisnya, naik turun, menatap Mita dengan senyum jahilnya. Spontan, pernyataan Bi Azizah membuat Mita terbatuk-batuk.
“Maksudnya?” tanya Mita masih dengan mulut sibuk mengunyah.
“Keluarga Jefry mau datang, katanya sih mau ngasih simbolis kecil-kecilan, alias mau ngiket kamu, biar kamu nggak kabur-kaburan.” Jawab Mak Anggi berjalan dari arah dapur sambil menenteng kue yang baru di keluarkan dari oven.
“Lamaran maksudnya?” tanya Mita lagi, terkejut. Sambil menelan salivanya susah payah.
“Ya, gitu deh.” Jawab Mak Anggi lagi. Dua bola mata Mita yang tadi membulat terlihat semakin melebar.
“Udah berapa kali Mita bilang. Mita nggak mau nikah sama si duda!” raungnya, sampai menciptakan gema diseluruh ruangan.
“Ini sudah menjadi kesepakatan. Kamu nggak bisa nolak!” balas Mak Anggi tak kalah tegas.
“Nggak! Mita lebih baik pergi dari pada harus nikah sama dia.” Mita kembali berteriak dengan suara yang lebih keras. Napasnya bahkan tampak naik turun, dan tatapan matanya penuh kemarahan.
“Mita! Jangan macem-macem kamu. Kamu mau bikin emak sama bapak malu.” Seru Mak Anggi yang juga tersulut emosi. Bi Mawar yang berdiri tak jauh dari sana tampak menghampiri Mak Anggi, mengusap kedua bahu perempuan paruh baya itu, menenangkan.
“Mita, jangan keras kepala gini, orangtua kamu ngelakuin semua ini itu demi kebaikan kamu, mereka nggak mau kamu terus-terusan digosipin sebagai perempuan nggak bener sama tetangga.” Bi Azizah turut buka suara.
“Biarin aja. Yang penting, kan Mita nggak ngelakuin perbuatan itu.” katanya lagi. “Merekanya aja yang nggak tau kejadian yang sebenarnya itu gimana, main tuduh gitu aja.”
“Iya… kami percaya sama kamu.” sahut Bi Mawar. “Tapi, gimana dengan orang-orang yang mulutnya nggak bisa berhenti nyinyirin kamu. Orangtua nggak akan bisa kalau nggak kepikiran.” Tuturnya lembut.
“Niat ibu Salamah itu baik, Mit. Beliau mau nikahin kamu sama anaknya supaya kalian berdua terbebas dari yang namanya fitnah.” Bi Azizah menambahkan. “Ingat, gimana kejadian kamu waktu ke-gep warga.”
“Mita nggak peduli! Yang jelas, waktu itu Mita sama Bang Jefry nggak ada niatan mau m***m. Kejadian itu murni kecelakaan.” Mita kembali menjelaskan kejadian yang terjadi beberapa waktu lalu. “Lagian Mita juga nggak mungkin bisa nutup mulut mereka yang suka nyinyirin Mita satu-satu. Jadi ya udah, biarin aja mereka nyinyirin Mita sesuka hati mereka. Yang penting Mita nggak seperti itu. Mita nggak ngelakuin apa-apa sama Bang Jefry.” Mita menegaskan sekali lagi.
“Tapi, Mit,”
“Nggak ada tapi-tapian.”
Setelah mengatakan itu, Mita lantas berlari ke kamarnya, kemudian segera mengambil beberapa setel baju dari dalam lemari dan memasukkannya secara asal ke dalam ransel. “Sebelum semuanya terlambat, aku harus kabur dari sini secepatnya.” Gumamnya.
***
Petang ini, Jefry harus terjebak macet saat pulang dari kantor, karena di jalan depan sana sedang terjadi laka lantas. Berkali-kali, dia tampak menghela napas panjang. Jemari tangannya tampak mengetuk-ngetuk setir kemudinya. Bosan. Sambil sesekali mengusap wajahnya yang terlihat lelah.
Di luar dugaan. Pengendara sepedah motor yang tengah melaju dari arah belakang tidak sengaja menyenggol badan mobil sehingga membuat pengemudi dan penumpangnya terjatuh. Jefry segera turun untuk memeriksa.
“Aduh sayang, kamu nggak pa-pa?” tanya si pengemudi motor yang tampangnya terasa tidak asing lagi bagi Jefy, pada penumpang perempuan sambil menegakkan lagi motor yang tadi terguling di jalan.
“Kaki aku sakit banget.” Jawab si perempuan sambil memegangi lututnya yang tampak berdarah.
Si pengemudi dengan cekatan membantu memapah si perempuan itu untuk berdiri lalu membawanya ke bahu jalan untuk beristirahat. “Nih, kamu minum dulu.” Si pengemudi kembali menyodorkan botol air mineral pada si perempuan.
Di sisi lain, Jefry tampak memperhatikan interaksi keduanya yang terlihat begitu akrab sambil mengingat-ingat wajah si pengemudi motor tadi.
“KAMA!”
Ya benar. Dia adalah Kama, cowok yang baru beberapa jam dilihat oleh Jefry bersama Mita di kafe. Kama. Lalu siapa perempuan ini? Jika Kama adalah kekasih Mita, apa boleh, Kama berteman dengan seorang perempuan sedekat dan seakrab itu?
Saat Jefry tengah sibuk dengan pikirannya sendiri, seorang gadis dengan tas ransel di punggungnya muncul, mendorong keras tubuh perempuan yang dipanggil dengan sebutan ‘sayang’ oleh Kama hingga terjatuh.
“Mita! Kamu apa-apaan sih!” Kama balas mendorong tubuh Mita menjauh dari perempuan itu. “Sayang, kamu nggak pa-pa?” tanya Kama lagi, membuat Mita semakin tidak mengerti dengan situasi yang dihadapinya saat ini. Bukankah, harusnya yang dipanggil ‘sayang’ oleh Kama itu dirinya?
Apa mungkin?
Tangan Mita terasa gemetar saat ingin menepuk punggung cowok itu demi mendapatkan atensinya. “Kama,” panggil Mita dengan volume suara yang sudah diturunkan. Namun, sungguh di luar prediksi Mita. Kama balas membentaknya.
“APA!” serunya marah.
Sangat tidak biasa Kama bersikap kasar seperti ini. Mita semakin yakin, pasti ada apa-apa diantara mereka berdua.
“Kenapa kamu marah? Kenapa kamu belain dia? Dan kenapa kamu manggil dia dengan sebutan sayang?” Mita melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sudah berseliweran di kepalanya. Tidak sabar menunggu jawaban Kama.
Cowok itu tampak gelagapan saat ini. Tingkahnya terlihat sangat aneh. Bahkan, Kama yang biasanya pandai bicara jadi kesulitan mengeluarkan kata-kata.
“Kamu duain aku?” pertanyaan yang sejak tadi ditahan oleh Mita pun keluar begitu saja dari mulutnya.
“Mita, dengerin aku,” mohon Kama, ingin meraih tangan Mita namun segera di tepis oleh gadis itu dengan cepat.
“Jawab dulu pertanyaan aku, satu persatu.” Mita menegaskan. Fokus matanya tak bergerak sedikit pun dari wajah Kama, dia menunggu jawaban dari cowok itu.
“A-aku nggak bermaksud marah sama kamu, tapi sikap kamu tadi itu sudah keterlaluan banget.” Balas Kama, tak berani menatap mata Mita.
“Itu wajar.” Katanya lagi. “Semua cewek juga pasti ngelakuin apa yang aku lakuin kalau melihat cowoknya lagi meluk-meluk cewek lain.” Ujarnya.
“Ya, itu karena kamu nggak lihat, lututnya Vina terluka gara-gara jatuh dari motor tadi.” Balas Kama mencoba menjelaskan. “Aku cuma mencoba nenangin dia, aku nggak ada hubungan apa-apa sama dia,” ujarnya.
Disisi lain, Vina tampak mengernyitkan kening. Lalu mencoba berdiri meski lututnya masih terasa sakit, dan menarik pundak Kama supaya bisa menatapnya. “Kama, maksud kamu ngomong kayak gitu apa?” tanyanya.
“Heh! Cewek caper. Nggak usah narik-narik cowok aku.” Sembur Mita sambil menarik tangan Kama mundur. Tak mau perhatian cowok itu terbagi pada gadis lain.
“Nggak usah ngaku-ngaku. Kama ini cowok aku. Pacar aku.” Balas Vina tak mau kalah, lalu menarik lagi Kama padanya.
“Kamu yang harusnya tau diri. Aku pacaran sama Kama sudah dari lama, dia bahkan sudah janji mau nikahin aku.” Keukeuh Mita. Berdiri angkuh, sambil melipat kedua tangannya di depan d**a.
“Huh!” Vina tampak tersenyum miring, sambil memutar kedua bola matanya malas. “Jangan mimpi deh, jangan kemakan janji juga. Kamu nggak lihat Kama masih kuliah. Mana bisa main nikah gitu aja.” Ujarnya.
“Setelah lulus dan punya pekerjaan yang baik, Kama bakal nikahin aku.” Terangnya yang kemudian dipotong dengan cepat oleh Vina.
“Dan sebelum semua itu terjadi, aku bakal pastiin kalian berdua putus.” Katanya menyulut emosi Mita kian meletup-letup.
“Nggak akan.” Kata Mita yakin.
“Kita lihat aja, diantara kita berdua, siapa yang dipilih oleh Kama.” Balas Vina berusaha membalik keadaan, dengan menyudutkan posisi Mita.
“Kama. Sekarang juga kamu pilih. Aku, atau dia?” tanya Mita pada Kama, tanpa berpaling dari wajah Vina.
“Mita, aku mohon dong, kamu jangan kayak gini, aku minta maaf karena aku sudah duain kamu, aku bakal jelasin alasannya.” Ucap Kama memelas.
“Tinggal pilih aja apa susahnya sih?” sungut Mita tak sabar.
“Berat, Mita.” Ucapnya menggaruk belakang kepalanya. Bingung.
“Jawab!” tegas Mita sekali lagi.
“Mita, aku beneran sayang sama kamu. Aku cinta sama kamu, tapi aku nggak bisa ninggalin Vina gitu aja.” jelasnya.
“Itu bukan pilihan, Kama. Itu egois namanya,” katanya lagi, “kalau kamu memang cowok sejati kamu harus bisa menentukan pilihan kamu sendiri. Saat ini juga.” Tambahnya begitu yakin. Kama tampak terdiam dengan pikiran berkecamuk.
“Kenapa diem aja?” tanya Mita bersungut-sungut. “Kasih tau aku, alasannya kenapa kamu nggak bisa ninggalin Vina?” Mita menambahkan.
“Aku bakal kasih kamu alasannya, tapi bukan sekarang.” Jawabnya.
Sungguh. Mita sungguh kecewa dengan jawaban Kama barusan. Mana bisa seperti itu? Apa Kama tidak pernah memikirkan perasaan Mita, jika mereka terus bersama sedangkan Kama sendiri tak bisa melepaskan Vina? Kenapa tidak langsung memilih Vina saja, dari pada harus menyakiti perasaan Mita dengan cara mempertahankannya.
“Sampai kapan pun, Kama nggak bakal bisa ninggalin aku.” kata Vina merasa sangat puas, melihat kekalahan Mita.
“Mit,” Kama mencoba menarik Mita demi mendapat atensi gadis itu lagi.
“Aku kecewa sama kamu.” hanya kalimat itu yang bisa Mita ucapakan sebelum pada akhirnya dia memilih pergi. Kelewat kecewa.
Namun, saat Mita hendak meninggalkan tempat itu, sebuah tangan menahan pergelangan tangannya. Siapa lagi kalau bukan Jefry yang sejak tadi hanya berdiri di belakang Mita, berperan sebagai penonton. Tanpa Mita sadari.
Lelaki itu kemudian berjalan menghampiri Kama, masih dengan menggenggam tangan Mita, berdiri dengan tatapan tajam tepat di depan cowok itu. Kemudian, lelaki itu pun mengatakan sesuatu yang sangat mewakili perasaan Mita.
“Kalau pilihan ini terlalu berat buat kamu, hanya karena kamu nggak bisa ninggalin cewek itu tanpa alasan yang jelas, biar Mita yang pergi ninggalin kamu untuk selamanya.” ujarnya dan lantas menarik tangan Mita lalu membawanya pergi dari sana.